I Hate You!

I Hate You!
Eps 19: Maaf


__ADS_3

Sahlan terbangun dari tidurnya saat tersadar hari yang hampir melewati petang. Saat ia tersadar, ia melihat selimut yang menutupi tubuhnya kemudian sepatu yang tidak digunakannya. Ini berarti bahwa ada seseorang yang membuka sepatu itu dari kakinya.


“Hana ....” Sepintas nama itu yang berada di dalam pikiran Sahlan, dilihatnya waktu yang telah menunjukkan pukul 18.00 sore. Ia segera terbangun dari sofa dan bersiap-siap untuk memasak sebagai makan malam Hana dan juga dirinya.


Namun, alangkah terkejutnya Sahlan saat menemukan Hana yang berada di dapur tengah sibuk memasak. Hana fokus memasak hingga tidak menyadari keberadaan Sahlan.


Dari gelagat yang dibuat oleh Hana dalam cara memasaknya, membuat Sahlan menaruh curiga. Banyak sekali pertanyaan yang timbul dari benaknya, Hana pintar memasak tapi mengapa ia justru menunjukkan kebodohan memasaknya di hadapan Sahlan sendiri?


Sahlan mengintip dari dinding dalam memerhatikan Hana. Rasa jengkel di hatinya, perlahan hilang saat melihat Hana memotong bawang.


“Cantik!” ucap Sahlan sendiri tanpa sadar.


...


“Astaghfirullahaladzim!” Sahlan beristighfar saat terdiam lama memikirkan Hana. Ia bingung akan perasaannya ini, benar-benar membuat dirinya gundah dan gelisah. Mengapa saat keduanya bertengkar, justru malah dirinya lebih sering melamun memikirkan Hana.


Tidak lama setelah dirinya beristighfar, dirinya justru berubah menjadi tersenyum. Sahlan menghampiri Hana dengan langkah yang sedikit ragu.

__ADS_1


Ekhem!


Sahlan berdeham untuk mengalihkan perhatian Hana. Hal ini justru membuat Hana terkejut akan kedatangan Sahlan di dapur.


“Mau abang, tolong?” tanya Sahlan tulus.


Hana terdiam sesaat lalu berkata, “Bantu Hana mengaduk chicken di kuali tu,” jawab Hana ragu.


Sahlan menurut dan membantu apa yang diperintahkan istrinya. Setelah berkutat dengan dapur selama beberapa menit akhirnya hidangan yang dinanti keduanya masak jua.


Hana melihat jam di tangannya, “Abang mandi dulu, biar Hana rapikan meja untuk kita makan nanti.” Hana memberitahukan pada Sahlan yang disambut anggukan.


Di saat makan malam keduanya tiba, Sahlan melihat menu yang kali ini dibuat 99% oleh Hana dan dirinya hanya sedikit membantu apa yang diperintahkan. Sahlan mulai menyuap makanan ke dalam mulutnya, “enak!” puji Sahlan terhadap masakan istrinya.


“Makasih,” balas Hana memalingkan wajahnya karena malu.


“Abang betul-betul tak sangka yang Hana sebenarnya pandai memasak. Kenapa Hana selama ini tunjuk ke Abang bahwa Hana tak pandai dalam hal memasak?” tanya Sahlan mengajukan pertanyaannya yang sejak tadi dipendamnya.

__ADS_1


“Hana memang pandai. Hana cuma menguji apa respon abang saat tahu Hana tak pandai memasak,” sahutHana seraya menyuap makanan ke mulutnya.


Sahlan yang mendengar akan pengakuan dari Hana, hanya mampu menggelengkan kepalanya heran. Ternyata hubungan keduanya masih belum kuat akan ikatan kepercayaan satu sama lain. Inikah hubungan Sahlan dan Hana sampai membuat Hana meragukan dirinya sebagai suami.


Sahlan sebenarnya ingin merasa marah dan kesal, namun hal itu diketepikan setelah dirinya juga menyadari bahwa mau bagaimana pun, Hana masih belum mengenal dirinya sepenuhnya. Namun Sahlan yakin seiring berjalannya waktu ia dan Hana pasti akan memiliki kepercayaan dan juga keterikatan hubungan yang saling membutuhkan satu sama lain layaknya suami istri.


Sahlan benar-benar tidak ingin terjerumus akan dosa apabila tidak mempedulikan Hana yang merupakan istrinya sendiri.


“Maaf, Han!” mohon Sahlan tiba-tiba.


“Buat apa?” tanya Hana menatap Sahlan.


“Sebab buat Hana marah kemarin, suer abang tak berniat untuk Hana marah,” ujar Sahlan yang membuat Hana menahan tangisannya.


“Maaf, Abang. Hana yang salah, bukanlah salah abang! Hana kemarin malam kesal saja dengan abang yang tak balik pulang untuk temankan Hana di rumah, itu aje.”


“Namun, Hana tak sangka dengan Hana kesal dengan Abang justru Hana yang berdosa. Semestinya Hana tak buat macam ini kan ke Abang. I'm so sorry!” lanjut Hana meminta maaf.

__ADS_1


“Eh, tak perlu. Kita saling sedar pun abang dah puas, yang Hana tak payah nak meminta maaf, abang pun salah juga.” Sahlan tersenyum lembut dan diikuti oleh senyuman Hana.


Makan malam keduanya dilanjutkan dengan perasaan lega, kini keduanya telah saling memaafkan dari hal lalu yang telah terjadi.


__ADS_2