
Setelah cukup lama berbual dengan Bu Indah, akhirnya ibu-ibu yang satu ini memutuskan kembali ke rumahnya dengan menjinjing oleh-oleh di tangannya yang diberi oleh Sahlan.
Tidak menyangka bahwa Bu Indah berkunjung ke rumahnya hingga sore hari. Hana melihat Sahlan tengah di dapur sejenak mengintipnya yang sedang memasak sesuatu. “Abang tengah masak apa? Hana mandi saja lah,” batin Hana yang ternyata tidak membantu sang suami.
***
Setelah makan malam, Hana duduk menyaksikan televisi di depannya sambil mengunyah keripik di dekatnya.
Sahlan yang baru keluar dari kamarnya membawa laptop dan menghampiri Hana. “Ini laptop kepunyaan abang, boleh apabila Hana mahu pakai.”
Hana menoleh dengan wajah tersenyum gembira. Ia berkata, “Woaaaaa, serius ke nih? Arigato, Bang!”
“Yelah, sama-sama. Gunakan hal yang berfaedah, tau!” tegas Sahlan masih dengan nada lembut.
“Okay, Bang. Hana mau masuk kat dalam dulu,” sahut Hana, “televisi jangan dipadamkan, tau! Nanti Hana mau sambung tengo film yang Hana suka.”
“Ha'ah, abang pun sambil nak rasakan keripik yang sejak tadi asyik Hana makan.” Sahlan duduk dan meraih tupperware yang berisikan keripik.
__ADS_1
“Eh, jangan habiskan keripik Hana, abang rasakan sikit aje lah, ya!” seru Hana dari bilik kamarnya.
Saat Hana menyalakan laptop milik Sahlan, ia begitu terkejut begitu melihat wallpaper laptop suaminya.
“Siapa ini?” batin Hana bertanya akan gambar seorang wanita yang menjadi wallpaper laptop milik Sahlan.
Belum lama Sahlan duduk, Hana menghampirinya dengan membawa laptop di tangannya.
“Bang!” panggilnya.
“Apa ni?”
Bukannya menjawab, Hana justru balik bertanya pada Sahlan dengan menyodorkan laptop kepadanya. Sahlan yang mengerutkan alisnya heran akan maksud dari Hana, menurut akan apa yang ditunjukkan oleh Hana.
“Oh,” balas Sahlan yang akhirnya mengetahui apa yang dimaksud Hana, “ini Dahlia, pacar Abang masa belum berkahwin dengan Hana.”
“Pacar?” tanya Hana mengulang.
__ADS_1
“Iya,” jawab Sahlan lagi dengan tenang.
Tersirat sedikit perasaan yang menusuk Hana, namun disembunyikan olehnya. “Ouh, oke. Tapi wanita ini dah tau kalau abang dah berkahwin dengan Hana?”
“Belum, abang akan jumpa dengan dia esok. Abang dah kirim mesej kat dia, bahwa abang nak jumpa, dia jawab ‘iya. Abang nak bagi tau sejelas-jelasnya kalau perkahwinan kita ni cuma sebatas status, abang akan lepaskan Hana dari abang jika Hana dan Abang rasa waktu yang pas.”
“Untuk problem keluarga, abang akan bagi tau jelasnya saat waktunya tiba. Abang tau Hana tak mahukan suami macam abang, jadi abang akan lakukan hal tu saat Hana lulus nanti. Sebelum masa kelulusan Hana pula, abang akan lindung Hana. Anggaplah abang ini saudara Hana,” lanjut Sahlan dengan ekspresi dingin.
Huft ....
Walaupun tengah berbicara dengannya, namun Hana tau bahwa pikiran Sahlan berada di tempat lain. Itu yang tidak ia ketahui, akan pikiran dan tujuan hati Sahlan yang sebenarnya.
Seperti apa yang dikatakan oleh Sahlan pada Hana, keesokan harinya ia benar-benar pergi untuk bertemu Dahlia. Entah mengapa Hana merasa gelisah melihat Sahlan yang akan bertemu dengan Dahlia, sepintas hatinya terasa terbakar, namun ia tidak tau akan maksudnya. Di rumah ia hanya berada di kamar dan rebahan, seraya menerawang langit kamarnya dengan isi pikiran yang berkelana entah ke mana.
Libur sebentar lagi usai, dan ia tidak tau akan apa yang dialami olehnya nanti di masa depan. Bersama Sahlan dengan status suami dan guru dalam hidupnya.
“Kyaaaaaa! Dahlia tu secantik apa wajahnya, lagi cantik dari Hana ke?!” jerit Hana di dalam kamarnya penuh dengan rasa gelisah.
__ADS_1