
“Kita tidak pulang langsung lah ya? Saya ada kerja sikit kat office, tadi sebelum pulang Andrian ada call meminta saya bersegera ke kantor. Kamu nggak keberatan kalau ikut saya ke kantor?” tanya Sahlan yang membuat Hana sedikit kaget.
“Kenapa pula tidak pulang dulu ke rumah? Penting sangat ke? Saya ni malu bila berpakaian seragam macam ini,” tunjuk Hana akan tubuhnya yang masih berseragam sekolah.
“Masih pakai baju lagi, kalau tidak—barulah awak malu. Inikan tidak,” balas Sahlan berekpresi datar namun membuat Hana mencebik.
“Porahlah,” desis Hana dan memilih memejamkan matanya selagi dalam perjalanan.
Sahlan yang melihatnya—tersenyum dan menepuk lembut pucuk kepala Hana yang telah terlelap.
Satu jam telah berlalu dan kereta yang telah dipandu kini berhenti. Tentulah hal itu membuatkan Hana terbangun dan mengusap matanya menyadarkan dirinya ke dunia nyata.
“Sayang dah bangun?” suara lembut Sahlan pada Hana dengan senyumannya.
__ADS_1
“Sudah,” jawab Hana dan mulai melihat sekitar mereka dari dalam kereta. Tampak sebuah bangunan besar yang tentunya office milik suaminya. Perusahaan eksport luar negara yang masih belum seberapa namun telah membanggakan dirinya akan jerih payah suaminya. Tidak hanya itu ternyata bangunan ini dekat pula dengan pelabuhan di mana tentunya eksport dilakukan dengan jalur laut. Boleh tahan pemandangan sini, gumam Hana di hatinya akan lingkungan yang menyedapkan matanya.
“Bersedia ikut saya keluar?” panggil Sahlan lagi yang menyadarkan lamunan Hana.
“Sekarang?” tanya Hana kaget, “Saya malu, banyak orang ke dalam office awak?”
“Tak adalah banyak, bukannya bisnes saya ini ramai tapi masih dalam proses perkembangan. Dahlah, mari!” ajak Sahlan yang langsung keluar dari keretanya dan membukakan pintu bagi Hana untuk ikut dengannya.
Sahlan berjalan santai dengan satu tangan memegang gadget dan yang sebelah menggenggam jemari Hana yang mengikutinya dari belakang dengan menunduk.
Begitu berada di lift Hana mulai mengajukan pertanyaannya, “Pelik sangat ke pakaian saya?”
Sahlan mengernyit dan mulai meneliti pakaian Hana dari atas ke bawah. “Tak ada,” jawabnya singkat masih dengan mengernyitkan alis.
__ADS_1
“Kalau tak pelik kenapa pula orang-orang tadi tatap saya macam nak terkam!” tampik Hana akan jawaban dari suaminya.
“Betullah, tiada apa-apa hal yang pelik dari awak. Tapi, kerana baju awak kot?”
“Hisy, kan betul saya cakap tadi kalau pakaian saya ini tidak bersesuaian. Saya nak balik lah!” pinta Hana yang merasa rendah kerana pakaiannya. yang belum berganti.
“Tak apalah, bukannya sering sayang kemari kan? Hari ini tak apalah ya?” pujuk Sahlan yang membuat Hana hanya cemberut namun karena ciuman di keningnya yang diberikan Sahlan membuat ia kembali tersenyum ria.
Berada di lantai 25 akhirnya lift berhenti, di sinilah puncak dari bangunan yang tadi dilihatnya dengan kagum.
Begitu keluar dari lift, Sahlan langsung melajukan kakinya dengan masih setia menggenggam jemari Hana di tangannya. “Andrian!” panggil Sahlan begitu melihat seorang pemuda yang pernah ditemui Hana waktu itu.
Hana mulai menampakkan wajahnya begitu Sahlan menyebutkan nama pemuda yang nombornya ada di handphonenya.
__ADS_1
“Ehh ada gadis SMA nan cantik kat sini?!” seru Andrian yang kaget bercampur senang akan kedatangan wanita yang diketahui adalah sepupu dari rakan yang juga bosnya.