I Hate You!

I Hate You!
Eps 4: Breakfast With You


__ADS_3

Suara adzan subuh yang bergema terdengar sampai ke telinga Hana, membuatnya terbangun untuk segera melaksanakan salat atau ibadah kepada satu-satunya Tuhan bagi seluruh umat muslim yaitu Allah Subhanahu Wa Ta'ala.


Kamar mandi di rumah ini sengaja hanya disediakan satu buah sesuai dengan rancangan dari arsitek rumah ini. hal ini pun membuat Hana keluar dari kamarnya dan menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu.


Saat Hana hendak berwudhu di kamar mandi yang terletak di dekat dapur itu, ternyata Sahlan juga tengah berada di dalam kamar mandi sama seperti yang dilakukan oleh Hana.


“Bang! Lama sangat ni, Hana pun juga nak sembahyang, lah. Cepatlah, Bang!” seru Hana dari balik pintu kamar mandi dengan tidak sabar.


Sahlan yang mendengar seruan dari Hana pun akhirnya keluar. “Jangan sentuh Abang eh! Abang dah wudhu nih,” ujar Sahlan yang mengingatkan istrinya.


“Hilih, Bang. Macam mana Hana tak sentuh Abang, kalau Abang hadang kat jalan tuh?! Hana nak wudhu juga lah, Bang. Abang tepilah sikit!” ketus Hana kesal.


Sahlan yang tertawa begitu mengetahui respon Hana, akhirnya menghentikan candaannya dan segera bertepi atau minggir dari pintu kamar mandi. Hana akhirnya dapat memasuki kamar mandi tersebut.


Sebelum Hana melangkah lebih ke kamar mandi, Sahlan menghentikan langkahnya, “eee, Hana. Cepatlah berwudhu, kita salat jamaah di kamar Abang.”


“Oke, Bang. Tunggu Hana kat bilik Abang,” sahut Hana pelan tanpa melihat ke belakang.


Hana yang usai berwudhu menghampiri kamar Sahlan dan terlihat bahwa suaminya telah menunggunya dengan sajadah dan kopiah yang telah digunakan di kepala nya.

__ADS_1


“Dah siap ke jamaah subuh ni?” tanya Sahlan memastikan saat Hana menggunakan mukenanya.


“Ha'a, Abang. Udah siap lah nih,” jawab Hana atas pertanyaan Sahlan.


Keduanya pun salat subuh berjamaah berdua. Dan saat selesai salat, Hana mencium tangan Sahlan sebagai bentuk baktinya kepada Sahlan.


Jujur kamar keduanya terpisah, walaupun keduanya telah menikah. Bahkan semalam tadi bahkan malam-malam sebelumnya, Hana dan Sahlan justru tidur terpisah.


Mengingat tentang hal semalam, Hana dan Sahlan sedikit tersenyum. Rencana apabila mati lampu tak kunjung usai, Hana dan Sahlan akan tidur bersama dalam satu ranjang .... Namun saat keduanya memutuskan hal tersebut dan mulai berbaring di ranjang, lampu justru menyala. Alhasil Sahlan diusir Hana untuk kembali tidur sendiri di kamarnya.


***


“Bisa ke Hana, bantu?” tanya Sahlan ragu-ragu.


“Bisalah, Bang. Hana pandai masak tau!” jawabnya sombong.


“Iyalah.” Sahlan yang juga penasaran akan masakan dari istrinya pun akhirnya mengizinkan Hana melakukannya.


“Eh, jangan yang itu lah! Itu gula bukan garam, garam tuh yang nih!” tegur Sahlan mengingatkan Hana.

__ADS_1


"Oh iya ke, Bang? Okelah,” jawab Hana sekenanya. Saat Hana menuangkan garam ke dalam wajan, Sahlan kembali dibuat panik.


“Eee, Hana! Terlalu banyak tuh, garamnya tak sebanyak itulah. Masin nanti bila Hana masukkan dua sendok makan tu, hiks ...,” panik sahlan terhadap Hana dengan sedikit meringis.


“Eh, terlalu banyak ke, Bang? Hana tak tahulah, Hana silap.” Hana menunduk penuh rasa bersalah.


“Tak apalah, masih banyak yang bisa di revisi lagi. Biar Abang yang perbaiki masakan Hana, Hana cukup tunggu kat kursi tu aja ya? Duduk manis tengok Abang tampan nih yang masak, nanti Hana yang cicip, okay ke tak?” usul sahlan yang membuat Hana melakukan apa yang diinginkan Sahlan.


Hanya sebuah nasi goreng Hana tak mampu membuatnya, Hana sangat menyesal telah menuang banyak sekali garam. Bahkan, ia sangat merutuki kebodohannya ... garam dengan gula pun tak tahu dia beza?


“Hemmm ..., nasi goreng Abang Sahlan nih memang sedap lah!” batin Hana memuji saat mencicipi masakan Sahlan yang telah disajikan.


"Macam mana masakan abang nih, okay tak?” tanya Sahlan pada istrinya.


“Dari voting 1 sampai angka 10, Hana bahagi 8. ” Hana menjawab layaknya seorang juri masakan dari MasterChef seperti yang tayang di televisi.


“ Alah, Encik! Tak ada angka 9 ke atau tak 10? Lagi bagus tau,” tawar Sahlan tergelak dengan candaannya sendiri.


“Tak ada lah, dah limited edition tuh,” sahut Hana yang juga tertawa.

__ADS_1


Sarapan pagi keduanya pun diiringi dengan canda dan tawa sebelum berangkat sekolah bersama, dengan status Hana seorang murid dan Sahlan sebagai seorang gurunya di sekolah lain halnya suami istri apabila di rumah.


__ADS_2