
“Assalamualaikum,” salam Sahlan saat tiba di rumahnya sore.
“Waalaikumsalam, awal balik. Tak sekalian menginap, Pak?” sahut Hana yang sebenarnya menyindir Sahlan.
“Rumah abang kan di sini, abang tidur pun di sini.” Sahlan menjawab seraya mengernyitkan dahinya bingung sebab tidak paham akan sindiran Sahlan.
“Up to you lah,” ucap Hana tak acuh, “laptop bapak dah aku letak di sofa tu, thanks dah bagi pinjam. Nanti bila school mulai, Hana pinjam lagi.”
“Lah apa ni? Abang kan dah cakap jangan panggil bapak, panggil abang lah.” Sahlan yang kesal masih berusaha untuk tetap sabar dan lembut pada istrinya. Sementara yang dibicarakan hanya mengangkat bahunya tanpa peduli kekesalan Sahlan.
Jauh dari yang diketahui, Hana sebenarnya masih merasa dongkol karena suaminya pergi menemui wanita lain di luar rumah mereka. Namun hal itu masih belum disadari olehnya, bahkan masih dianggap hal biasa.
“Hana mau ke kamar dulu,” pamit Hana dan langsung pergi tanpa mendengar jawaban dari Sahlan.
Pada malam harinya, saat makan malam masih tak ada pembicaraan yang dimulai. Hanya fokus terhadap makanan yang berada di hadapan mereka. Sampai saat Sahlan yang membuka pembicaraan mereka, “Hana tambah lagi hidangan yang abang buat. Sedap nih, tau!”
“Hana dah kenyang, tak payah tambah. Habiskan seorang dengan abang sendiri, Hana nak tidur, esok bangun pagi sebab nak siapkan pakaian sekolah buat digunakan lusa.”
__ADS_1
Hana berdiri meninggalkan Sahlan sendirian di meja makan. Hal ini membuat Sahlan terheran akan perubahan sikap istrinya. “Kenapa dia?” tanyanya pada dirinya sendiri.
***
Seperti yang dikatakan, pagi sampai siang ini Hana benar-benar sibuk akan kegiatannya mengemas atau merapikan pakaian sekolahnya yang akan digunakan esok hari. Libur dua minggu akhirnya usai pada hari ini, dan besok sekolah akan kembali beraktivitas pada semester baru.
Sahlan yang melihat kesibukan Hana menawarkan bantuan untuknya, namun Hana terus menolak dengan alasan bisa melakukannya sendiri. Sikap Hana sejak kemarin berubah cuek dan terkesan tidak ramah padanya, mencoba Sahlan bertanya namun selalu dielak oleh Hana hingga tak mampu Sahlan berucap.
“Abang ambilkan minum?” tawar Sahlan saat Hana berhenti sejenak.
Sahlan yang lagi-lagi tak mampu bertindak memilih untuk mengikuti istrinya ke dapur. Di lihatnya Hana yang tengah meneguk segelas air putih hingga tandas. Sahlan berdiri bersandar di pintu dapur menunggu Hana melewatinya.
“Hana, kenapa?” tanyanya.
Hana berhenti dan membalikkan badannya, “Tak apa-apa, i'm okay.” Lalu kembali dirinya melangkah ke kamarnya.
“Tunggu.” Sahlan yang memegang tangan Hana langsung dihempaskan kasar.
__ADS_1
“Jangan sentuh tangan Hana!” ketus Hana tidak suka akan tindakan Sahlan padanya.
“Apa nih, Han? Abang salah apa dengan Hana, sehingga awak tak mahukan berbicara dengan saya sejak kemarin.” Sahlan bertanya penuh dengan wajah memohon.
“Saya bilang saya oke! Puas?” jawab Hana masih sama seperti tadi.
“Tapi Hana tak macam seperti biasanya bila cakap dengan abang, Hana tak seramah seperti biasanya, ke—”
“Aku ialah Aku! Tak ada urusannya dengan abang, mau aku begini atau begitu. Hana bersikap macam biasanya, ini adalah Hana. Abang tak kenal saya, oleh sebab itu abang cakap macam tu,” jawab Hana memotong, “dan ingat, Bang! Kita hanya status, jadi abang jangan pernah peduli Hana.”
“Tapi Hana tetap istri a—”
“Status!” potong Hana lagi dengan tegas, “Hana nak ke bilik, abang jangan nak ikut Hana ke sana.”
Sahlan yang mendengar respons Hana hanya mampu menghembuskan napasnya mengalah. Ia hanya bisa menurut agar tidak terjadi pertengkaran, terlebih ia menjadi sadar karena ucapan Hana barusan.
“Ha'ah ..., hanya status. Ayolah jangan membodohi dirimu sendiri, Sahlan!” runtuk Sahlan perlahan dengan nafas berat.
__ADS_1