
“Eh, sejak tadi tak ada aku nampak gadis engkau,” ujar Mama Sahlan pada mak cik Tia, ke mana pula anak kau tu pergi?”
“Eh, tak sabar. Tak tahukah anak aku masih sekolah lagi,” jawab Mak Cik Tia membuat Sahlan menghembuskan nafasnya.
Sudah tau bocah masih saja ingin dinikahi olehnya? Bocah yang usianya muda darinya, terlebih lagi masih sekolah pun semua orang di sini tetap menginginkan dirinya menikahinya.
Sahlan yakin hal ini tidak akan terwujud. “Oh, lama lagi ke pulangnya?” tanya Mama Sahlan lagi.
“Bentar lagi lah, agak sore nanti dia pulang. Kau tak tahu lagi, tah? dia kan tak school di kota ini. Jauh dia ni, tau! Sekolah dekat dengan sanak saudara kami, dia pilih.” Mak Cik Tia menerangkan akan ketidaktahuan mama Sahlan.
“Lah iya ke? Tak sangkanya.” Mama sahlan menggaruk dahinya heran namun hal itu tidak berlangsung lama saat dirinya teringat akan sesuatu dan berkata, “Eh, kau tahu tak? Budak aku ini, si Sahlan! ... Dia nih seorang guru tau, hebat kan?”
"Wah, tahniahlah! Bertuah kali lah kau punya budak macam nih. Andaikata anak aku dengan anak engkau satu school mantap nih tahu! Sahlan bisa ajarkan budak aku, makin pintar lah dia tuh,” ucap Mak Cik Tia yang disambut tawa oleh semua orang, kecuali Sahlan. **_**
“Hai, apa pula lah ni, kau ... Tapi cakap macam hal ini, bila anak kau tuh balik lah! Lama sangat.” Mama salah nampak jemu dan tidak sabar dalam menanti anak dari Mak Cik Tia yang tak lain akan menjadi menantunya.
“Sabarlah. Anak laki-laki aku dan istrinya tengah menjemputnya dari bandara, sebentar lagi datanglah.”
__ADS_1
“Assalamualaikum, Mak .... Hana pulang nih!” teriak seorang perempuan yang berasal dari halaman depan rumah.
Baru saja membicarakannya, anak dari mak cik Tia akhirnya tiba di rumahnya bersama kakak dan kakak iparnya.
“Nah, itu dia. Tunggu ya, aku nak sambut anak gadis aku.” Mak Cik Tia berdiri dan meminta tamunya untuk tetap duduk di sana. Sahlan yang menunggu, sudah merasa penasaran akan gadis yang akan dijodohkan dengannya.
“Nah, nih dia gadis aku, cantikkan?!” seru Mak Cik Tia kepada tamunya yang tak lain adalah Sahlan, adiknya dan kedua orang tuanya. Sahlan yang duduk di posisi membelakangi pintu, memilih untuk menoleh ke belakang daripada harus berdiri seperti papa dan mamanya.
“Pak Sahlan?!” ... “Hana?!”
“Lah dah kenal? Masih ingat lagi wajahnya ke?” tanya Mak Cik Tia yang mewakili pertanyaan semua orang se yang juga ikut terkejut bercampur salut.
“Dia guru, Hana.” ... “Dia murid, Sahlan!” jawab Hana dan Sahlan lagi-lagi serempak.
“Bocah yang dimaksud mama dan papa itu, Farhana Aleentina?” tanya Sahlan dengan perasaan yang seperti ingin melompat ke dalam laut.
“Ha'aah ...,” sahut kedua orangtua Sahlan membenarkan.
__ADS_1
“Wah Apa pula nih, murid aku sorang aku nak kahwini ke?” batin Sahlan maronta.
Sementara Farhana atau Hana yang kebingungan, hanya mampu duduk diam. Apa alasan yang buat gurunya datang ke rumahnya ini? Dirinya tidak merasa melakukan kenakalan ataupun kesalahan di sekolahnya, sampai-sampai ... gurunya sendiri rela menghampiri rumahnya dengan jarak yang cukup jauh menyeberang pulau. Apakah dirinya senakal itu, anj*y! Itulah isi pikiran Hana saat ini.
“Lah jadi dorang ni satu school, kah? I like it! ” seru Mak Cik Tia dan Mama Sahlan Satu frekuensi.
“Aku tak sangkalah, bila budak-budak kita ini ... satu school,” ucap suami Mak Cik Tia.
“Iya, aku pun tak sangka,” timpal Papa Sahlan yang juga merasa heran.
Ekhem ...
“Sebetulnya Hana nak cakap dan bertanya-tanya, ada tujuan apakah Pak Sahlan dan satu keluarganya berkunjung ke rumah Hana, ni? Apakah Hana ada buat silap di school.” Akhirnya Hana mampu mengajukan pertanyaan setelah sekian lama berdiam membisu layaknya patung.
“Lah, kau tak tahu kah?”
Semua orang menatap Hana dengan tatapan tajam seperti ingin mencabik-cabiknya, padahal hanyalah perasaan Hana sendiri, bukan mereka.
__ADS_1