I Hate You!

I Hate You!
(Chapter 7) Eps 41: Siapa Abian?


__ADS_3

“Eh ... berapa umur Hana?” tanya Sahlan yang mencoba berbasa basi.


"Awak tolak tujuh tahun dari umur awak, itu umur saya." Hana menjawab datar tanpa menghentikan aktivitasnya berdandan.


Sahlan mulai menghitung pelan dan berkata lirih, "Dua puluh tiga tolak tujuh sama dengan... enam belas."


“16th, betul?” tanyanya.


“Iyaaa ....”


“Masih muda,” ucap Sahlan yang menatap langit-langit kamar.


"Yelah, sebab tu saya geram sangat kahwin dengan awak terlalu jauh, tua!" ketus Hana langsung.


Sahlan yang mendengarnya pun tidak mau kalah. Ia menjawab, “Aisyah R.A pun masih kecil begitu menikah dengan Nabi Muhammad Saw.”


“Tapi—”


“Tapi apa?” potong Sahlan yang membuat Hana terdiam kesal.


“Whatever mu ‘lah!”


“Kau memakai apa?” tanya Sahlan beralih pembicaraan saat melihat Hana menggunakan maskara.


"Tak mungkin awak tak tahu apa yang saya pakai?!" balas Hana justru balik bertanya.


"Saya tahu untuk apa, tetapi saya lupa nama." Sahlan menghampiri Hana yang menghadap cermin untuk melihat dengan jelas.

__ADS_1


"Apa nama tu? Setakat ini saya hanya melihatnya apabila saya mengikut ibu saya ke pasar raya.” Kembali Sahlan bertanya karena betul-betul penasaran. Selama ini ia hanya melihat hasil jadi make up di wajah mantan pacarnya, Dahlia. Tapi, dirinya tidak pernah menghiraukan begitu juga dengan mamanya saat memakai polesan yang menambah keayuan ini.


"Awak ganggu saya, ini namanya maskara... M-A-S-K-A-R-A, faham?" jawab Hana kesal hingga menyebutkan kosakata yang lengkap.


“Oooo ....”’


“Awak tak tahu atau awak berpura-pura? Selama ini awak tak kisah perempuan awak pakai ni?” ketus Hana dengan sedikit menyindir.


"Tidak, saya tidak peduli, yang penting saya masih melihat wajahnya di tempat yang sama secara umum." Sahlan menjawab enteng sindiran Hana.


“Oh ya?”


“Ya.”


“Emh ... tadi kau cakap sering ikut mak pergi pasaraya, kan? Saya tidak pasti sama ada awak yang berstatus keluarga kaya mahu membeli-belah di pasar raya."


“Ouh ... .”


"Hana tapi nak pergi mana ni?" tanya Sahlan lagi saat melihat Hana yang selesai bersiap seperti hendak keluar.


"Melancong bersama kawan" jawabnya singkat.


“Tengah hari macam ni tetap nak keluar ke? Sebentar lagi zuhur,” ujar Sahlan mengernyitkan keningnya tetapi Hana tidak berkomentar.


Kembali Sahlan berucap, “Saya ikut, boleh?”


“Hah?” Hana terbelalak akan permintaan Sahlan.

__ADS_1


"Dalam masa yang sama saya nak pergi keliling kampung awak, saya dah lupa kali terakhir saya pergi melihat pemandangan di kawasan kejiranan tempat tinggal awak."


"Tak payah. Saya nak jumpa kawan, bukan nak keliling kampung!" tolak Hana.


"Kawan awak perempuan atau lelaki? Lagipun saya nak jumpa kawan awak." jawab Sahlan sambil bertanya.


“Bukan urusanmu temanku perempuan atau laki-laki.”


“Ya sudah, aku ikut. ” Sahlan kekeh untuk ikut Hana, dia tidak mau bininya pergi tanpanya, terlebih lagi jika orang yang diajak bertemu adalah laki-laki.


“Terserahlah!” Hana sadrah walaupun ekspresinya menunjukkan wajah yang tidak suka.


Keduanya pun keluar dari kamar, saat itu pula mereka berpapasan dengan orangtua mereka.


“Mak,” panggil Hana seraya menghampiri, “saya mau keluar ya?”


"Dengan siapa dan apa yang perlu dilakukan? Suami kamu ada di sini, sebaliknya kamu meminta izin daripada Mama.” Mama menjawab dengan tatapan kesal.


“Kau tidak bertemu Abian, bukan?” ceplos Mama Tia tanpa sadar dan membuat Sahlan curiga.


“Siapa Abian?” tanyanya dalam hati.


Setelah lama berfikir Sahlan mengeluarkan suaranya perlahan, “Hana mau keluar dengan saya mama, ia mau menemani saya keliling kampung. Saya minta izin ya?”


“Ouh dengan awak ya, lepas tu pergi. Mama, tak apa kalau kamu pergi dengan Hana," jawab Mama akhirnya yang membuat Sahlan dan Hana dapat keluar dari rumah orangtua mereka.


“Siap kau Abian!” suara hati seseorang saat itu.

__ADS_1


__ADS_2