I Hate You!

I Hate You!
Eps 23: Tatapan Yang Menusuk


__ADS_3

“Woy, kau dengar apa yang aku cakap, Hana?!” panggil Selin sedikit keras, namun perlahan karena takut kembali membuat Hana marah padanya.


“Eh, sorry! I melamun tadi,” sahut Hana yang tersadar, “emh ... kau cakap apa tadi, ha?”


Selin menarik napasnya kuat-kuat untuk mengambil oksigen demi kesabarannya. “Kau ni asyik-asyik melamun, apa hal yang kau rahsia nih, tak ada niat you untuk cakap ke I, ke?”


“Tak ada lah, aku cuma temenung. Emh, kau cerita lah yang tadi kau cakap, aku perhatikan kau.” Hana mengelak untuk bercerita dengan Selin dan memintanya mengulang kembali ucapan temannya.


“Ish, kau ni. Kecewa aku nih dengan kau, tapi tak apa lah, aku tahu bahawa engkau masih tak siap lagi nak bagi tahu aku.”


“Tentang yang nak aku cakap tadi, aku tanyakan yang engkau nih dah pernah nampak pujaan hati cik Sahlan tu, ha?” sambung Selin yang pada akhirnya terpaksa melupakan masalah Hana.


“Oouh, tak pernah. ” Hana menjawab pertanyaan Selin dengan muka datar. Hal ini juga yang membuat Selin semakin pelik dengan Hana, ia tahu bahwa Hana menyembunyikan sesuatu.


“Han?” panggilnya pelan pada Hana.

__ADS_1


“Hmm?” balas Hana dengan berdeham.


“Kau anggap aku best friend, engkau?” soal Selin yang membuat Hana mengerutkan kening.


“Soal tu buat apa? Tak kan yang engkau selama ini tidak merasa, kau bestie aku lah!” balas Hana tegas.


“Dah tu,” lanjut Selin lagi, “mengapa you tak mahukan cerita pada I nih, hah?! Kau fikirkan aku ni buta, yang tak melihat engkau jauh beza macam ini?”


Hana tersentak mendengar pengakuan pada akhirnya, tak pernah ia menyangka bahwa masalahnya dapat diketahui oleh Selin. Apakah raut wajahnya sangat menampakkan bahwa dirinya sangat gundah dan memiliki beban di pundaknya? ... Yang terus mendorongnya untuk menyerah menghadapi kehidupan dunia untuk selamanya.


“Suka hati kau lah,” ketus Selin yang kehabisan kata, untuk membujuk temannya yang terus mengelak akan pemgakuan. Namun hal itu tidak boleh membuat ia murka, karena itu adalah keinginan hati dari Hana yang memilih untuk menyembunyikan rahasia kepadanya.


***


Hana masuk ke dalam kamarnya untuk berganti pakaian. Lelah bila harus bertanya terus menerus pada Sahlan yang tiada diharapkan.

__ADS_1


Berita tentang apa yang telah terdengar, mengalahkan segala rasa perhatiannya pada Sahlan. Lebih baik terdiam, dibandingkan harus merutuk akan kebodohannya yang mau untuk dijodohkan dengan Sahlan.


Bila mengetahui akan seperti ini jadinya, Hana lebih baik bersifat dingin selalu pada Sahlan yang hanya menganggapnya bagai ranting yang kering. Memang, ia masih belum siap untuk digauli sebagai seorang isteri ... namun apa salahnya jika Sahlan dapat mengerti tentang ia dan hubungan mereka selama ini.


“Han?” panggil Sahlan seraya mengetuk pintu kamarnya, “kau mahu abang masakkan apa?”


“Tunggu situ bentar, Hana ganti baju seragam dulu.” Hana menjawab segera dan mengganti seragamnya menjadi pakaian santai rumahan.


Sahlan yang mendengar perintah isterinya, menurut dan menunggu di depan pintu kamar. “Lah, lama sangat you nih.”


Sahlan yang begitu melihat Hana membuka pintu langsung menggelengkan kepalanya kerana Hana yang membuatnya jenuh berdiri.


“Sorry.” Hana menjawab seraya tersenyum kecil dan menatap Sahlan.


Ada hal lain yang tiba-tiba menerpa pikiran Sahlan, tatapan yang diberikan Hana padanya bukanlah tatapan biasa. Tatapan ini, adalah tatapan yang menusuk akan makna yang tersirat di dalamnya.

__ADS_1


“Kau, kenapa?”


__ADS_2