
**
Emir tengah membereskan sajadahnya, kemudian mengganti baju kokonya dengan baju santai, karena hari ini adalah hari minggu dan tidak ada jadwal di rumah sakit. Dia juga sudah membereskan ranjang dan mengganti seprei, Membawa seprei yang kotor ke tempat penyimpanan baju kotor di balik pintu yang menuju kamar mandi hotel.
Kini Emir dan Emira tengah sarapan di restoran yang berada di Hotel, meskipun disana cukup ramai tetap saja meja yang Emira dan Emir gunakan terasa begitu sepi, hanya suara sendok dan garpu yang beradu dengan piring.
"Tidak ada romantis romantis nya manusia satu ini". batin Emira yang kini melirik wajah Emir sambil tangannya terus memotong roti bakar yang ada di depannya.
"Fokus pada sarapan mu" Emir berkata tanpa mengalihkan tatapannya dari roti bakar yang ada di piringnya, dia menyadari Emira terus memperhatikannya.
Tidak ada balasan apapun dari Emira, dia kembali fokus pada sarapannya.
"Mas, tiga hari lagi sekolah kami akan ada camping di puncak, aku mau minta izin untuk ikut acara, karena aku masuk dalam panitia inti." Emira rasa dia perlu membahas ini karena bagaimanapun juga dia sudah bersuami, dia juga tau izin suami adalah hal yang paling penting.
"Hemm,, pergilah, jika itu memang kegiatan wajib sekolahmu." Jawab Emir.
"Makasih mas." balas Emira dengan senyum berseri.
"Apa sarapanmu sudah selesai ?" tanya Emir kemudian.
"sudah Mas." Balas Emira.
"Ayo kita berkemas, Bunda pasti sudah menunggu di rumah. Ajak Emir kemudian beranjak untuk menuju kamar hotel yang semalam menjadi saksi bisu penyatuan mereka.
**
Matahari sore ini bersinar dengan di iringi angin daratan yang mulai menyeruak, bahkan berlomba dengan senja yang ingin menampakkan keindahannya.
Emir dan Emira tiba di rumah besar kediaman Al Ghazi tepat pukul 16.25 wib, nyatanya setelah sarapan Emir tidak benar-benar berkemas, dengan alasan yang klise karena merasa punggung nya sakit, dan meminta dipijit Emira, akhirnya dia melancarkan aksinya untuk menjamah tubuh seksi sang Istri kecilnya. Benar benar meresahkan pak Dokter ini.
"Sayang kenapa sore sekali pulang nya?" tanya Bunda Daniah menyambut kedatangan menantunya di teras rumah yang megah itu.
"Emmm maaf bunda, tadi kami ketiduran." Jawah Emira, kemudian melirik sang suami meminta pertolongan dengan tatapan iba, namun Emir palah melenggang pergi untuk segera masuk ke rumah dengan cueknya.
"waaahhhh... Benar-benar pak suami ini, dia yang berbuat ulah, tapi dia juga yang tidak mau bertanggung jawab. Awas saja kau ya" Batin Emira selepas kepergian Emir.
"Ya Sudah tidak papa, ayo masuk sayang." ajak bunda merangkul bahu Emira.
Saat sudah memasuki rumah, Emira di buat takjup akan keindahan dan kemewahan yang terlihat jelas di matanya. Rumah dua lantai yang sangat luas. Warna gold dan putih mendominasi seluruh ruangan.
"Pak Muh kesini sebentar, panggil yang lain, sama bibi juga."
__ADS_1
"Kenalin ini adalah Emira istrinya Emir. Kalian bisa memanggilnya non Emira. Mulai sekarang tolong bagi tugas kalian untuk memenuhi segala kebutuhan Emir dan Emira."
"Baik bu." jawab mereka serentak
Sebenarnya Emira merasa tidak enak jika di perlakukan dengan berlebihan, karena bagaimanapun juga mereka adalah orang tua yang harus di hormati.
"Ayah kemana bun?" tanya Emira saat menyadari tidak ada sang ayah di sana, dia menaiki tangga dengan terus di gandeng tangannya oleh bunda.
"Ayahmu ada di Rumah Sakit, tadi siang salah satu pasien nya terkena serangan jantung." Jelas bunda.
Emira hanya manggut-manggut karena masih sedikit canggung.
"Oya, budan lupa, kemarin nenek juga menginap disini, nenek baru pulang tadi pagi, katanya tidak enak jika tokonya harus tutup, jadi nenek memutuskan untuk pulang, beliau berpesan agar kamu tidak perlu mengkhawatirkan nenek." jelas bunda menyampaikan pesan nenek Emira.
"Nah ini kamar Emir, istirahat lah, bunda mau ke kamar juga, mau bersih bersih. Mulai sekarang anggap rumah ini sebagai rumah kamu sendiri ya sayang, jangan pernah merasa canggung, panggil bunda atau pelayan jika membutuhkan sesuatu, kamu mengerti ?" Terang bunda.
"Iya bunda, makasih banyak bunda sudah menerima Emira, Emira sangat beruntung.."
"Emir yang beruntung dapetin kamu." potong bunda.
"Dan bunda juga sangat bersyukur akhirnya kamu mau jadi anak bunda. Makasih banyak sayang, mulai sekarang anggap bunda seperti mamah kamu sendiri." Bunda memeluk Emira dengan erat, membelai rambut sang menantu dengan sayang.
**
"Luas kamar ini sudah seperti rumahku." gumam Emira, dia melangkah ke tempat tidur dan mendudukan tubuhnya di sofa yang tepat berada di depan kasur.
Saat Emira menikmati suasana di kamar yang kedepannya akan dia tempati ini, tiba-tiba pintu kamar mandi dibuka, Emir berjalan ke luar, dari dalam kamar mandi hanya dengan mengenakan handuk yang melilit pinggang nya.
"Loh mas, sudah mandi? sebentar aku ambilkan baju ganti dulu." Emira bergegas ke ruangan yang dia yakini adalah tempat penyimpanan baju.
Karena merasa lama, Emir berjalan menyusul istrinya, ternyata sang istri tengah kebingungan mencari dimana letak pakaian untuk nya.
"Lemari cream ini punya ku, dan punyamu yang berwarna putih di seberang sana." Jelas Emir membuka pintu lemari dengan menekan tombol yang ada di gagang pintu tersebut.
"wahhh mas, ini semua isinya pakaian ?" tanya Emira membuka semua lemari pakaian miliknya yang tadi di tunjukan oleh Emir. Emir tidak menjawab, dia hanya melirik Emira sesaat, dan kemudian fokus kembali menggunakan baju santai nya.
"Cepat mandi lah, aku akan ke bawah menemui bunda." Emir lekas melangkah ke luar dengan mengenakan kaos polos hitam dan celana chino pendek berwarna cream.
"Astaghfirullah, kenapa akunya jadi sibuk sendiri." Emira kelabakan saat tersadar dia tidak jadi menyiapkan baju ganti untuk suaminya, tapi malah sibuk sendiri mengagumi lemari pakaian untuknya.
**
__ADS_1
Emira dan Emir baru saja menyelesaikan sholat isa bersama, saat ini Emir tengah memangku laptop untuk memeriksa beberapa berkas rumah sakit melalui email yang di kirimkan oleh kepala management.
Sedangkan Emira tengah asik memainkan hp nya sambil berbaring di ranjang, sekali, dua kali, dia tertawa sendiri seperti orang gila, melihat chat grup wa dengan ke dua sahabatnya yang diberi nama *Dunia Hanya Sementara" sudah ramai ternyata.
"Ran, temen lo udah ngga perawan!" * -Della-
"Tau gue, dia kaga ada nongol dari kemaren." * -Kiran-
"Ch!, Anak kecil yang bisa bikin anak kecil. wkwkwk" -Della-
"Hooh, Dianya sih polos, tapikan suaminya Ekhem" -Kiran-
"Gue ngga bisa ngebayangin gimana jadi Emira." -Della-
"Pasti ngga bisa ngimbangin permainan suaminya ya?" -Kiran-
"Bukan itu maksud gue oon." -Della-
"Terus?" tanya Kiran
"iya kan dia selama ini tidur sendiri, tiba tiba tidur di kekepin sama suami, mana ganteng banget lagi." -Della-
"Sok tau lo pada." balas Emira
"Eh ada orangnya, gue kira lagi anu, hahahah." -Kiran-
"Anu apa ya Ran, serius nanya gue." -Della-
"Ngga usah sok polos lo." -Kiran-
"HAHAHAHA.... gimana-gimana? Enak ngga Mir ?" -Della-
"Dih, kemana tuh anak, ngilang lagi." Tanya Della karena tak kunjung ada jawaban
"Pasti dapat tugas dari paksuter." -Kiran-
"HAH!. apaan tuh?" -Della-
"Pak Suami Dokter lah, apa lagi?!." -Kiran-
Notifikasi dalam hp Emira masih berlanjut, menandakan percakapan ngelantur mereka masih terus berjalan.
__ADS_1
**
**Bersambung**