
__selamat membaca __
Tubuh Emir mendekat ke jok bangku Emira, wajahnya saat ini hanya berjarak beberapa senti dari wajah sang istri.
Emira menahan nafasnya karena gugup.
Ceklek..
Bunyi pengait sabuk pengaman, yang seketika terlepas dari tubuh sang istri, namun wajah dan tatapan nya tidak beranjak barang secenti pun.
"Mas, aku..."
Ucapannya terpotong karena tanpa aba-aba Emir menyambar bibir sang istri, awalnya hanya ciuman biasa, namun semakin lama, hasrat Emir semakin besar.
******* bibir kenyal sang istri dengan lembut dan menuntut, tangan kiri Emir dia gunakan untuk menekan tengkuk sang istri, dan tangan kanan memeluk tubuh Emira posesif.
"Emmm..." Emira memukul dada suaminya berulang kali, karena sudah kehabisan nafas.
Emir melepas ciumannya, menautkan keningnya pada kening sang istri, matanya terus memandangi bibir Emira, dengan deru nafas yang masih naik turun.
Keduanya terengah, mencari pasokan udara untuk mereka hirup. Saat Emir ingin menciumnya lagi, Emira menahan dada suaminya dengan wajah bersalah,
"Mas.. sudah siang." ucap Emira dengan lembut,
"Sunggu suami meresahkan" batin nya menggerutu.
"Jangan jauh jauh dari jangkauan Arkana, jika kamu kenapa-kenapa, maka bocah itu yang akan mendapat balasan nya. " Ucap Emir, kemudian membenarkan duduknya, setelah sebelumnya mencium kening dan bibir sang istri sekilas.
"Iya mas, paham, ya sudah aku turun ya mas, Assalamualaikum." Emira mengucapkan salam setelah mencium punggung tangan suaminya.
"Waalaikumsalam." Emir menatap punggung sang istri yang perlahan menghilang di balik tembok, Setelah itu mobil Emir melaju, meninggalkan perkarangan sekolah Emira.
**
"Gue tau dari awal, emang ada yang ngga beres sama tu bocah". ucap Sisil.
"Bener banget Sil, selama ini dia sekolah kan pake motor butut." Balas Siska
"Kita liat aja nanti, gue punya rencana bagus, Ayo cabut." Ajak Sisil dengan mengangkat ujung bibir nya sebelah.
__ADS_1
Sisil baru saja turun dari Mobil yang dikemudikan oleh sopirnya tepat di belakang mobil Emir. Awalnya dia tidak menyadari didalam sana ada Emira. Sampai mobil yang ada di depannya itu terbuka, dan muncul Emira yang langsung masuk ke dalam sekolah.
Tidak berapa lama, bel sekolah berbunyi, menandakan semua siswa dan siswi berkumpul di lapangan sekolah.
Acara ini hanya di lakukan oleh kelas 11 semua jurusan, total terdiri dari 8 kelas, yang masing masing kelas mencapai 25 siswa dan siswi.
Dan nantinya, setiap kelas akan di bagi lagi menjadi 2 bagian, perempuan dan laki-laki. Jadi, total ada 8 tenda untuk perempuan dan 8 tenda untuk laki laki, serta 2 tenda besar untuk Guru pembimbing, dan 2 tenda untuk panitia dan P3K.
5 Rombongan bus beriringan menuju puncak, sampai di sana sekitar pukul 10.15 WIB.
Regu yang sudah di bagi bagi, kemudian mengambil peran nya masing - masing untuk mulai mendirikan tenda dan merapihkan tempat camping.
Acara pembukaan baru akan di mulai pada pukul 15.00 sore nanti.
Sementara itu di Rs. Al Ghazi
"Majukan jadwal operasinya sus." Perintah Emir mengamati rekam medis di tangannya dan sesekali mengamati monitor yang ada di depannya. Saat ini Emir tengah berkunjung ke salah satu ruang pasien yang mengidap penyakit jantung Koroner.
"Baik Dok, Jam 13.00 siang ini jadwal operasi pemasangan Ring Jantungnya bisa laksanakan dok, kondisi saat ini tekanan darahnya sudah stabil, dan juga sudah dirawat selama 2 hari sebelumnya, Pasien berusia 29 Tahun, dia merupakan perokok aktif sampai saat sebelum dilarikan kerumah sakit." Jelas suster Mala.
"Tolong siapkan semuanya sus." perintah Emir kemudian menyerahkan rekam medis pasien tersebut pada suster Mala.
Emir pamit untuk melakukan cek pada pasien lainnya, saat keluar dari ruang rawat inap Daniel, dia berpapasan dengan ayahnya.
"Emir, kebetulan kamu disini, ikut ke ruangan ayah sekarang."
Emir berjalan ber-iringan dengan Ayah Barra, insan dua insan beda generasi ini terlihat sangat gagah saat berjalan, memancarkan pesona nya masing - masing.
"Duduk Emir."
"Apa ada masalah Yah ?"
Tidak biasanya ayahnya terlihat gusar dan seperti menahan emosi.
"Rumah sakit kita yang ada di Bali sedang ada masalah, Dokter Riko yang saat ini ayah percaya untuk menjabat sebagai wakil direktur disana telah membuat kesalahan fatal". Terlihat Ayah Barra berucap sambil menahan Emosi.
"Dia menggelapkan dana enam ratus miliar dan juga melakukan malpraktek pada anak berusia 12 tahun, saat ini anak tersebut sudah meninggal dan keluarganya menuntut rumah sakit kita karena kejadian itu."
Mendengar itu tentu Emir sangat geram, tanpa pikir panjang dia langsung menghubungi asisten nya untuk mengurus keberangkatan nya sore ini juga.
__ADS_1
Dia juga menghubungi Emira untuk menginfokan bahwa dirinya akan berangkat ke Bali sore ini, namun sambungan telepon nya tidak kunjung di angkat.
"Emir ada operasi siang ini, setelah itu akan langsung terbang ke Bali, Emir akan selesaikan semuanya. Ayah tidak perlu khawatir."
Ucap Emir, dia meyakinkan sang ayah semuanya akan segera beres.
Selesai operasi Emir langsung terbang ke Bali, dia tidak pulang ke rumah, karena semua sudah di urus oleh asisten nya.
Saat baru sampai di bandara Soekarno Hatta Emir melihat seseorang yang tidak asing sedang melambaikan tangannya sambil tersenyum ceria di sana.
"Emir, syukurlah, aku pikir kamu akan telat."
Emir tidak menanggapi orang tersebut, justru dia melihat ke arah asisten nya dengan dahi mengerut.
"Dokter Fera di tugaskan oleh Dokter Agung untuk menemani anda Dok, maaf saya belum sempat mengatakan ini, karena saya juga baru dapat info saat memasuki bandara tadi."
Terang David, menjelaskan kebingungan Dokter Emir, dia adalah asisten pribadi Doker Emir, selain Azam sang sahabat, hanya dia yang tau status Emir sudah menikah.
David baru saja mendapatkan informasi dari anak buah Dokter Agung, bahwa cucunya di tugaskan untuk mendampingi Dokter Emir. Orang itu adalah Dokter Fera.
Emir menghela nafasnya kasat, terlihat jelas raut wajah Emir menahan Emosi, Dia berlalu dari hadapan Dokter Fera tanpa kata. Orang tua itu masih saja terus menjodohkan diri nya dengan Dokter Fera.
Mesti Emir terlihat menolak kehadiran Dokter Fera, namun Dokter Fera seperti menebalkan muka, dia tetap terlihat ceria dan terus mengocek sepanjang jalan menuju pesawat.
Pesawat take off pukul 17.00 wib. Emir duduk sendiri, tepat di seberang nya ada Dokter Fera, sedangkan David duduk dua bangku di belakang Emir.
Satu jam lima puluh menit pesawat mengudara, dan saat ini sudah sampai di bandara I Gusti Ngurah Rai Bali, mereka langsung menuju hotel yang tidak jauh dari Rumah sakit Al Ghazi yang ada di Bali.
Sebenarnya Emir memiliki apartemen di sini, namun karena lokasi dari apartemen dan rumah sakit cukup jauh, dia lebih memilih untuk memesan kamar hotel.
David memesan 2 kamar Presidential Suite untuk Dokter Emir dan Dokter Fera, sedang kan untuk dirinya dia lebih memilih untuk memesan Single Room namun masih di dalam lantai yang sama.
Agenda yang Emir rencanakan hanya 1 minggu untuk mengurus semuanya.
Emir meletakan koper nya di dekat lemari. berjalan menuju sofa sambil mengendorkan dasi yang melilit lehernya.
Mengecek handphone nya, namun tidak ada notifikasi sama sekali dari istrinya, dirinya juga sudah mengirim pesan singkat sebelum berangkat ke Bali, jika dia ada tugas ke luar kota beberapa hari.
Emir kembali menghubungi Emira, namun lagi lagi tidak ada jawaban, menghubungi Arka juga sama saja, tidak ada jawaban. Dia mendengus merasa gusar sendiri.
__ADS_1
**Besambung**