
__Selamat membaca__💖💖
"Shiitt... " umpat laki - laki itu, dia meraup wajahnya dengan frustasi. Terlihat jelas rasa cemas dan tegang di wajahnya. Dia terus mencoba menghubungi nomer ponsel yang sudah 2 bulan ini dia simpan di galeri kontak nya.
Lagi - lagi tidak ada jawaban. Lelaki itu duduk bersandar di kursi kerjanya. Mengendurkan lilitan dasi yang terasa mencekik lehernya.
"Apa dia melihat semuanya?" Gumam lelaki itu sambil mengamati pintu kamar mandi.
"Sial! bagaimana bisa aku tidak sadar." Azzam berdiri dari duduknya. Saat ini sudah melewati jam praktek nya. Dia menyambar ponsel dan kunci mobil yang berada di atas meja, tanpa berniat untuk merapihkan kembali dasinya, Azzam memilih menarik dasi itu dan menggantungkan di tiang gantungan seragam dokternya.
Azzam keluar dari basement rumah sakit dan dengan cepat melajukan mobilnya. Tujuannya hanya satu. Mencari wanita itu dan menjelaskan semuanya.
Dia sudah sampai di pelataran rumah mewah bergaya modern, dengan cepat Azzam turun dari mobilnya.
Pintu itu dibuka oleh asisten rumah tangga saat dirinya sudah menekan bel untuk yang ke dua kalinya.
"Den Azzam. Silahkan masuk den." Bibi melebarkan pintu nya untuk mempersilahkan calon menantu majikannya masuk ke dalam.
"Della ada di dalam bi?" Tanya Azzam tidak berniat untuk masuk ke dalam rumah sebelum memastikan bahwa Della benar ada di dalam.
"Loh bukannya non Della ke rumah sakit den Azzam? setahu bibi, tadi pak sopir menjemput Non Della sekalian disuruh anter titipan buat bundanya den Azzam."
"Jadi Della belum pulang bi?"
"Setahu bibi belum den." Jawab bibi.
"Siapa bi?" Teriak bunda Daisy dari dalam.
"Ini bu.. ada den Azzam" Bibi mundur saat bunda Daisy terlihat menghampiri mereka.
"Azzam masuk, ngapain di depan pintu." Bunda Daisy menyuruh calon menantunya untuk masuk ke dalam rumah. Tapi dia tidak melihat sosok Della di belakangnya.
__ADS_1
"Loh.. Della tidak ikut kamu ya? tadi sopir Della di suruh jemput Ayah di bandara, jadi bunda minta anak itu untuk di antar nak Azzam." Terang bunda Daisy.
"Emm.. sebenernya Azzam belum bertemu sama sekali dengan Della tante, Azzam kesini karena ingin memastikan jika Della sudah pulang." Terlihat jelas raut wajah panik dari bunda Daisy. Karena sepengetahuannya Della memang belum pulang dari sekolah tadi.
"Ya allah.. tunggu sebentar Azzam, tante lihat di kamar Della dulu." Bunda Daisy menyuruh Azzam untuk menunggu di ruang tamu.
"Iya tante." Setelahnya bunda Daisy langsung berjalan dengan buru - buru ke kamar putrinya yang ada di lantai dua. Dia berharap putrinya tidak berbuat ulah dan membuat dirinya pusing. Terlebih lagi suaminya sebentar lagi pasti akan sampai rumah.
tok..tok..tok
Pintu kamar Della sudah di ketuk beberapa kali, namun tidak ada sahutan sama sekali dari dalam. Bunda Daisy membuka pintu itu perlahan yang ternyata tidak di kunci.
Bunda mengedarkan pandangannya dan mencari keseluruhan penjuru kamar Putrinya namun tidak ada Della disana. Dia kembali lagi ke ruang tamu untuk menemui Azzam.
"Della belum pulang, kemana anak itu." Kini bunda sudah duduk di sofa berhadapan dengan Azzam. Azzam sedikit merasa bersalah dan lebih banyak merasa kesal karena lagi - lagi anak itu pasti akan menyusahkan dirinya.
Azzam menghela nafasnya dalam.
"Biar Azzam cari Della dulu ya tante. Tante tidak perlu khawatir." Ucap Azzam sudah berdiri dari duduknya.
"Maafkan putri tante jika terus merepotkan kamu ya. Bunda minta tolong carikan Della, mungkin dia mampir ke rumah sahabatnya." Ucap bunda sedikit khawatir, pasalnya ini sudah hampir maghrib. Dan Della tidak pernah pergi tanpa izin darinya.
"Iya tante. Azzam permisi." Azzam berlalu dari rumah Della, namun mobilnya masih belum beranjak dari tempatnya. Sekali lagi dia mencoba menghubungi nomer ponsel Della dan masih tetap sama, nomer ponsel itu seperti sengaja tidak di aktifkan.
"Huhhff menyusahkan.." Azzam mulai mencapai Gas nya, di sepanjang jalan dia terus mencari nomer ponsel sahabat Della, sudah pasti Emira dan Kiran. Karena memang hanya dua bocah itu yang dia ketahui sebagai sahabat Della.
"Oke makasih Mir" Baru saja Azzam menghubungi Emir. Karena dia takut mengganggu Emira dan membuatnya pikiran.
--
Huuffhh..
__ADS_1
Terdengar helaan nafas Azzam untuk yang kesekian kalinya. Kini sudah pukul 21.17 menit, baru saja orang tua Della menanyakan apakah putrinya sudah di temukan atau belum. Bahkan kini Ayahnya Della pun tengah memerintahkan beberapa orang suruhannya untuk mencari Della.
"Benar - benar menyusahkan. Kemana lagi aku harus mencari bocah itu."
Azzam sudah mencari kebeberapa tempat yang mungkin akan di singgahi oleh gadis itu. Dari sekolah, tempat les, Cafe, rumah Kiran dan bahkan tempat bermain. Tapi dia tidak melihat ada tanda - tanda keberadaan gadis itu.
Ponsel Azzam terus berbunyi, sedari tadi Bunda Mala sudah menelepon nya untuk yang kesekian kali nya. Tapi Azzam terus menekan tombol reject sebelum panggilan itu terhubung.
"Hallo bun." Akhirnya Azzam menyerah, sudah di pastikan dia akan menjadi sasaran kemarahan bundanya. Tapi akan lebih baik jika dia mendapatkan amukan saat ini dari pada harus berhadapan langsung dengan bundanya.
Dan benar saja, Azzam bahkan sampai menjauhkan ponsel dari telinganya, suara bunda begitu menggelegar seperti petir padahal langit malam ini begitu cerah.
"JANGAN BERANI PULANG JIKA BELUM MENEMUKAN DELLA"
Begitulah pesan terakhir bundanya sebelum menutup sambungan teleponnya.
"Aaarrrkkk.. " Azam sudah tampak frustasi.
"Apa dia benar - benar melihat semuanya ? sekalipun dia melihatku dan Ratu di ruangan itu, tidak seharusnya dia berbuat semaunya dengan kabur seperti ini, menyusahkan sekali." Azzam meninju setir mobil untuk melampiaskan kekesalan pada dirinya. Ada sedikit rasa bersalah di hatinya jika memang kepergian gadis itu karena dirinya.
--
Sementara di tempat lain.
"Sudah malam nona, Anda harus pulang sekarang, dan ini sudah lebih dari jam kerja ku."
"Tunggu sebentar aku masih ingin disini."
"Tapi film nya sudah berakhir 30 menit yang lalu. Sebentar lagi pasti akan di tutup nona."
"Ck.." Della masih bergeming. Dia masih betah duduk di salah satu deretan bangku yang sudah nampak kosong. Di dalam ruangan itu hanya ada dirinya dan David. Ruangan itu memang terlihat terang, karena pencahayaan lampu telah dihidupkan semua, setelah film yang mereka tonton sudah berakhir.
__ADS_1
David duduk di deretan teratas, sedangkan Della berada di deretan 3 bangku di bawahnya. Dia terus memandangi punggung gadis yang masih mengenakan seragam SMA nya namun sudah di tutup menggunakan jaket kulit milik David. Bukan David yang memberikannya. Tapi Della yang merampas jaket itu secara paksa dengan alasan tidak ingin terlihat mencolok karena masih mengenakan seragam SMA di waktu yang sudah selarut ini.
** Bersambung **