Istri Kecil Dr. Emir

Istri Kecil Dr. Emir
Eps 26


__ADS_3

--Selamat membaca--


"Aaahhkkk.... Berani sekali kau membuat keputusan tanpa bertanya terlebih dulu padaku." Kesal Dokter Fera membanting semua barang yang ada di atas meja kerjanya.


"Pasti karena ulah gadis kecil itu. Ck.. baru beberapa bulan kau menjadi istri Emir, tapi sudah membuat Emir seperti orang bodoh." Geram dokter Fera.


Dokter Fera segera mencari ponsel nya dan menghubungi seseorang.


"Aku punya tugas untukmu. Sudah ku kirim alamatnya. Dan ingat, jangan membuat ku kecewa." Panggilan telepon itu terputus. Dokter Fera tersenyum sinis.


"Tidak semudah itu kau bisa lari dari aku Emir. sudah cukup aku menunggumu selama ini. Jika aku tidak bisa mendapatkan dirimu. Maka siapapun juga tidak bisa mendapatkan mu."


**


Sedangkan di ruangan yang berbeda.


"Gue udah yakin pasti Fera ngga akan terima cara ini." Azam tengah menatap Emir yang sedang fokus pada berkas yang ada di meja kerja nya dari arah sofa.


"Kalo dia sampe berbuat nekat, apa lo yakin masih bisa nanganin dia, Dokter Agung juga pasti ngga akan tinggal diam." Melihat sahabatnya yang masih saja tidak merespon ucapannya membuat Azam kesal sendiri.


"EMIIRR.." Teriak Azam.


"Kenapa kau ribut sekali seperti perempuan."


"Ck..." Azam berdecak.


"Emira hamil." ucap Azam tanpa mengalihkan tatapannya pada berkas yang ada di tangannya.


"What...?? Gila lo ya udah bikin anak kecil bunting."


"Dia punya suami kalo lo lupa." Kesal Emir.


"Tetap saja dia masih kecil. Dasar pedofil."


Azam menatap Emir dengan sinis. Bukan dia tidak suka, Azam sangat bahagia sebenarnya, tapi dia merasa di dahului oleh Emir. Umurnya bahkan lebih tua 72 Jam dari Emir.


"David.. usir Azam dari rumah sakit ini." Emir menutup telepon nya dengan keras, dia baru saja menghubungi asisten pribadinya, dan tidak lama David masuk ke dalam ruangan Emir.


"Permisi Dokter Azam, silahkan ikut ke ruangan saya untuk tanda tangan berkas pengunduran diri anda."


"HEH..!! siapa yang mengundurkan diri." Azam menatap David dengan kesal. Asisten Emir ini selalu saja menuruti semua perintah Emir yang terkadang memang gila.


"Kalo begitu, tanda tangani surat pemecatan anda dok." David menyerahkan berkas berisikan surat pemecatan untuk Azam yang masih berada di dalam amplop.


"Aiisshh kau ini." Azam sampai di buat geleng geleng kepala, kapan David menyiapkan semua ini, masa iya secepat itu.


"Lupakan.... Pergi kau." Usir Azam pada David, namun asisten sahabatnya itu sama sekali tidak beranjak dari hadapannya.

__ADS_1


"Astaga Emiiiirrr... Gue cuma bercanda."  Teriak Azam kemudian, menatap Emir yang sama sekali tidak terusik dengan kedatangan David.


Azam Mengibaskan tangannya pada David untuk pergi dari sana. Setelah mendapatkan anggukan dari Emir, David pergi dengan membawa kembali berkas tersebut.


"Huffth..Untung tidak sempat di buka." David menatap amplop yang dia pegang yang berisikan kertas kosong. Apa jadinya jika dokter Azam sampai membuka amplop ini. Bisa Mati seketika aku disana.


David bisa bernafas dengan lega saat sudah berada di luar ruangan Dokter Emir. Untung dia sering menghadapi kegilaan Dokter Azam dan Dokter Emir yang jika bercanda memang sedikit kelewatan, dan tidak jarang membuat nya jadi kuwalahan.


"Jadi bagaimana rencana lo kedepan?" Tanya Azam yang kembali fokus pada pembicaraan di awal.


"Yang pasti gue harus jauhi Fera dari Emira secepatnya. Apalagi sekarang Emira sedang mengandung. Dan jika berita kehamilannya tersebar disekolah, dia pasti akan merasa berkecil hati dan tidak lagi percaya diri." Terang Emir panjang lebar.


"Oke gue setuju. Tapi lo juga jangan lupain dokter Agung. Dia punya kekuasaan disini. Meskipun hanya beberapa persen saham. Tapi jika juga memiliki hak dan suara." Jelas Azam.


"Hemm.. masalah dokter Agung biar itu menjadi urusan nanti. Gue juga yakin dia ngga akan melanggar kontrak yang udah di sepakati sebelumnya dengan almarhum kakek."


"Gue butuh bantuan lo buat pantau Fera selama proses pemindahan ini. Gue juga akan kirim beberapa penjaga yang akan memantau Emira di sekolah. Setidaknya sampai beberapa bulan kedepan sebelum dia lulus."


"Apa Fera tau kalo Emira Hamil?"


"No...! selain keluarga, cuma lo dan dokter Ririn yang tau."


"Dokter Ririn?" Azam menimbang - nimbang tentang dokter Ririn, Dia juga harus memastikan dokter Ririn dapat di percaya.


"Gue rasa dokter Ririn dapat di percaya." ucap Azam kemudian.


**


"Ngapain sih Arka. Aiihh lepasih ngga!." Geram Kiran dan Della bersamaan pada Arkana. Pasalnya kedua cewe itu tengah di tarik paksa oleh Arkana untuk ke rooftop sekolahan. Sialnya lagi, ini saat jam istirahat sudah pasti banyak siswa siswi yang melihat aksi konyol Arkana ini.


"Sstt.. diem dulu."


"Mau ngapain lo bawa kita ke atap? Jangan macem - macem ya Arka. Gue bilangin bunda baru tau rasa lo." Teriak Kiran masih berusaha melepas tarikan tangan Arkana.


"Lo mau nurut atau gue cium?" Ancaman Arkana benar-benar ampuh untuk Kiran. Tapi dia melupakan Della.


"Arkaaa... lo kalo mau mesum sama Kiran jangan ngajakin gue."


"Ya allah Ondel.. mana ada gue mau mesum sama Kiran."


"Della bukan Ondel.. Sialan lo!!."


Akhirnya mereka bertiga sudah sampai di rooftop sekolah dengan susah payah. Tentunya susah payah bagi Arkana.


"Bentar! gue mau ngomong penting." Arkana berkeliling, karena takut ada orang lain disana selain mereka bertiga.


"Mau ngomong apaan buruan gue laper." Teriak Kiran.

__ADS_1


"Galak aja cantik ya Allah."


"Aduuuhhh fokus Arkana." Kesal Della. Bisa bisanya dia masih merayu Kiran di saat seperti ini.


"Tapi janji dulu kalian jangan ngomong sama Emira."


"Kenapa jadi bawa-bawa Emira?" Tanya Kiran.


"Iya karena ini soal Emira."


"Apaan, buruan." Geram Della.


"Janji dulu." Kiran dan Della berdecak. Tapi sedetik kemudian mereka menganggukan kepala.


"Kalian tau kenapa hari ini Emira ngga masuk sekolah?" Tanya Arkana pada keduanya.


"Sakit." Jawab Della, dan Kiran juga mengiyakan. karena memang itu yang tadi di infoka Emira di grup chat mereka.


"Emira...eemmm... sekarang dia..." Arkana sengaja menggantungkan ucapannya dengan wajah yang di buat khawatir. Dia ingin sedikit mengerjai kedua sahabat kakak iparnya ini.


Dugghh!!


"ASTAGHFIRULLAH KIRAAN"


Arkana mengaduh kesakitan karena tulang kakinya di tendang dengan keras oleh Kiran.


"EMIRA KENAPA ARKANAAAA???"


Kiran sudah emosi karen di tarik paksa oleh Arkana, apa lagi saat ini perutnya sedang kelaparan. Dan di tambah lagi Arkana yang sengaja mengulur-ulur waktu.


"Iissshhh emang ngga bisa di ajak becanda dua betina ini"


"Ampun." ucap Arkana cepat saat tangan Della sudah melayang di udara.


"Emira hamil."


"WHAT..!!!" Pekik Della dan Kiran bersamaan.


"Jangan bercanda lo." Ucap Della


"Ngapain gue bohong Ondel."


"Gue harus mastiin" Della hendak mengambil ponselnya, namun dengan cepat Arkana merebutnya.


"Arka balikin!!."


"Kan tadi gue udah bilang jangan kasih tau Emira. Bisa-bisa gue di jadiin rujak sama dia."

__ADS_1


** bersambung **


__ADS_2