Istri Kecil Dr. Emir

Istri Kecil Dr. Emir
Eps 41


__ADS_3

__Selamat membaca__ 💖💖


Azzam baru saja mengantarkan wanitanya sampai basement rumah sakit. Wanita bernama Ratu Klarisa itu baru saja pulang ke Indonesia setelah melakukan pekerjaannya di kota London selama 3 bulan, Tawaran kontrak iklan dan berbagai kegiatan modeling yang menggiurkan itu dia ambil secara sepihak tanpa memberi tahu Azzam terlebih dulu, yang nota bene nya adalah kekasihnya. Hal itulah yang membuat Azzam menyetujui desakan orang tuanya untuk bertunangan dengan Della. Terlebih bunda dan Ayah Azzam tidak pernah setuju dengan hubungan dirinya dan Ratu.


Azzam mempercepat langkahnya, kembali ke ruangannya untuk memastikan sesuatu.


Ting.. suara lift terbuka saat sudah sampai di lantai 3. Disana sudah ada Emira dan Emir yang juga sedang menunggu lift, namun sepertinya Azzam tidak menyadari kehadiran mereka, karena lelaki itu sibuk membalas pesan entah dari siapa. Dia langsung berjalan cepat meninggalkan lift tersebut.


"Kak Azam" Langkah Azzam tiba - tiba berhenti takala seseorang memanggil namanya.


"Eh Emir, Emira, mau kemana?"


"Mau periksa dede" Jawab Emira sambil tersenyum dan tangannya mengelus perutnya yang sudah mulai terlihat membuncit.


"Oh iya sudah. Kakak mau kembali ke ruangan." Azzam sudah mebalikan tubuhnya. Namun lagi - lagi harus terhenti karena pertanyaan Emira.


"Apa kak Azzam baru saja mengantar Della? anak itu tidak membalas pesanku." Terlihat raut wajah khawatir dan kesal bersamaan.


Azzam terdiam, Dan Emir yang melihat Azzam yang terdiam sudah di pastikan dia tidak mengetahui keberadaan Della.


"Ayo dokter Ririn sudah menunggu." Emir menarik halus tangan istrinya untuk memasuki lift yang baru saja terbuka. Bukan lift yang Azzam gunakan, melainkan lift yang ada di sebalahnya.


"Tapi Mas, aku khawatir sama Della."


Tadi saat mengantar Emira dan Della ke rumah sakit, Sopirnya mendapat panggilan dari Ayah nya Della untuk menjemputnya di bandara, karena sopir ayahnya Della sedang cuti. Dan Della di minta untuk pulang bersama kak Azzam.


"Sudah, tidak perlu khawatir, sudah ada yang mengantar Della."


"Kak Azzam kan?"

__ADS_1


"Bukan"


"Siapa mas?"


"Kenapa istriku ini cerewet sekali sih"


Emira hendak menjawab ucapan suaminya, namun sebuah kecupan mendarat di bibir Emira. Kecupan itu dengan cepat berubah menjadi lu**tan yang dalam, Emir terlalu terbuai dengan aktivitasnya, bahkan tidak menyadari jika pintu lift sudah terbuka. Emira terus memukul dada bidang suaminya untuk membuatnya tersadar.


Emir perlahan mengurai ciumannya, masih sempat sempatnya mengusap bibir basah Emira dengan ibu jari yang sudah dipastikan karena ulah dirinya. Dia tersenyum melihat wajah merah istri kecilnya itu.


"Astaga Mas suami benar - benar tidak punya malu" Batin Emira sudah menundukan wajahnya.


"Ayo" Emir menggandeng tangan istrinya untuk keluar dari dalam lift. Di depan sana sudah ada beberapa suster dan dokter yang sedang menunggu lift. Tentu saja mereka melihat jelas apa yang di lakukan dokter Emir barusan. Bahkan saat Dokte Emir dan Emira sudah berlalu, mereka masih diam tercengang dan beberapa sampai melongo dibuatnya. Tidak ada yang bergerak sampai pintu lift itu tertutup kembali, mereka masih sibuk menatap punggung 2 orang yang baru saja menghilang di balik tembok, yang satu dengan wajah dingin tanpa dosa. Dan satunya lagi dengan wajah merah menahan malu.


Siapa yang menyangka jika Dokter Emir bisa berbuat hal itu di tempat umum. Bahkan dengan wajah masih terlihat dingin.


"Astaga...Jantungku.. " Salah satu suster disana sudah tersadar lebih dulu dari hipnotis Dokter Emir. Dan diikuti yang lainnya. Mereka terlihat salah tingkah sendiri, memandang satu dan yang lainnya.


"Kenapa hem..? Tanya Emir saat masih berjalan menuju ruang dokter Ririn.


"Masih tanya kenapa? apa mas tidak punya malu?" Emira kesal sekaligus malu. Bisa - bisanya tampang suaminya setenang dan sedatar itu setelah membuat beberapa orang tercengang.


"Apanya yang salah?" Entah Emir pura - pura biasa saja, atau memang kelakuannya yang seperti ini. Emira hanya mampu menghela nafasnya dalam.


Kini mereka sudah sampai di ruangan Dokter Ririn, setelah mengetuk pintu dan di persilahka masuk. Emira di tuntun untuk langsung melakuka pemeriksaan.


Emir dengan setia menemani Emira, Bahkan tangannya tidak lepas menggenggam tangan sang istri namun dengan raut wajah tanpa senyum sama sekali.


Sudah beberapa kali Emira mencoba melepas tangannya karena merasa tidak enak dengan Dokter Ririn. Tapi suaminya lagi - lagi menarik tangannya untuk tetap dia genggam.

__ADS_1


Dokter Ririn hanya bisa tersenyum melihat tingkah istri kecil dokter Emir. Terlihat sangat lucu dan menggemaskan.


Perut Emira sudah di olesi oleh Jel dan dokter Ririn segera melakukan pemeriksaan. Saat ini usia Kandungan Emira sudah memasuki minggu ke 20.


"Bagaiman dok? apakah ada kendala atau sesuatu dok?" Setiap kali melakukan pemeriksaan Emira selalu merasa khawatir. Khawatir jika ternyata kandungannya bermasalah atau si jabang bayi ternyata tidak sempurna atau lain halnya. Mungkin wajar bagi setiap itu yang memiliki rasa kecemasan tersendiri untuk bayinya.


Karena orang tua mana yang akan tega jika melihat anaknya terlahir dengan tidak sempurna. Namun kembali lagi, semua itu adalah takdir dari sang Pencipta. Kita hanya perlu berbesar hati dan merawatnya dengan penuh kasih dan sayang.


Alhamdulilah semua pemeriksaan menunjukan jika janin yang ada di kandungan Emira sangat sehat dan sempurna, tidak ada yang kurang.


"Ini dia, jenis kelaminnya laki laki, selamat ya dok, selamat nona." Dokter Ririn tersenyum memandang Emira yang terlihat masih fokus pada layar monitor.


Saking teharunya Emira sampai menitihkan air matanya, namun dengan bibir yang tersenyum lebar.


Dia terus berucap syukur karena bayi dalam kandungannya sehat dan sempurna, soal jenis kelamin dia dan suaminya tidak pernah mempermasalahkan hal itu. Karena bagi Emir dan Emira, keduanya sama, sama sama titipan Allah yang harus mereka jaga dan rawat dengan baik.


Sepanjang pemeriksaan dokter Emir tampak diam dan sama sekali tidak bersuara, dia hanya sibuk mendengarkan penjelasan dokter Ririn dan sibuk menatap layar monitor yang menampakkan gambar 3 dimensi sang buah hati. Entah apa yang dia rasakan, karena tidak tergambarkan di raut wajahnya yang lempeng - lempeng saja sejak tadi.


Berbeda dengan Emira yang lebih cerewet menanyakan banyak hal. Namun 1 pertanyaan dokter Emir yang membuat dokter Ririn tersenyum.


Dokter Emir bertanya soal hubungan badan seperti apa agar tidak menyakiti istri dan anaknya.


Mendengar pertanyaan tersebut, wajah Emira seketika berubah merah, rasanya ingin sekali berlari dan menenggelamkan dirinya di dasar kolam.


"Astaghfirullah.." Hanya itu yang keluar dari mulut Emira sambil melirik wajah suaminya yang terlihat tanpa beban.


Dokter Ririn terkekeh kecil kemudian menjelaskan dari segi kedokteran soal berhubungan badan di minggu ke 20 ini.


Dan baru ini Emir tersenyum lebar bahkan menampilkan deretan giginya. Emira melihat itu sampai merinding dibuatnya.

__ADS_1


**Bersambung**


__ADS_2