
__Selamat membaca__ 💖💖
"Kakek"
"Ayah"
Fera dan Mommy Silvi berlari ke arah Kakek Agung yang terlihat sudah tidak sadarkan diri di lantai ruang tamu, terlihat darah segar mengalir dari bagian kakinya yang tertancap pecahan vas bunga yang mungkin tidak sengaja terjatuh bersamaan dengan roboh nya tubuh kakek Agung.
Fera segera melilitkan kain yang tadi dia ambil di atas meja, ke bagian kaki kakek agung yang terlihat masih mengeluarkan banyak darah segar, lantas dirinya segera memeriksa keadaan kakeknya.
Deg
Sekali lagi dia mengecek nafas, meraba pergelangan tangan, serta detak jantung kakek, namun seperti ada yang janggal.
'Tidak mungkin' ucapnya dalam hati. Fera menggelengkan kepalanya.
'Tidak.. ini pasti salah. Ayo Fera periksa dengan benar.'Â Batinnya terus beragumen.
"Ayah kenapa Fera?" Mommy Silvi sangat khawatir saat melihat wajah Fera yang tampak terlihat pucat saat memeriksa nadi Kakek Agung.
"Jawab Fera! jangan membuat mommy khawatir!." Fera masih tidak menjawab ucapan mommy nya, tenggorokannya terasa mencekal, bahkan kini dia sangat terlihat kesulitan berbicara.
"Mom..mommy.." Fera terlihat mulai menangis sesegukan.
"Bibi.. panggilkan sopir." teriak Mommy Silvi karena melihat Fera justru membuatnya semakin khawatir.
Sopir yang bibi panggil sudah sampai di ruang tamu bersama dengan satpam, Tanpa menunggu lama, kakek Agung langsung di bawa ke rumah sakit, dan dikarenakan rumah sakit Al Ghazi yang terdekat dengan rumahnya, jadi terpaksa mereka membawanya kembali ke rumah sakit tersebut.
__ADS_1
Mommy Silvi baru saja menghubungi suaminya untuk mengabarkan keadaan kakek Agung, dan siang itu juga suaminya akan langsung pulang ke Jakarta.
Di dalam mobil, Fera masih duduk terpaku tanpa suara, membuat mommy nya jadi tambah panik, apalagi melihat wajah kakek Agung yang tepat berada di antara dirinya dan putrinya itu sudah terlihat pucat, dengan tangan dan tubuh yang dingin dan terasa kaku. Mommy Silvi masih terus berusaha untuk berfikir positif, dan menepis pikiran buruk yang hinggap di kepalanya.
Sesampainya di rumah sakit, terlihat dokter dan beberapa perawat sudah menunggu di depan rumah sakit dan segera membantu menurunkan Kakek Agung dari dalam mobil, mereka membawanya ke IGD untuk mendapatkan pertolongan pertama.
"Dokter Fera." Azam mendekat ke Fera yang terlihat sangat jauh berbeda dari terakhir kali dirinya bertemu di rumah sakit sebelum hari pemecatan wanita itu. Fera terlihat sedikit kurus, dan efek wajahnya yang pucat, membuat Fera terlihat sedikit kusam.
"Azam." Gumam Fera tanpa embel-embel Dokter.
"Apa yang terjadi dengan dokter Agung?" tanya Azam, saat di kabarkan oleh asisten dokter Emir, bahwa dokter Agung masuk rumah sakit, dia yang sedang tidak ada kunjungan dan jadwal operasi langsung menemui Fera di ruang tunggu IGD. Meskipun dirinya tidak menyukai wanita itu, namun sebagai seseorang yang pernah menjadi teman dan rekan kerjanya, dia hanya ingin ber-simpati, dan juga menghormati dokter Agung sebagai senior nya.
"Kakek...." Belum sempat Fera menjawab, terlihat Dokter Emir datang bersama dengan Ayahnya.
"Bagaimana keadaan Dokter Agung." Ayah Barra membuka suaranya saat sudah berada di depan wanita yang dulu pernah bekerja di rumah sakitnya.
Fera hanya menggelengkan kepalanya sambil menunduk, sekuat tenaga dia menahan tangisnya, tidak tahu apa yang dia rasakan saat ini. Entah rasa sakit dan kecewanya pada Emir, atau rasa khawatir pada kakeknya, yang pasti perasaan tersebut kini tengah berperang dalam hati dan pikirannya.
Rasa benci dan dendamnya pada Emira semakin membesar, perkara kejadian lalu, benar-benar tidak membuatnya berubah atau introspeksi diri. Justru hatinya semakin mengeras dan membatu.
"Gadis sialan." Batin Fera mengepalkan tangannya kuat.
Bukan Fera jika tidak bisa menyembunyikan kebencian itu di depan orang - orang terdekat Emira, dia mencoba membuang nafas nya dalam dan memejamkan matanya untuk menghilangkan sejenak rasa panas yang menyelimuti dirinya.
Fera mendongak, menatap Dokter Emir dan Dokter Barra bergantian, wajahnya sudah di buat terlihat sangat menyedihkan, dia sudah bertekat akan mencari jalan untuk tetap dekat dengan Emir.
"Tadi aku sudah memeriksa kakek, tapi.. hiks.." Fera mendeda ucapnya, mengusap air mata yang keluar dari matanya.
__ADS_1
"Aku tidak merasakan nadi kakek." Ucapnya lirih sambil menangkupkan tangannya pada wajahnya.
"Bersabarlah, dokter sedang melakukan yang terbaik." Ujar Azam, yang hanya mendapatkan anggukan dari Fera.
Semenjak kedatangan dokter Emir, lelaki itu sama sekali belum bersuara, bahkan dokter Emir masih enggan untuk menatap Fera. Dan di mata Fera, lelaki itu masih sama, dingin dan tidak tersentuh, yang membuat dirinya semakin tertarik ingin menguasai Emir dan membuatkan tergila-gila padanya.
"Fera.." Mommy Silvi tampak mendekat pada anaknya, dia menyapa sekilas pada mantan rekan kerja Fera.
"Bagaimana kakek?"
"Masih di periksa mom."
"Sebenarnya apa yang kamu sembunyikan Fer ?, mommy yakin kamu mengetahui sesuatu."
"Tunggu lah sebentar mom, kita akan tau hasilnya saat dokter keluar."
Dan benar saja, saat mengucapkan hal itu, bersamaan dengan pintu ruang IGD itu terbuka. Dokter Haris keluar dengan raut wajah yang terlihat gugup dan tegang. Dia menggelengkan kepalanya, sudah di pastikan semua yang ada di sana kecuali mommy Silvi sudah bisa menebak apa yang terjadi.
Tubuh Fera seketika lemas, otot otot pada kakinya seketika menghilang, dan seperti tidak ada lagi tulang yang menyanggah kekuatan sehingga membuat dirinya oleng, dan saat akan terjatuh, tubuhnya langsung di sambar oleh Azam.
"Astaga Fera.. sebenarnya apa yang terjadi, kenapa kalian semua diam." Akhirnya mommy Silvi tidak bisa lagi membendung tangis nya, dia sudah yakin sesuatu yang buruk pasti baru saja terjadi.
Mommy meninggalkan putrinya yang masih setengah sadar itu, dan berlari ke ruangan kakek Agung. Dirinya terpaku saat memasuki ruangan, pandangannya terfokus pada satu titik, yaitu tubuh seseorang yang tengah berbaring dengan kain berwarna hijau yang sudah menutup seluruh tubuhnya, hanya menampakkan telapak kaki pucatnya disana.
Detik itu juga, lutut mommy Silvi sudah tidak bisa lagi menopang tubuhnya, dia ambruk dan kehilangan kesadaran dirinya.
Proses pemakaman itu di lakukan sore harinya, saat putra satu-satunya dokter Agung sudah kembali ke Jakarta. Pemakaman itu juga di hadiri oleh Dokter Emir dan semua jajaran dokter yang ada di rumah sakit Al Ghazi.
__ADS_1
Karena bagaimanapun juga, dulu Kakek Agung adalah dokter senior di sana, berkat tenaga dan jasanya, banyak pasien rumah sakit Al Ghazi yang tertolong.
**Bersambung**