Istri Kecil Dr. Emir

Istri Kecil Dr. Emir
eps 34


__ADS_3

__Selamat Membaca__💖💖


"Kiran...." Bunda Sela mendekati anak semata wayangnya yang tengah berbaring di kamarnya.


"Iya bun." Kiran membenarkan posisi dirinya untuk duduk di tepi ranjang.


"Apasih bun ?" tanya kiran karena bunda hanya diam saja.


"Apa kamu menyukai Arkana ?"


Kiran menautkan keningnya. "Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu bun?" Jawab kitan gugup, tidak biasanya bunda membahas soalnya Arkana.


"Bunda tau apa yang kamu rasakan sayang, bunda tidak akan melarang kalo kamu ingin berpacaran dengan Arkana, Bunda lihat dia lelaki yang ba..."


"Tidak ada lelaki yang baik di dunia ini." Ucap Kiran memotong ucapan bundanya. Wajahnya sangat dingin dan menyimpan kebencian yang mendalam.


"Sayang..." Bunda Sela memegang tangan Kiran.


"Tolong maaf kan ayah mu." Ucap bunda memohon.


"Cukup bunda! Kiran tidak ingin membahas lelaki itu." Kiran menarik tangannya dari genggaman sang bunda dan memalingkan wajahnya ke samping. Dia sama sekali tidak ingin mengingat lelaki sialan itu, apalagi menganggapnya sebagai seorang ayah.


"Kiran, tidak semua lelaki sama, jika kamu memang belum bisa memaafkan ayahmu tidak apa sayang, tapi jangan melampiaskan pada Arkana, bunda tau perasaanmu pada Arkana."


"Bunda tolong. Kiran ingin istiraha." Kiran membaringkan tubuhnya dengan memunggungi bundanya.


Bunda Sela menghela nafasnya, dia tau rasa sakit yang di terima anaknya sangat lah besar. Sudah hampir lima tahun dia mengurus putrinya seorang diri. Karena penghianatan suaminya yang di lakukan di depan mata putrinya sendiri.


"Tapi kamu harus turun sayang, karena Arkana sudah ada di bawah menunggumu." Cukup lama bunda Sela menunggu jawaban dari anaknya, tapi Kiran sama sekali tidak bergeming.


"Kiran..."


"Iya bun, iya Kiran turun.." Ucap kiran, kemudian pergi ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya.


"Bunda tunggu di bawah ya, jangan lama-lama kasihan Arkana." Teriak bunda dari luar kamar mandi.


"Bunda cerewet sekali."


Bunda Sela turun untuk menemui Arkana yang sudah ada di ruang tamu.

__ADS_1


"Maaf ya Ka, Kiran baru bangun, setelah pulang dari rumah sakit Kitan nya langsung tertidur." Ucap bunda sambil membawakan minuman untuk Arkana.


"Tidak perlu repot-repot tante, Arka cuma mau liat kondisi Kiran aja kok tante." ucap Arkana.


"Orang tante cuma bawa 1 gelas aja repot dari mana, klao tante bawanya 1 teko baru repot."


"Eh.. benar juga hahaha." Obrolan mereka mengalir dengan sendirinya, berbincang soal Kiran di sekolahnya, Arkana juga sudah jujur pada bundanya Kiran jika dirinya menyukai anaknya, Tapi Kiran nya seperti menutup diri, dan bunda hanya berpesan agar Arkana terus berjuang untuk meluluhkan hati Kiran.


"Kenapa anak itu lama sekali... Eh itu dia." Bunda melihat Kiran yang sedang menuruni anak tangga. Kiran memang tidak berhijab seperti Emira, di sekolah maupun di luar sekolah. Kiran turun dengan mengenakan baju kaos pendek longgar kesukaan nya dan celana training panjang. Rambut panjang ikal nya di biarkan tergerai begitu saja, melihatnya seperti itu saja membuat Jantung Arkana sudah berdetak sangat kencang. Selalu saja seperti itu jika di dekat Kiran, meskipun gadis itu sangat jutek dan galak.


"Kenapa lama sekali?" tanya bunda Sela saat anaknya sudah duduk di sofa ruang tamu bersebrangan dengan Arkana.


"Yang penting kan turun bun." Jawabnya asal.


"Astaga ini anak."


"Maafkan putri tante ya Arka. Kiran sebenarnya anak yang manis dan baik." Ucap bunda Sela pada Arkana.


"Hehe iya tan, Arka tau itu."


"Ck.. mau ngapain sih, perasaan belum ada sehari ngga ketemu." Ketus Kiran.


"Ekhem.. gimana keadaan lo ?" tanya Arkana mencairkan suasanya yang terasa sangat dingin.


"Ya seperti yang lo liat, gue baik baik aja."


Arkana memandang Kiran lekat, namun gadis itu sama sekali tidak menatap dirinya, Kiran lebih memilih untuk fokus pada ponselnya.


"Kiran.. ayo kita Nikah." Ajak Arkana langsung.


Deg..


Jantung kiran berdetak sangat kuat, satu kalimat itu sudah cukup membuat dirinya meremang.


"Gila lo ya." Kiran sangat terkejut saat laki-laki yang ada di depannya ini tiba-tiba mengajak nya menikah. Sungguh lucu bukan, memang dia pikir kehidupan menikah akan semudah itu apa.


"Gue ngga bercanda. Gue bakal buktiin gue bisa bahagiain lo nantinya."


"Dengan apa ?" tanya Kiran menatap mata Arkana, pandangannya sangat tajam, membuat suasana ruangan menjadi terasa lebih mencekal.

__ADS_1


"Apa yang bisa lo kasih ke gue? apa yang bakal lo kasih buat anak-anak gue? Arka, menikah bukan hanya soal cinta, tapi juga kebutuhan dan tanggung jawab, gue yakin lo tau itu. Banyak orang yang menikah hanya bermodal cinta tapi ujung ujungnya berkhianat, dan gue benci itu." Ucap Kiran dengan tatapan dingin pada lelaki yang ada di depannya.


"Kiran gue.."


"Cukup Ka, gue tau lo mampu soal materi, tapi gue ngga butuh itu."


"Terus apa yang lo mau." tanya Arkana.


"Gue mau lo berenti deketin gue, gue ngga butuh siapapun dalam hidup gue." Ujar Kiran lalu berdiri.


"Kiran.." ucap Arkana dan Bunda bersamaan. Bunda Sela kembali berjalan menuju ruang tamu. Sebenarnya bunda tidak pergi jauh dari sana, dia hanya pindah ke ruang keluarga yang bersebelahan dengan ruang tamu.


Bunda Sela juga cukup terkejut saat Arkana dengan berani mengajak anaknya menikah. Meskipun dia tau Arkana bisa membahagiakan putri satu satunya itu, tapi tetap saja, ini masih terlalu dini baginya. Dan benar apa kata Kiran, Pernikahan bukan hanya soal cinta tapi juga tanggung jawab. Tapi bunda Sela juga tidak menyukai jawaban anaknya yang mengatakan dirinya tidak butuh siapapun.


"Bunda! tolong kali ini saja. Apapun akan Kiran lakuin. tapi untuk mempercayai laki laki kiran tidak bisa". Kiran menegaskan sebelum bunda Sela kembali bersuara.


"Dan satu lagi. Kalo lo cuma mengandalkan kekayaan orang tua lo, lo ngga akan dapetin apapun yang lo mau."


Kiran meninggalkan ruang tamu setelah berucap hal tersebut pada Arkana.


Arkana dan Bunda Sela mematung menatap punggung Kiran yang perlahan menaiki anak tangga dengan pikiran mereka sendiri.


'kenapa hatimu jadi keras seperti ini nak, bunda sangat merasa bersalah jika kamu sampai tidak mau menjalin hubungan dengan siapapun.' ucap bunda dalam hati


Sedangkan Arkana mengepalkan tangannya, memandang lurus ke depan dengan pikiran yang entahlah hanya Arkana yang tau.


"Tante maaf, Arka pamit pulang. " Setelah menyalami tante Sela, Arkana meninggalkan rumah megah itu dengan tatapan yang lebih dingin dari sebelum dia memasuki rumah ini. Bahkan satpam yang menyapanya saja tidak dia hiraukan.


Arkana mengendarai motor sport nya dengan kecepatan tinggi. Dia buka marah, tetapi lebih kecewa pada dirinya sendiri karena tidak bisa meyakinkan Kiran.


"Gue bakal turutin apa mau lo." Ucap Arkana dengan melajukan motor sport nya dengan kecepatan penuh.


NB : Cerita Arkana dan kiran akan di pisah ya kakak, mereka akan punya Lapaknya sendiri. tapi tenang aja. masih di noveltoon dan masih di akun yang sama kok 🥰


Mohon bantuannya dengan like dan komen ya kak, biar aku makin semangat Up nya. 😊😊


Maaf juga kalo masih banyak typo ya kakak🥰


Terimakasih yang sudah selalu mensuport 💖💖

__ADS_1


*Bersambung**


__ADS_2