Istri Kecil Dr. Emir

Istri Kecil Dr. Emir
Eps 50


__ADS_3

^^^Hai kakak, terimakasih yang masih setia dengan cerita Istri Kecil Dr. Emir. Mohon bantu like dan komennya ya kak, biar aku tambah semangat up nya 🥰


__Selamat membaca__ 💖💖


Drama soal kamar bayi sudah selesai, Emira sudah mewanti - wanti sang suami agar tidak lagi meributkan sesuatu yang tidak penting dengan bundanya, biarkan saja bunda membelikan apapun yang dia inginkan untuk sang cucu, toh suaminya itu masih bisa memberikan yang lain.


"Sayang kamu tidak menyesalkan mengandung anakku saat ini ?" Kening Emira berkerut, tidak biasanya sang suami berbicara soal ini.


"Kenapa tiba - tiba tanya seperti itu mas ?" Emira membelai wajah sang suami yang saat ini tengah tiduran di pahanya menghadap sang buah hati yang masih berada di perut Emira.


"Tidak papa, aku hanya merasa bersalah, Arkana sebentar lagi akan melanjutkan kuliah di luar negeri, Kiran dan Della juga melanjutkan kuliahnya, apa kamu tidak masalah jika menunda kuliahmu demi anak kita ?"


Emira tersenyum, jadi hal ini yang mengganggu pikiran sang suami selama beberapa hari ini.


"Kenapa aku harus menyesal mas?, aku bahagia dengan kehamilanku, justru aku menyesal karena dulu aku sempat ingin menunda hamil, tapi sekarang aku sangat bahagia. Jangan merasa bersalah seperti itu, jangan membuat kebahagiaanku berkurang karena keraguanmu terhadapku mas. Aku janji akan berusaha menjadi bunda yang baik untuk anak kita." Emir benar - benar sangat bersyukur memiliki istri Emira, meski usia Emira jauh terbilang muda tapi dia sangat dewasa.


"Terimakasih sayang." Emir memeluk perut sang istri dan mencium perutnya bertubi - tubi.


"Iya ayah.. ayah tidak boleh bersedih ya, sebentar lagi kita akan bertemu." Ujar Emira menirukan suara khas anak kecil. Emir hanya bisa terkekeh mendengarnya.


**


Acara kelulusan berlangsung meriah, kini mereka sudah resmi menjadi alumni SMA Tunas Harapan, Emira, Kiran dan Della saling memeluk dengan tangis bahagia, tidak terasa waktu 3 tahun telah mereka lalui dengan terus bersama, banyak lika - liku di antara kehidupan ketiganya, namun mereka selalu menguatkan satu dengan yang lainnya. Hingga saat ini mereka sudah lebih dewasa, bahkan salah satu di antaranya sudah menikah dan sebentar lagi akan memiliki anak.


"Sehat - sehat sayang dan bundanya." Della mengelus perut Emira yang sudah terlihat besar itu, dirinya masih tidak menyangka, jika sahabatnya akan menjadi seorang ibu sebentar lagi.


"Siap tante, tante juga kan sebentar lagi akan menyusul." Della yang di katakan seperti itu memutar bola matanya malas. Dia memang belum menceritakan yang sebenarnya pada Emira, Della akan menceritakan nanti saat Emira sudah melahirkan anaknya, untuk saat ini biarkan itu menjadi rahasia dirinya dan Kiran.

__ADS_1


"Aduh.... jangan cemberut dong sayang, sini peluk." Kiran yang mengerti itu mencoba mengalihkan perhatian keduanya.


**


Emira, Kiran dan Della kini tengah berada di taman rumah Emira, setelah 1 minggu yang lalu mereka merayakan kelulusannya.


"Kenapa berubah pikiran, jadi kamu mau ninggalin aku sama Della ?" Emira sudah menangis sejak tadi, pasalnya Kiran mendadak memberitahu bahwa dirinya akan merubah rencananya untuk kuliah di luar negeri, padahal sebelumnya dia sudah mendaftar kuliah di bandung, dan besok dia sudah harus terbang karena banyak yang harus di urus.


"Dimana ?" Tanya Emira.


"Singapore sayang, masih dekat, jika rindu kamu bisa mengunjungi aku disana."


"Tidak mau. Kamu saja yang kesini." Emira masih kesal pada Kiran karena tidak memberitahunya jauh - jauh hari.


"Iya iya nanti jika libur semester aku akan pulang. Sudah dong jangan cemberut seperti itu."


"Hemm." Hanya itu yang Della katakan.


"Ayo dong, aku mau pergi jauh loh ini, tidak ada yang mau memelukku ? nanti kalo kangen susah loh peluknya ?"


Dan akhirnya mereka saling memeluk dengan Erat, Sebenarnya Emira sudah mengetahui apa yang Della atau pun Kiran sembunyikan darinya, bukan 1 bulan atau 2 bulan Emira mengenal mereka, melainkan sudah bertahun - tahun, sudah pasti Emira dapat merasakan jika ada yang disembunyikan darinya, terlebih Kak Azam sudah menceritakan semuanya waktu itu.


Emira kecewa pada Kak Azam karena sudah membuat sahabatnya sakit hati, dan dia juga sempat kecewa pada Della karena anak itu tidak kunjung menceritakan yang sebenarnya, Tapi Emira tau Della melakukan itu pasti punya alasan, dan Emira menghargai itu.


**


1 bulan kemudian

__ADS_1


Emira dan suaminya baru saja pulang dari rumah sakit untuk memeriksa kandungannya, prediksi dari Dokter Ririn kurang dari 1 minggu lagi kemungkinan Emira sudah bisa lahiran, Emira tetap ingin melahirkan normal karena memang kondisi tubuhnya sehat, dan posisi  kepala bayi yang sudah berada di bawah, meskipun begitu sang suami tetap menyiapkan kemungkinan hal lain, sehingga meminta dokter Ririn untuk tetap menyiapkan tim jika sewaktu waktu di haruskan operasi sesar.


Malam harinya semua keluarga Al Ghazi sudah berkumpul di ruang makan, ini adalah malam terakhir sebelum besok Arkana akan terbang ke Amerika untuk memulai kuliahnya.


Meskipun masih 1 minggu lagi kuliahnya baru akan di mulai, tapi Arkana memilih untuk terbang lebih awal. Dirinya ingin mengenal lingkungan tempat barunya terlebih dulu.


"Ingat tujuanmu kuliah untuk apa, kamu berada di negara yang memiliki pergaulan bebas, jika kamu hanya ingin berfoya-foya dan merasakan kebebasan apalagi sampai bermain wanita,  jangan pernah berani menginjakkan kakimu untuk kembali ke rumah ini. Ayah tidak akan membenarkan itu." Ayah Barra memulai pembicaraan saat semuanya sudah selesai makan malam.


"Iya yah." ini bukan lah pesan pertama yang Arkana terima, hampir setiap malam dirinya mendapatkan wejangan untuk selalu mengingat pada Allah agar tidak terjerumus pergaulan bebas, meskipun berat bagi orang tua melepas anaknya seorang diri negara lain, tapi karena keinginan yang kuat dari Arkana, ayah dan bunda hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kesuksesan anaknya, dan berharap anak bungsunya itu tetap terjaga sampai selesai menempuh pendidikannya kelak.


"Apa tidak mau di pikirkan lagi Ka ?" Kini bunda yang berbicara.


"Bun.." Potong Arkana karena sudah 1 minggu ini bundanya uring - uringan sendiri.


"Huh,, kenapa punya anak tidak ada yang mau menurut sama bunda."


"Jangan drama, Bunda bisa kesana jika mau."  Ucap Arkana datar. Mode dingin yang dulu dimiliki oleh Emir seakan berpindah 100% ke tubuh adiknya, bahkan jauh lebih dingin dan sadis jika di dengar, bunda hanya bisa menghela nafas menghadapi anak - anaknya sekarang. Harapan dia hanya pada Emira dan calon cucunya nanti.


"Kamu juga tidak ada rencana untuk melanjutkan pendidikan kedokteranmu di luar negeri ?" Pertanyaan bunda yang kali ini ditujukan untuk Emir.


"Maksud bunda ?" Tanya Emir memang tidak paham.


"Iya melanjutkan pendidikan profesor mungkin, biar nanti Emira dan baby, bunda saja yang menjaga, kamu pergi saja sekalian dengan Arkana."


"Sembarangan saja bunda kalo ngomong." Ucap Emir cepat.


**Bersambung**

__ADS_1


__ADS_2