Istri Kecil Dr. Emir

Istri Kecil Dr. Emir
Eps 35


__ADS_3

__Selamat Membaca__ 💖💖


"Gila sih, ngga kakaknya, ngga adiknya cakep semua."


"Ini sih bibit unggul."


"Gue denger - denger kakak nya itu Dokter. Ya Tuhan... mudah - mudahan itu jodoh gue."


Bisik - bisik dari para siswi yang tengah duduk berjejer di depan kelas.


"Loh itu bukannya Kak Emir. Ngapain suami lo ke sekolah? " Tanya Kiran menghentikan langkahnya, mereka baru saja dari kantin dan ingin kembali ke kelasnya. Kiran tidak sengaja melihat ke arah ruang guru saat tiba - tiba banyak siswi yang bergerombol berlarian dari dalam kelas.


"Dimana?" Tanya Emira.


"Ada urusan apa Mas Emir ke sekolah?" Emira tiba - tiba panik sendiri. Dia melihat suaminya baru saja memasuki ruang kepala sekolah bersama dengan Arkana.


"Arkana juga ikut ke ruang kepala sekolah, kira-kira ada apa ya? kenapa ngga ada yang ngabarin gue sih.!" Kesal Emira.


"Lo aja ngga tau, apalagi kita." ujar Kiran.


"Tapi kalian perhatiin ngga sih, beberapa minggu terakhir ini, Arkana tu beda banget. Dia lebih pendiam dan terkesan dingin. Apa dia lagi ada masalah ya?" Tanya Della pada kedua sahabatnya, karena merasa perubahan sikap Arkana yang sangat jauh berbeda dari beberapa minggu yang lalu.


Saat di rumah sakit waktu insiden itu terjadi, mereka masih mengobrol dengan akrab. Tapi sekarang Arkana sangat membatasi diri dengan mereka, untuk menyapa saja sudah tidak pernah.


Hanya pada Andi dan Anggasta, Arkana masih terlihat sedikit Akrab. Bahkan Arkana juga berpindah tempat duduk di paling pojok bagian depan. Dan saat di kantin dirinya tidak ikut bergabung di meja yang sama dengan Emira dan kedua sahabatnya seperti sebelum - sebelumnya. Dia lebih memilih membuka meja sendiri bersama kedua temannya.


"Gue juga merasa kehilangan Arkana, di rumahpun Arkana jadi pendiam, kadang kalo bukan karena anak ini, dia sama sekali tidak mau mengobrol." Ujar Emira tiba - tiba melo sendiri sambil mengelus perutnya yang sudah mulai buncit di kemahilan ke 15 minggu ini, dia juga meresa kehilangan sosok Arkana yang periang dan selalu bertingkah konyol.


Kiran yang mendengar hal itu, hanya mampu terdiam, bohong jika dia tidak mengkhawatirkan keadaan Arkana, bohong jika dia tidak merindukan keceriaan laki-laki itu, Namun trauma dalam dirinya lebih besar dari perasaannya saat ini pada Arkana, kepercayaan dan kenyamanan yang dulu dia miliki untuk seorang lelaki telah hilang, di renggut oleh ayah kandungnya sendiri.


Lelaki yang dulu menjadi cinta pertamanya telah menancapkan pedang teramat dalam di hatinya, sehingga menimbulkan lubang yang teramat besar dan begitu sulit untuk ditutupi.

__ADS_1


Baginya tempat ter-nyaman dan ter-aman adalah dirinya sendiri dan Bunda Sela. Dan orang yang bisa dia percaya selain bundanya adalah Della dan Emira.


"Kiran, lo ngga papa ?" Tanya Della saat melihat Kiran tidak beranjak sama sekali dari tempatnya.


"Eh... ngga papa kok, ayo cabut ke kelas." Kiran mendahului Della dan Emira yang kini tengah memandang dirinya dengan penuh tanda tanya.


"Kenapa dengan mereka berdua ?" Emira hanya menjawab dengan mengedikan bahunya dan menggelengkan kepala tanda tidak tau.


Mereka memang salih bersahabat, bahkan saat mereka masih duduk di bangku sekolah dasar. Namun mereka memiliki sifat yang sama-sama tidak ingin membuat sahabatnya sedih, sehingga luka yang mereka alami kerap mereka simpan sendiri. Sampai waktu yang akan membuka rahasianya sendiri.


___


Bel masuk usai istirahat telah berbunyi, namun masih banyak siswi yang terlihat masih duduk - duduk di luar kelas nya. Termasuk Kiran dan Della yang di paksa oleh Emira untuk tetap berada di sana, menemani si bumil yang sedang kepanasan hatinya.


Bagaimana tidak panas, jika suaminya saat ini menjadi bahan perbincangan para gadis - gadis yang terlihat kehausan akan kasih sayang. Memandang, dan memuja suaminya dengan gamblang di depannya.


"Ck.. mereka sangat menjijikan." Batin Emira yang masih terus mendengar bisikan-bisikan ghoib itu.


"Sabar dong bun, mungkin ada hal penting yang sedang mereka bicarakan." Della mencoba menenangkan Emira yang mulai gelisah seperti cacing kepanasan.


Semua siswi mulai memasuki ruang kelas, karena melihat beberapa guru yang keluar dari ruangan mereka untuk  menuju kelas masing-masing. Akhirnya, Emira Della dan Kiran juga terpaksa masuk ke dalam kelasnya.


Pelajaran sudah berjalan selama 30 menit yang lalu, terdengar suara pintu yang di ketuk dari luar dan menampakkan Arkana yang memasuki kelas setelah di persilahkan oleh guru.


Arkana melewati meja Kiran tanpa memandangnya sama sekali, seolah tidak pernah mengenal sebelumnya, benar-benar tidak terlihat seperti Arkana yang dulu, Arkana yang selalu menggoda Kiran dan membuat kegaduhan seluruh siswi karena merasa cemburu dengan sikap Arkana yang ditunjukan untuk Kiran.


Della dan Emira saling memandang, merasakan hawa dingin di antara keduanya.


"Gue harus pastiin sesuai." Batin Emira menyusun rencana.


**

__ADS_1


Sementara itu di tempat lain.


"Kakek... Fera tidak bisa seperti ini terus, semenjak keluar dari rumah sakit Emir, tidak ada satupun rumah sakit yang mau menerima Fera." Keluh Dokter Fera pada Kakeknya. Dokter Agung memijat keningnya karena merasa pusing dengan tingkah cucunya yang selalu mengeluh akhir-akhir ini.


"Kalo begitu berhenti menjadi dokter." usul kakek Agung karena sudah tidak tau lagi bagaimana cara membantu cucunya untuk masuk ke rumah sakit ternama lainnya di kota ini.


Beberapa rumah sakit yang di usulkan dokter Agung yang juga merupakan rekannya, selalu menolak dengan alasan tidak ada quota.


"Kamu bisa tinggalkan dunia dokter mu dan memulai bisnis bersama Daddy mu." Ujar Mommy nya Dokter Fera dengan santainya sambil mengupas buah ditangannya.


"Mom diamlah! bukannya membantu, selalu saja mommy mengusulkan hal yang tidak masuk akal."


"Tidak masuk akal apa nya ?"


"Menurut mommy, menyuruh Fera berhenti menjadi dokter itu sesuatu yang masuk akal?" Kesal dokter Fera.


"Tidak ada yang salah dengan itu, toh kamu juga sudah tidak di butuhkan di dunia doktermu." Ucap mommy menohok.


"MOM!!!." Dokter Fera benar-benar geram pada mommy nya ini yang tidak pernah mendukung dirinya sejak dulu. 


Dunia kedokteran adalah jembatan yang dokter Fera pilih karena ingin dekat dengan Emir. Ambisinya untuk mendapatkan lelaki itu membuat nya jauh dari kedua orang tuanya. Hanya kakek Agung yang selama ini mendukung dokter Fera untuk menjadi seorang dokter.


"Sudah mommy katakan sejak awal keluarga Emir tidak pernah menganggap mu, jangan mempermalukan dirimu hanya untuk seorang Emir." Mommy Silvi meninggikan volume suaranya, karena lagi-lagi anak pertamanya ini tidak pernah mau mendengar ucapannya.


"Seorang Emir yang mommy maksud adalah orang yang sangat Fera cintai." Perdebatan sengit antara anak dan ibu itu terus berlanjut sampai membuat pusing kakek Agung.


Kakek Agung meninggalkan ruang makan tanpa di sadari oleh dua wanita beda generasi yang masih terus beragument.


Praaangg...


Terdengar suara vas bunga bersamaan dengan suara benda keras yang terjatuh dari arah ruang tamu.

__ADS_1


**Bersambung**


__ADS_2