Istri Kecil Dr. Emir

Istri Kecil Dr. Emir
Eps 15


__ADS_3

-Selamat membaca- 💖💖


"David, kau lihat sendiri bukan, begitu banyak tikus di rumah sakit ini, bagaimana ayah bisa mempercayakan rumah sakit ini pada orang seperti Riko." Ujar Emir.


"Dan betapa bodohnya Dokter Riko karena sudah berani bermain-main dengan keluarga Al Ghazi." sambung David


Emir sudah berhasil menendang Riko dan 5 orang lainnya yang terbukti bersalah, selain menggelapkan dana rumah sakit, mereka juga melakukan malpraktek pada seorang anak laki laki berusia 12 tahun.


Kejahatan berlapis yang mereka terima sudah cukup membuat yang lainnya menciut, Emir akan pastikan, jika ada yang berani mengganggu dan mencemarkan nama baik Al Ghazi kembali, maka dia tidak akan memberi ampun.


Emir juga merekrut beberapa Dokter pilihan untuk menggantikan mereka yang sudah bermain api di belakang nya, Emir sendiri yang memilih nya, beberapa adalah rekan Emir saat dia menjalankan koas nya di Amerika.


**


Tepat pukul 14.00 WIB, Emira sudah sampai di Rumah keluarga Al Ghazi, Emira di Jemput oleh Bunda Daniah dan Ayah Barra, mereka tidak bisa menunggu di rumah dan mempercayakan menantunya pada anak bungsu nya itu.


Della dan Kiran juga ikut mengantar sampai rumah Emira, ternyata di sana juga sudah ada Nenek yang sebelumnya di hubungi oleh ayah Barra jika Emira mengalami kecelakaan.


"Sayang.. kenapa bisa seperti ini ?" Tanya nenek dengan memeluk tubuh Emira.


"Emira baik-baik saja Nek, jangan khawatir." Emira mencoba menenangkan nenek nya, bahkan saat ini tubuh sang nenek sudah bergetar.


Mendengar kata kecelakaan, membuat nenek sedikit trauma, pasalnya hal itu juga yang merenggut nyawa kedua orang tua Emira.


"Kita masuk ya nek." Emira menggandeng nenek dengan tangan sebelah kanan, sedangkan tangan kirinya di gandeng oleh bunda Daniah.


"Biar Emira sama kita saja tante." Ucap Della ingin membantu sahabatnya untuk menuju ke kamar Emira.


"Tidak papa sayang, biar bunda saja."


"Nenek tidak perlu mengantarkan Emira, istirahat saja ya, Nenek kan tidak boleh cape, Emira tidak papa nek." Ucap Emira.


"Nenek rindu cucu nenek yang nakal ini, jadi biarkan nenek mengantar mu ke kamar. Jangan cerewet!."


Akhirnya mereka semua mengantarkan Emira ke kamar nya yang berada di Lantai 2, kamar dirinya dan juga Emir suaminya.


Nenek sangat bersyukur, selain tempat yang jauh lebih bagus dan nyaman, Emira juga di perlakukan sangat baik oleh keluarga suaminya, mereka semua menyayangi Emira seperti anak sendiri.


Sesampainya di kamar, Emira diminta untuk langsung istirahat.


"Della, Kiran, kalian istirahat dan bersih bersih lah, pasti kalian juga cape kan." Ujar Bunda Daniah pada Della dan Kiran.


"Tidak perlu tante, sebentar lagi kami akan pulang." Jawab Kiran yang masih berdiri didekat ranjang Emira.


"Gue bakal marah kalo kalian nolak perintah bunda." Ucap Emira.


"Jangan sungkan begitu, kalian juga sudah bunda anggap seperti anak sendiri." Bunda Daniah mengelus lengan Della dan Kiran bergantian.


"Ayo bunda antar kalian."


Mau tidak mau Della dan Kiran mengikuti langkah bunda menuju kamar tamu. Tepat di sebelah kamar Emira ada ruangan besar yang tadi bunda bilang sebagai tempat kerja suami nya Emira, Dan kamar tamu di lantai 2 ini berada di sebelah ruang kerja tersebut.


Kiran juga melihat ada kamar yang luasnya hampir sama dengan kamar Emira tepat di seberangnya.


"Astaga." ucap Kiran cukup keras.


"Kenapa sayang?" tanya bunda Daniah karena tiba tiba Kiran berhenti seperti kaget melihat sesuatu.


"Ah, tidak papa tante."

__ADS_1


Bunda Daniah dan Della berjalan lebih dulu menuju kamar tamu.


"Gila ya tu orang, ngapain berkeliaran ngga pake baju, apalagi pintu kamar nya ngga di tutup. iiihhh."


Kiran berlari mengejar Della dan Bunda Daniah yang sudah masuk ke dalam kamar tamu. Tadi dia melihat Arkana yang sedang bertelanjang dada, hanya menggunakan celana chino selutut.


"Tubuh nya sangat bagus dan atletis." Batin Kiran saat sudah ada di kamar tamu. Bunda Daniah baru saja berpamitan untuk turun.


"Aiisshhh, pikiran apa ini.! Kenapa aku jadi membayangkan tubuhnya." Kiran buru buru menendang pikiran itu keluar dari area otaknya.


"Kenapa lo?. Aneh!! " Della berlalu menuju kamar mandi meninggalkan Kiran yang masih menggelengkan kepalanya.


---


Della dan Kiran  bergegas membersihkan diri, kemudian beranjak ke kamar Emira


tok tok tok,


"Mir, kita masuk ya."


"Iya, masuk aja, ngga di kunci pintunya."


Della dan Kiran masuk ke kamar Emira, yang ternyata sudah tidak ada nenek di sana, Emira tengah duduk di sofa dekat jendela yang menghadap ke arah balkon.


"Lagi ngapain lo?" Tanya Kiran.


"Sore - sore jangan bengong, entar kesambet." balas Della.


"Astaghfirullah ni anak ya." timpal Emira kesal.


"Eh, kok gue ngga liat Suami lo, kemana ?" tanya Della


"Emang dia ngga tau keadaan lo, ?" timpal Kiran.


"Gue ngga tau, kan hp gue rusak." Emira menghembuskan nafas nya kasar, jika boleh jujur, dia butuh Emir, dia sangat merindukan suaminya.


**


Siang berganti Malam, Emir baru sampai di Hotel pada pukul 21.15 WITA.


Dia mengambil handphone yang ada di kantongnya, sudah ada 12 panggilan tak terjawab, 5 dari adiknya dan sisanya dari sang bunda.


Emir menekan tombol panggilan ke Bunda nya, namun tidak ada jawaban, kemudian dia coba menghubungi Arkana pun sama tidak ada jawaban.


"Kemana mereka, kenapa semua tidak di angkat."


Sebelum menghubungi bunda dan Arkana, dia lebih dulu menghubungi Emira, namun hanya ada tanda memanggil, yang artinya handphone Emira sedang tidak aktif.


Tok Tok Tok


Pintu kamar hotel di buka, dan seorang pelayan membawakan pesanan Emir, makan malam yang memang sengaja Emir pesan.


Setelah makan dan membersihkan diri, dia tidak langsung istirahat, membuka laptop nya untuk memeriksa beberapa email dan memantau rumah sakit yang ada di Ibu Kota.


**


"Assalamualaikum bunda. Emira di mana ?" sapa Emir saat sambungan telepon ibu terhubung.


"Waalaikumsalam, dari mana saja kamu hah?  dari kemarin susah sekali di hubungi!." omel bunda

__ADS_1


"Emir sibuk bunda, mana Emira?"


"Tunggu! bunda ke kamar Emira dulu."


Sambungan itu masih terus terhubung


"Memang nya Hp Emira kemana bun, kenapa telepon nya tidak pernah aktif ?" Tanya Emir.


"Kemarin istrimu mengalami insiden saat di camping." Bunda berhenti di ruang keluarga sejenak, untuk menceritakan semua yang terjadi pada Emira, hal itu cukup membuat Emir khawatir, namun bunda memastikan jika saat ini Emira sudah baik baik saja.


"Emira, sayang, kamu sudah bangun ?" tanya bunda Daniah saat sudah di depan kamar Emira, mengetuk pintu menantunya dan membuka nya sedikit.


"Sudah bunda." Jawab Emira keluar dari ruang ganti, karena dirinya baru saja mandi pagi.


Hari ini adalah hari sabtu, biarpun sekolah Emira libur, namun karena Emira sudah terbiasa bangun dan mandi pagi, tidak menjadikan dia jadi bermalas - malasan.


"Ini ada telpon dari Emir." Bunda Daniah menyerahkan telepon nya pada Emira.


"Bunda tinggal masak dulu ya sayang."


"iya bunda, terimakasih bun." Jawab Emira


"Assalamualaikum mas."


"Waalaikumsalam, bagaimana kondisimu?"


"Aku baik mas."


"Kemana saja Arkana, apa dia tidak menjagamu selama disana?"


Sudah pasti suaminya tau hal ini, terdengar jelas suaranya menahan amarah dan khawatir sekaligus.


"Ada mas, dan Arka juga yang menolongku, jangan memarahinya."


"Mas kapan pulang?" Tanya Emira mengalihkan perhatian Emir.


Terdengar helaan nafas kasar di seberang telepon sana.


"Maaf kan aku Emira, sepertinya aku masih belum bisa pulang beberapa hari kedepan." Jawab Emir.


"Apakah urusannya masih belum selesai?"


"Sudah. Hanya saja perlu pemantauan lebih lanjut." jelas Emir


"Baik lah." Emira sedikit merasa kecewa, apakah hanya dia yang merasakan rindu itu sendiri.


"Tunggu aku pulang. Kamu jaga diri baik baik selama tidak ada aku disana."


"Iya mas." Jawab Emira


Panggilan telepon tersebut terputus saat keduanya sudah mengucapkan salam.


Sebenarnya Emir sudah berencana saat urusannya selesai, dia akan kembali ke ibu kota, namun sepertinya dia harus mengundur kepulangannya untuk beberapa minggu ke depan.


Dia harus menghandle sendiri rumah sakit ini, memantau, dan memastikan orang orang pilihannya dapat bekerja dengan baik untuk nantinya dapat dia percaya.


Dia tidak ingin kejadian beberapa waktu lalu terulang kembali, terkait rumah sakit yang ada di Jakarta dia tidak perlu khawatir, karena di sana sudah ada ayah, dan juga orang kepercayaan Emir.


**Bersambung**

__ADS_1


__ADS_2