
__Selamat membaca__💖💖
"Karena ini di dalam mobil sayang. Bukan di kamar mandi." Ucap Emir gemas sambil mencubit pipi Emira yang sudah mulai cabi.
"Ih mas tidak jelas."
Mereka sudah sampai di rumah, dan kini sedang mengobrol di ruang tamu bersama ayah, bunda, dan suaminya.
Emira berpamitan pada mereka untuk beristirahat terlebih dulu, karena dirinya sangat mudah mengantuk di awal kehamilan pertamanya ini.
"Emir." Ayah Barra memandang Emir dengan serius.
"Ayah meminta mu untuk tidak melaporkan Dokter Fera pada polisi bukan berarti ayah memaafkan dan melupakan apa yang sudah wanita itu perbuat. Walau bagaimana pun juga, dia hampir mencelakai Emira dan calon cucu ayah. Ayah hanya mengambil kesempatan ini untuk melepas ikatan hubungan kita dengan dokter Agung, terlebih saat Dokter Agung memohon untuk melepaskan kasus Dokter Fera." Ucap ayah Barra pada Emir yang di dengar juga oleh istrinya.
Bunda Daniah juga baru tau jika yang mencelakai Emira adalah Dokter Fera, Dokter yang terlihat sangat baik saat beberapa kali bertemu dengan dirinya. Bunda Daniah sungguh tidak menyangka, jika Dokter Fera mampu berbuat jahat seperti itu.
Ayah Barra juga terlihat menahan amarah yang besar pada Dokter Fera. Selama ini dirinya selalu di bayang bayangi oleh ikatan persahabatan Kakeknya Emir dengan dokter Agung, sehingga lelaki tua itu terkadang bisa berbuat semaunya sendiri, terlebih beberapa % saham yang dokter Agung miliki di rumah sakit Al Ghazi. Karena itu, ayah Barra meminta Emir untuk mengajukan syarat ini, demi kebaikan Emira kedepannya.
"Emir tau yah, tapi Emir tetap akan melakukan sesuatu untuk membuat Dokter Fera jera." ucap Emir mengepalkan tangannya. Mengingat Emira di tarik paksa pasti sangat membuat istrinya ketakutan, apalah dia sedang mengandung. Beruntung penjahat itu belum sempat melakukan hal yang tidak di inginkan.
"Kamu tidak perlu khawatir, Ayah juga akan tetap mengawasi mereka." Ujar Ayah Barra.
__ADS_1
"Hem." Emir mengangguk, kemudian berdiri dan berpamitan pada ayah dan bundanya untuk ke kamar.
Sesampainya di dalam kamar, dia melihat istrinya tengah tertidur dalam posisi miring di atas ranjang, Emira hanya mengenakan kemeja yang terlihat kedodoran di tubuhnya namun tidak sampai menutupi paha mulusnya. Entah mengapa akhir - akhir ini istrinya sering sekali mengenakan kemeja kerja miliknya, tapi dia sangat menyukai itu, karena terlihat sangat sexy dan menggoda.
Emir membuka bajunya, dan mengganti celana bahan yang di kenakan dengan celana santai, dilihatnya jam masih menunjukan pukul 14.02. Emir membaringkan tubuhnya tepat di samping tubuh istrinya. Dia menciumi pipi sang istri berulang kali. Melihat tidak ada pergerakan dari sang istri, Emir mengecup bibir istrinya sekilas, kemudian memandang wajah istrinya yang tetap tidak mengindahkan dirinya.
Tangan Emir mengangkat kepala Emira dan menaruhnya di atas lengannya untuk di gunakan sebagai bantalan. kini Emir bisa dengan puas memandang wajah sang istri yang terlihat sangat cantik. Membelai rambut istrinya dan mencium kening istrinya dalam.
Tangan Emir mengusap perut rata sang istri. Dia sangat bahagia karena pada akhirnya Emira mau mengandung anaknya. Dia berjanji tidak akan membatasi segala keinginan istrinya selagi itu baik untuk Emira. Karena Emir tau, istrinya siswi yang sangat berprestasi di sekolahnya.
"Bersabarlah sebentar lagi, tepat di hari kelulusan mu aku akan mengumumkan pernikahan kita." ucap Emir membelai sayang wajah istrinya. Emira merasa sedikit terusik, perlahan dia membuka matanya, tatapannya langsung tertuju pada wajah tampan dan rahang tegas sang suami.
"Emmppp.." Desa*han Emira keluar di sela ciumannya, membuat sesuatu di bawah sana yang masih terhalang oleh celana sampai berdiri tegak. Tangan Emir membuka kancing kemeja sang istri dan membuangnya ke sembarang arah, kini istrinya hanya di baluti oleh pakaian dalam yang masih melekat di tubuhnya, memperlihatkan sesuatu yang sangat Emir sukai karena ukuran nya juga bertambah semenjak Emira mengandung.
Dengan masih menyatukan pagutannya, tangan Emir mere*mas kedua buah dada Emira yang masih terhalang kain penutup bergantian. Membuat Emira melenguh dan membusungkan tubuhnya. Emir semakin bergairah melihatnya, perlahan ciuman itu turun ke leher jenjang sang istri.
"Masss..." Emira mendesah saat Emir dengan rakus mencumbu lehernya, menyesap dan meninggalkan banyak jejak kepemilikan di leher mulus sang istri.
"Apa kau menikmatinya?" tanya Emir tepat di telinga sang istri.
Emira mengangguk, menarik Emir dan menciumnya dengan rakus, Emira sangat merindukan suaminya, entah mengapa dia selalu senang saat bercinta dengan suaminya.
__ADS_1
"Emmpp.."
Tangan Emir melepas pengait yang menghalangi milik Emira, kemudian mere*masnya sampai membuat tubuh istrinya melambung. Kini ciuman Emir turun ke buah dada milik istrinya yang sangat menggoda, memainkan pucuk sang istri dengan lidahnya.
"Euuhh mas.." Desah Emira, dia mer*mas rambut Emir dan menenggelamkan wajah suaminya semakin dalam pada buah dadanya, membuat emir dengan rakus menciumi milik Emira bergantian. Menyesap dan meninggalkan tanda kemerahan di seluruh bagian dada sang istri. Emira sangat menikmati cumbuan suaminya. Tangannya sudah menjalar ke punggung sang suami, mengusap pinggul suaminya untuk membuatnya semakin bergairah.
Emir melepas semua pakaian yang tersisa pada dirinya dan kini tubuhnya sudah tidak terhalang sehelai benang pun. Dia menggesekkan bagian bawah milik nya ke milik Emira yang masih terhalang kain tipis. Melu*mat bibir bawah Emira yang sudah terbuka dengan gairah yang sudah memuncak.
Tangan Emir mengusap pinggul istrinya dan terakhir bermain di inti sang istri dengan pelan, membuat sensasi di tubuh Emira tak tertahan kan, Emira menjambak dan membalas ciuman suaminya dengan rakus.
Emir menarik tangannya, dan mulai memasukkan milik nya pada lubang sang istri.
"sshh mas.." Emir mulai menggoyangkan pinggulnya dengan pelan karena takut membuat istri dan bayinya tidak nyaman. Gerakan lembut sang suami sangat membuatnya bergairah. Mereka saling bertukar saliva, tangan emir juga tidak di biarkan menganggur begitu saja, untuk menyia-nyiakan sesuai yang menjadi kesukaan nya.
"Erangan dan desa*han keduanya memenuhi ruangan ber AC yang terasa masih sangat panas bagi dua insan yang sedang memadu kasih. Piluh yang keluar dari keduanya menambah semangat mereka untuk saling menyatu,  Bertukar saliva dengan penyatuan yang semakin dalam.
Emir menghentakan pinggulnya dengan tempo yang sedikit lebih cepat, namun tetap menahan agar tidak membuat sang istri merasa sakit. Menj*lat pucuk sang istri dengan rakus. Sungguh permainan Emir membuat tubuh Emira menggeliat dengan ******* yang terus keluar dari bibir mungilnya.
Sampai Akhirnya lenguhan panjang keduanya mengakhiri pergulatan singkat siang ini. Tubuh Emir ambruk di samping tubuh sang istri, meneggelamkan tubuh sang istri di dada bidang miliknya yang masih di penuhi oleh piluh bekas percintaan panas mereka. Namun bukan nya jijik, Emira semakin mengeratkan pelukannya, menyatukan tubuh mereka yang tidak terhalang oleh apapun.
**Bersambung**
__ADS_1