
**
"Emir akan menjaga Emira mulai sekarang, nenek tidak perlu khawatir." balas Emir meyakinkan.
Acara di lanjutkan dengan resepsi yang di hadiri keluarga dan kerabat terdekat, meskipun begitu tamu yang datang terlihat sangat banyak. Resepsi di laksanakan di Hotel bintang lima di Jakarta.
Tepat pukul 20.00 wib acara baru selesai, semua tamu juga sudah meninggalkan tempat acara, begitu juga ke dua sahabatnya Kiran dan Della,
"Sayang kamu langsung istirahat ya, bunda sudah memesan satu kamar untuk kalian, bunda dan ayah pulang dulu." Bunda Daniah memeluk Emira dengan erat, mengucap syukur saat ini dia begitu lega dan bahagia karena sudah menjalankan amanah sahabatnya.
"Kamu jangan membuat Emira begadang. Ingat dia masih sekolah." Ayah Barra mengultimatum putranya, pasalnya dulu dia juga seperti Emir, terlihat dingin namun lembek jika sudah di hadapkan pada istrinya.
"Bang, Kakak ipar, selamat bersenang senang ya." Goda Arkana berlalu mengikuti bunda dan Ayahnya.
Sungguh saat ini wajah Emira sudah bagaikan kepiting rebus, merah merona dan panas.
Saat sudah memasukin kamar hotel kecanggungan terjadi. Emira bingung harus berbuat apa, dan lagi Emir masih tetap tidak mengeluarkan suara apapun.
**
POV Emira
"Emm... mas!, aku akan mandi dulu ya" kata ku memecah keheningan.
"Iya." hanya itu jawaban darinya
Aku mengambil koper yang tadi sempat ku letakan di samping tempat tidur, kubuka koper itu untuk mengambil baju ganti, setelah dapat lalu kubawa masuk ke dalam kamar mandi. Saat sudah di kamar mandi aku mencoba untuk membuka gaun pengantin namun ternyata sangat sulit, sereting yang ada di bagian punggung ku tidak bisa kuraih, mau tidak mau aku harus meminta pertolongan pada suami dingin ku.
Ku buka pintu kamar mandi perlahan, suamiku sedang duduk di sofa yang menghadap langsung ke kamar mandi, tanpa kuminta dia berjalan mendekat ke arahku.
"Ada apa?" tanya nya saat sudah di depanku.
"Maaf mas apakah aku bisa minta tolong bukakan sereting gaunku, aku benar benar tidak bisa membukanya"
__ADS_1
"Berbaliklah" Perlahan tangan suamiku menurunkan sereting yang ada di punggungku, saat sereting gaunku sudah sampai pinggang, diapun menghentikan pergerakannya, aku merasakan sentuhan tangannya mengusap punggunggu dari bahu sampai pinggang, tanpa kata dia membenamkan kecupan di tengkuk leherku.
Lama dan perlahan semakin dalam, aku yakin sudah ada tanda merah di sana. Sekuat tenaga aku menahan rasa geli yang membuat tubuhku menegang dan merinding.
.
Hembusan nafasnya begitu terasa menusuk pori pori kulitku, darahku seketika mendidih, suasana berubah menjadi panas.
"Emm mas..." Aku mencoba untuk menyadarkan nya.
Lama tak ada respon apapun.
"Mandilah." Dia menghentikan ciuman di punggunggu ku, dan berlalu ke arah sofa, kemudian menyibukan diri kembali dengan hpnya.
"Semoga dia tidak marah." batinku merasa takut. Aku berlalu untuk mandi.
POV AUTHOR
Tiga puluh menit sudah berlalu tapi Emira masih belum keluar dari kamar mandi, hal itu mengundang tanya di benak Emir. Emir mendekat ke pintu kamar mandi dan hendak mengetuknya, namun pintu itu sudah keburu terbuka.
"Maaf mas, lama ya ?" tanya Emira di depan pintu kamar mandi, wajahnya terlihat lebih segar dan sedikit basah, benar benar bersih dan berseri, walaupun tanpa polesan makeup, membuat Emira terlihat sangat manis.
Emir mematung, memandangi sang istri tanpa jeda, saat ini Emira mengenakan baju tidur panjang berbahan satin dan memakai hijab instan sebatas dada, meskipun tertutup, namun tidak bisa menutupi bentuk lekuk tubuhnya yang seksi. Ya! Emir akui badan Emira memang tidak tinggi. Benar benar hanya sebatas pundak Emir. Tetapi semuanya sangat sempurna, Emira masih belum beranjak karena Emir menghalangi jalannya.
"Aku kira kamu tidur di dalam." Jawab Emir, kemudian berlalu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Emira menyiapkan baju ganti untuk suaminya, setelah mengenakan mukenahnya dia membentangkan dua sajadah untuk dirinya dan sang suami.
Lima menit kemudian terlihat Emir keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk yang melilit di pinggang nya, melihat itu buru buru Emira menunduk, setelah Emir memakai baju koko dan sarung yang sudah disiapkan tadi, Emira bergegas berdiri di barisan makmum untuk menunaikan sholat isa.
Empat rakaat mereka tunaikan dengan berjamaah, dan doapun sudah di panjatkan pada sang khalik. Emir membalikan badannya dan mengulurkan tangannya yang di terima langsung oleh sang istri, Emira mencium punggung tangan Emir dengan takzim.
Dipandanginya wajah sang istri lekat lekat, Emir membelai pipi Emira yang masih mengenakan mukenah.
__ADS_1
"Apakah kamu tau kewajibanmu sebagai seorang istri?" tanya Emir pada sang istri dengan nada yang masih terdengar dingin,
"Apakah mas akan memintanya saat ini ?" Emira bertanya balik, dia memandang mata suaminya mencari jawaban, namun lagi - lagi Emira tidak bisa mengartikan tatapan yang di berikan oleh sang suami.
"Jika aku memintanya malam ini apakah kamu akan memberikannya?" Tangan Emir menyentuh dagu Emira, di usapnya bibir mungil nan seksi itu dengan ibu jarinya.
Wajahnya kian mendekat ke wajah sang istri, saat ini Emira merasakan jantugnya berdetak sangan hebat, dia meremas mukenanya untuk menghilangkan kegugupannya.
Wajah tegas suaminya terus mengikis jarak, menempelkan keningnya pada kening Emira, hembusan nafas Emir benar benar menembus pori pori Emira. Wangi maskulin pada tubuh Emir menyeruak sampai ke indra penciumannya.
"Aku.... emmpphhh... " Belum sempat Emira menjawab, Emir sudah membenamkan bibirnya pada sang istri, sebuah kecupan Emir berikan untuk Emira. Sontak hal itu membuat Emira kaget dan melotot, tubuhnya kaku bahkan dia lupa cara bernafas.
Mata Emira perlahan tertutup saat Emir tak kunjung melepas ciuman pertamanya, melihat tidak ada penolakan dari Emira, perlahan kecupan itu berubah menjadi ciuman penuh gairah, di hisapnya beberapa kali bibir mungil nan seksi sang istri yang sudah sangat menggoda.
Ini adalah pengalaman pertama untuk Emir dan Emira, namun naluri mereka benar benar bermain sangat baik. Ciuman Emir perlahan menuntut, meminta balasan dari sang istri yang tampaknya masih belum mahir.
Emir menggigit bibir bawah sang istri untuk membuat bibir itu terbuka, tangan Emir menekan tengkuk Emira semakin dalam, lidahnya sudah mengeksplor rongga mulut sang istri, semakin dalam dan penuh dengan nafsu.
Beberapa kali Emir menyesap lidah sang istri, meskipun masih belum ada balasan. Emira benar benar kehabisan nafas, dia memukul pelan dada bidang suaminya.
"Bernafaslah, atau kau akan mati." Seru Emir saat sudah melepas ciuman nya.
"hah...hah...hah..." Nafas Emira terengah - engah, dada nya naik turun saat sudah mendapatkan pasokan udara yang cukup.
Emir mengusap bibir sang istri yang terlihat basah. Di kecupnya kening sang istri dalam.
"Aku menginginkanmu malam ini juga." Ucap Emir tak ingin ada penolakan. Perlahan tangan Emir membuka mukena sang istri yang melekat di tubuhnya, kini dia bisa melihat rambut hitam bergelombang sebatas bahu tergerai dengan indah.
Melihat sikap dingin Emir yang masih saja melekat di wajahnya, membuat Emira ragu, dia ingin memberikan hak untuk suaminya jika sudah ada cinta di antara mereka.
Namun Emira tau, dia tidak berhak menolak, tubuhnya halal untuk Emir sentuh. Tapi jika boleh berkata jujur, dia belum siap sebenarnya.
**Bersambung**
__ADS_1