Istri Kecil Dr. Emir

Istri Kecil Dr. Emir
Eps 22


__ADS_3

--Selamat Membaca-- 💖💖


"Hai Emira." ucap Dokter Azam sambil berlalu ke sofa, duduk disana tanpa di persilahkan, dan Emir juga kembali mendudukan dirinya di sofa yang bersebrangan dengan Azam di ikuti oleh Emira.


"Cepat katakan ada apa? jika tidak penting pergi saja kau." Usir Emir.


"Aiissshh,, galak sekali, bagaimana bisa Emira hidup bersama orang dingin seperti mu." Azam mencibir, persis seperti wanita yang sedang marah.


"Jangan sok imut, ingat umur!, dan jangan mengganggu ku.!" Ujar Emir.


"Bukan aku yang mengganggu mu, tapi kau yang tidak tau tempat." Seru Azam pula.


"Cehkk...Memang kak Azam mengganggu!." Decak Emira mengalihkan pandangan Emir dan Azam.


"waaahhh.. apa aku tidak salah dengar ?" Tanya Azam dengan gelak tawa.


"Tidak!. makanya, jika tidak ada kepentingan, menyingkirlah Kak." Emira bersuara dengan wajah masam dan cemberut.


Di mata Emir, istri kecilnya ini sangat lucu, tapi tidak di mata Azam, bagi azam Emira sangat mengerikan. Bahkan Azam sampai bergidik ngeri, apakah benar yang ada di hadapannya ini istri Emir, atau jangan-jangan dia sedang kerasukan hantu rumah sakit.


"Diam Emira." Ucap Azam pada Emira, suaranya ngebas seperti bergumam.


Azam mencondongkan tubuhnya, bekomat-kamit di depan Emira membacakan ayat kursi yang dia sendiri tidak hafal urutannya.


"Hiyaaa...!! Kakak kira aku kerasukan setan!!." Teriak Emira dengan mata mendelik.


"Bu...bukan begitu, Emm.. Kakak kira kamu.. " Azam mengusap tengkuknya yang tiba-tiba merinding.


"Tidak biasanya kamu agresif begitu." Ucapan Azam lirih, sangat lirih.  Tatapan Emira sungguh membuat nyalinya menciut.


"Dia menghamili Della." Ujar Emir tiba-tiba.


"APA!!."


"TIDAK!!"


Ucap Emira dan Azam bersamaan.


"Jangan fitnah, kau tau fitnah itu lebih kejam dari pada pisau yang tidak di asah." Terang Azam menggebu.


"Chhk.. yang ada Fitnah itu lebih kejam dari pada pembunuhan!. Jadi sekarang Della hamil anak kak Azam ?" Tanya Emira.


"Iya, Eh tidak." Azam jadi bingung sendiri.

__ADS_1


"YANG BENAR YANG MANA KAK AZAM!!!." Teriak Emira dengan emosi.


"Makanya dengarkan dulu, tadi kan kamu bilang, fitnah itu lebih kejam dari pada pembunuhan, iya memang benar istilah itu, tapi dari pada membunuh lebih baik kita memukul saja sedikit."


"Diam dulu!!." Sambung azam memerintahkan agar Emira diam karena dia tau Emira sudah membuka mulutnya ingin menyela.


"Jangan mengajari Emira tidak benar Azam." Perintah Emir tidak ingin istrinya mendengarkan nasehat tidak berfaedah dari Azam.


"Diam kau!!, ini gara-gara mulut ember mu itu." Kesal Azam lagi-lagi ucapannya di potong oleh pasangan suami istri beda angkatan ini.


"Tidak ada yang hamil Emira, jangankan menghamili Della, menyentuhnya saja tidak pernah." Ujar Azam jujur dengan nada tegas.


Emira melirik Azam, menelisik tatapan Azam untuk mencari kebohongan di sana, tapi sepertinya lelaki itu memang jujur kali ini.


"Lalu kenapa Della tidak masuk sekolah?." Tanya Emira.


"Astaga!! kenapa bertanya padaku, tanya saja pada orangnya langsung." Jawab Azam


"Aku jadi lupa apa tujuan ku kesini." Sambung Azam Kesal.


**


"Istirahatlah, aku tidak akan lama, setelah ini kita pulang." Ucap Emir pada Istrinya.


Emira mengangguk, dia memang sangat mengantuk, entahlah, akhir-akhir ini tubuhnya seperti tidak bisa menopang terlalu lama, dan rasa kantung itu sering datang di waktu yang tidak seharusnya.


Mereka memasuki ruang rawat vvip yang ada di lantai tiga.


"Selamat siang Dokter Rangga." Sapa Emir dan Azam berbarengan saat sudah masuk kedalam ruangan tersebut.


Ternyata di dalam juga sudah ada Dokter Fera yang lebih dulu mengunjungi Dokter Rangga.


"Siang Dokter Emir, Dokter Azam." jawab Dokter Rangga pada keduanya dengan senyum ramah. Dia tengah duduk bersandar di ranjang rawatnya.


"Bagaimana kondisi anda Dok ?." Emir bertanya sambil mengecek monitor dan berkas hasil resume Dokter Rangga.


"Seperti yang kau lihat, saya sudah tua, tentu saja tidak baik-baik saja." Ujar Dokter Rangga yang kembali fokus pada majalah kesehatan.


"Tanggal lahir anda hanya beda beberapa bulan dengan saya Dok, tapi sayang untuk tahunnya terpaut jauh." Azam  menyengir tanpa dosa.


"Cehhkk.. kau itu masih saja sama, tidak pernah berubah." Ucap Dokter Rangga menimpali ucapan Azam.


"Masih tampan, gagah, perkasa tentunya," Terang Azam menyanjung dirinya sendiri.

__ADS_1


Dokter Fera memutar bola matanya jengah, dia selalu muak akan bualan Dokter Azam, laki-laki hidung belang itu tidak dimana-mana selalu saja bercanda.


"Biarkan saja Dokter Rangga, dia seperti itu karena sedang stres." Ucap Dokter Fera meledek.


"Enak saja."


"Diam lah kalian." Emir menyudahi perdebatan itu, bahkan sebelum mereka memulainya.


"Dan kau juga masih saja sama, Irit bicara dan sangat dingin dengan siapapun." Ucap Dokter Rangga dengan senyum tipisnya sambil terus membaca kabar berita tanpa memperdulikan anak didiknya.


Perbincangan mereka terus berlanjut, sampai Emir berpamitan undur diri, mengingat istrinya saat ini sudah menunggu dirinya di dalam ruang kerjanya.


Saat memasuki ruangan, dia tidak melihat ada Emira di dalamnya, Emir mengira Emira tengah berada di kamar mandi, namun ternyata kamar mandi juga kosong.


Emir menghubungi David untuk menanyakan keberadaan Emira, dan David menerangkan jika saat ini Emira tengah berada di kantin rumah sakit.


"Baiklah, terimakasih." Ucap Emir memutus sambungan teleponnya.


Emir meletakan Jasnya dan melangkah keluar untuk menuju ke kantin, saat di tengah jalan dia tidak sengaja menabrak Dokter Fera yang baru saja keluar dari ruang rawat pasien karena terlalu buru-buru.


Tubuhnya hampir saja limbung, jika Emir tidak memegangi tangannya. Namun dia cepat tersadar dan melepaskan tangan Dokter Fera.


"Maaf Dokter Emir." Ucap dokter Fera


"Lain kali fokus Dokter Fera." Ujar Emir dengan dingin.


Emir berlalu menuju ke kantin lewat tangga biasa, karena melihat lift nya penuh, dan baru saja turun dari lantai lima.


Tanpa dia sadari tadi Emira melihat saat Emir sedang memegang tangan Dokter wanita. Emira merasa darahnya mendidih, namun dia juga tau jika hal itu terjadi karena ketidak sengajaan, bahkan dia juga melihat Emir melepas tangan Dokter wanita itu dengan cepat.


Emira memilih untuk menunggu Emir di Lobby rumah sakit tanpa memberi tahu Emir. Rasanya dia kecewa pada dirinya sendiri yang entah kenapa sekarang terlalu egois. Padahal dia juga tidak ingin seperti itu.


Hampir sepuluh menit Emira menunggu, dia merogoh handphone nya di dalam tas, yang ternyata sudah ada lima panggilan tidak terjawab, Emira lupa jika handphone tersebut di mode silent sejak di sekolah tadi.


"Astaghfirullah." Dia buru-buru menelpon Emir karena tidak ingin suaminya jadi khawatir.


"Halo mas.." sapa Emira saat sambungan telepon itu terhubung.


"Dimana ?" Tanya Emir.


"Aku di Lobby Rumah Sakit mas." Jawab Emira.


"Tunggu, aku kesana. Jangan kemana-mana!." Perintah Emir tegas.

__ADS_1


"Iya mas." Panggilan telepon itupun terputus, Emira kembali duduk menunggu Emir disana.


**Bersambung**


__ADS_2