
__ Selamat membaca __💖💖
Masih di dalam dekapan Emira, Emir melantunkan Azan pada telinga bayi mungil yang kini sedang mencari sumber Asi di dada bundanya.
"Eldar Farabi Ghazi, Seorang pejuang yang gagah di medan perang, semoga kelak anak kita bisa menjadi seorang penjuang baik untuk kehidupan yang lebih baik juga untuk menebar kebaikan di zaman modern ini." Ucap Emir setelah selesai melantunkan Azan untuk anaknya.
Satu tetes ari mata kembali menyeruak dari pelupuk mata Emira, mulutnya tidak henti-henti mengucapkan kata syukur pada sang pencipta, karena di umurnya yang masih sangat muda, dia sudah di berikan kepercayaan untuk menjadi seorang ibu.
"Bagus namanya mas.. aku suka." Emira tersenyum mendengar nama yang di berikan oleh suaminya untuk anak laki-laki yang baru saja dia lahirkan.
Emir sekali lagi mengecup kening sang istri, mengusap puncak kepala Emira yang masih terhalang oleh jilbab. Kini anaknya tengah di bersihkan oleh pada perawat begitu juga dengan istrinya.
Tidak lama setelah itu, mereka semua keluar dari ruang bersalin menuju ruang rawat inap yang tentu saja khusus untuk istrinya.
"Masya Allah cucu oma tampan sekali, kenapa wajahmu mirip sekali dengan ayahmu sih nak?" Cerocos bunda gemas pada bayi mungil yang baru keluar beberapa jam itu,
"Tentu saja mirip aku bun, harus mirip siapa lagi, kan aku yang buat." Cibir Emir menimpali ucapan bundanya.
"Ck.. Lihat kan nak, ayahmu itu sekarang sangat menyebalkan, Cerewet nya sudah seperti perempuan, nanti kamu sama oma saja ya, biar tidak tertular menyebalkan seperti ayah kamu itu."
Emira dan Ayah Barra hanya mampu tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, Melihat tingkah dua orang yang selalu tidak ingin mengalah satu sama lain.
__ADS_1
Sedangkan Arkhana diam diam dia terus memandang wajah bayi mungil yang berada di dalam box bayi itu dengan tatapan entah. Terbesit senyum tipis yang tidak bisa di sadari oleh siapapun yang melihatnya, entah apa yang sedang dia rasakan saat ini hanya dirinya yang tau.
**
"Della, kenapa lama sekali sayang, Kak Azzam sudah menunggu dari tadi loh." Bunda Daisy menghampiri anaknya kedalam kamar, karena sudah 30 menit berlalu semenjak sang anak pamit untuk mengganti bajunya, namun Della belum kunjung keluar dari kamar nya.
"Ya allah, kenapa palah tiduran Del. Kamu kenapa sih sayang ?" Bunda Daisy tidak habis pikir, dia pikir anaknya tengah bersiap, ini justru asik tiduran.
"Bunda, besok saja Della ke rumah sakitnya, hari ini Della sangat lelah." Ucap Della tanpa membuka matanya, sebenarnya Della sudah tidak sabar untuk ke rumah sakit dan ingin segera melihat anaknya Emira, namun tiba - tiba dia begitu malas karena Azzam tanpa memberitahu sudah menjemput dirinya ke rumah. Hubungan keduanya memang belum ada titik terangnya, Azzam masih tidak mau membatalkan pertunangan dirinya dan Della, begitu juga dengan Della yang enggan meneruskan hubungan ini.
Namun dari keduanya tidak ada yang membahas masalah ini pada kedua orang tuanya, sehingga mereka menganggap memang anak anak nya sudah sepakat untuk menunda terlebih dahulu karena kesibukan pendaftaran kuliah Della.
Dengan begitu malas, Akhirnya Della melangkah ke kamar mandi, mencuci wajahnya dan mengganti pakaiannya. Setelah di rasa siap, dia keluar dari kamar Della berjalan melewati ruang tamu tanpa melirik sedikitpun seseorang yang tengah duduk di sana, menyadari Della mengabaikan dirinya, Azzam beranjak sedikit berlari untuk mengejar Della yang sudah berada di luar rumah.
Di sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, baik Della maupun Azzam tidak ada yang bersuara. Suasana dingin di malam hari, di tambah keheningan di dalam mobil menambah kecanggungan kedua manusia yang sibuk dengan pemikirannya masing-masing.
"Mau sampai kapan kita seperti ini Del ?" Azzam sudah memarkirkan mobilnya di basement rumah sakit, tanpa Della sadari, karena gadis itu melamun sepanjang perjalanan.
Della menghela nafasnya dalam, dia masih mengingat betul kejadian beberapa bulan lalu di ruang kerja sang tunangan, itu adalah sesuatu yang tidak bisa Della lupakan meski sudah mencobanya, bukan Della ingin berlarut - larut dalam hubungan yang tidak jelas baginya. Bahkan Azzam sudah meminta maaf dan mengatakan jika hubungannya sudah berakhir dengan wanita yang berada di ruangannya waktu itu, tapi itu belum cukup baginya, karena belum lama Della juga tidak sengaja melihat keduanya berada di tempat yang sama walaupun saat itu banyak orang dan tidak hanya mereka berdua.
"Sudah aku katakan berapa kali kalo aku tidak ingin me.."
__ADS_1
Ucapan Della lagi lagi terputus karena ulah Azzam yang membungkam mulut gadis kecil itu dengan bibirnya. Della memukul dada Azzam dengan kuat, mendorong nya dengan penuh tenaga, namun tenganya tidak ada bandingannya dengan lelaki yang kini terus memagut bibir Della dengan rakus. Azzam melepaskan ciuman itu kala keduanya sudah hampir kehabisan nafas.
"Hiks.. hiks.. hikss... aku benci Kak Azzam, aku sunggu membencimu."Teriak Della dengan begitu murka pada lelaki yang saat ini hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya, tangan Azzam masih menekan kuat tengkung Della meskipun gadis itu kini tengah memukuli dada bidangnya.
"Aku sungguh membencimu kak." Tangis Della semakin pecah, dia sangat benci akan perlakuan Azzam yang tidak bisa menahan nafsunya, Della tau cara melampiaskan kemarahan lelaki itu selalu dengan menciumnya, dan karena itu lah dia selalu enggan untuk berdebat dengan Azzam.
"Sudah aku katakan berapa kali jika aku sudah tidak ada hubungan dengan wanita itu." Azzam berkata lembut, memandang lekat wanitanya yang kini tengah menunduk sambil menangis.
"Bagaimana caranya aku bisa membuktikan jika kamu saja selalu menutup dirimu padaku. Aku minta maaf Del, aku sungguh minta maaf untuk kejadian waktu itu, saat itu aku hanya hilaf Del, dan kami juga tidak melakukan lebih dari itu, selama ini aku juga selalu menjaganya, tidak sekali pun aku mencicipi wanita wanita liar di luar sana meskipun aku sering pergi ke tempat hiburan." Ucap Azzam dengan jujur.
Della tergelak entah karena apa, tiba - tiba tangisnya terhenti mendengar ucapan Azzam, seperti ada yang menggelitik ulu hatinya.
Azzam mengerutkan keningnya "Kenapa kamu tertawa seperti itu, apa kamu tidak percaya ?" Tanya Azzam karena merasa Della seperti tidak mempercayai ucapannya.
"Tolong jangan bercanda padaku kak, jangan kakak pikir aku masih kecil sehingga bisa dengan gampangnya kakak bodohi." Della menatap mata Azzam dengan berani, Gadis itu sungguh geli dengan ucapan Azzam sebelumnya.
"Kata - kataku yang mana yang tidak kamu percayai ?" tanya Azzam lirih namun mengandung sedikit kekecewaan disana.
"Memangnya dari kata - kata kak Azzam yang mana yang harus aku percayai? Waktu itu kakak memang tidak melakukan lebih dari itu karena bunda Mala menelpon. Apa yang akan kakak lakukan jika bunda tidak menelpon?" Della tersenyum tipis dan menggelengkan kepalanya, dia tidak bisa membayangkan kelanjutannya akan kejadian waktu itu yang membuat dadanya sesak.
**Bersambung**
__ADS_1