
__Selamat membaca__ 💖💖
Masih di ruang makan, setelah perdebatan kecil antara bunda dan Emir, kini obrolan mereka kembali menghangat, Arkana juga terlihat sangat menikmati momen ini, jauh didalam lubuk hatinya, dia juga berat meninggalkan keluarganya untuk yang kedua kalinya. Arkana memang sudah biasa mandiri, karena dulu dia juga pernah menempuh pendidikan di luar negeri sebelum akhirnya pindah kembali ke indonesia.
Emira mencengkram tangan suaminya dengan tiba-tiba, raut mukanya seperti tengah menahan sesuatu, dan Emir yang merasakan tangannya di genggam dengan kuat mengalihkan pandangannya pada sang istri.
"Mas.." Panggil Emira lirih.
"Kenapa hemm.." Emir menghadap sang istri dan memegang tangannya, dia sedikit panik karena merasakan tangan Emira yang terkepal dan bergetar kuat. Emira hanya menggeleng dan menggigit bibir bawahnya untuk menahan sesuatu yang amat ngilu di bawah sana, seperti ada yang mencoba untuk merobek tulangnya.
"Kenapa Mir ?" Bunda sudah beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri sang menantu.
"Astaghfirullah, sepertinya Emira mau lahiran ini." Ucap bunda seketika membuat Emir panik.
"Jangan panik mas.. ini sudah hilang sakitnya." Emira mengelus tangan suaminya untuk menenangkan agar suaminya tidak panik, Emira sudah belajar banyak soal melahirkan, dia tau akan merasakan yang namanya kontraksi, sebenarnya dia sudah merasakan mulas selepas sholat maghrib tadi, tapi rasanya masih tidak terlalu sakit dan masih hilang hilangan. Tapi sepertinya sekarang sudah mulai terasa sakitnya.
"Kita kerumah sakit sekarang." Emir berdiri dan merangkul pinggang istrinya. Menuntun sang istri untuk meninggalkan ruang makan.
"Tunggu mas." Emira menghentikan langkahnya saat melihat bibi.
"Bi tolong ambilkan koper di kamar ya, semuanya sudah Emira siapkan." Ucap Emira pada bibi.
"Baik Non." Bibi pun pergi ke kamar Emira untuk mengambil koper yang berukuran besar itu.
"Ka kamu yang nyetir Ka." Pinta Emir pada sang Adik.
"Iya mas." Tanpa membantah, Arkana mengambil kunci dari tangan Emir dan bergegas ke depan untuk menyiapkan mobilnya. Dirinya juga tidak menyangka jika Emira akan melahirkan malam ini juga, karena baru saja kakaknya mengatakan jika kemungkinan Emira akan melahirkan kurang dari 1 minggu lagi. Dan ternyata Allah berbaik hati memberinya kesempatan untuk melihat keponakannya itu sebelum dirinya terbang ke Amerika besok sore.
__ADS_1
Sesampainya dirumah sakit dokter Ririn sudah menunggunya. Emira langsung di tuntun untuk melakukan pemeriksaan.
"Ini sudah pembukaan 7 nona Emira, di ajak jalan jalan sebentar pasti akan lebih cepat ke pembukaan 10. Apa nona Emira tidak merasa mulas sejak tadi?" Tanya Dokter Ririn sedikit terkejut pada istri dokter Emir. Biasanya orang baru pembukaan pertama sudah uring uringan ke rumah sakit. Tapi istri dari dokter Emir ini jangan kan uring uringan, raut wajahnya masih bisa tersenyum lebar dan sikapnya juga sangat tenang. Padahal umurnya masih sangat muda, tapi dia bisa menyikapinya dengan sangat Baik. Dokter Ririn benar benar salut pada Emira.
"Apa sakit"? Kini Emira dan Emir tengah jalan jalan di lorong. Seperti saran dokter Ririn, jalan membantu pempercepat janin mencari jalan keluarnya.
Emira mencengkeram lengan Emir dengan kuat. Tubuh keduanya saling berhadapan. Emir terus membantu mengusap pinggul Emira, dan itu cukup membantu membuat Emira rilex.
Huuuuhhh.. Emira mengatur pernafasannya saat rasa kontraksi itu kian menyeruak.
"Mas.. maafkan aku jika banyak dosa selama ini." Entak kenapa Emira tiba - tiba merasakan banyak dosa pada sang suami atau pada yang lainnya. Mungkin rasa sakit ini adalah sebagai penggugur dosanya di masa lalu.
"sshhh.. jangan berbicara yang tidak tidak sayang. Kamu adalah istri terbaik untukku. Dan kamu juga akan menjadi bunda terhebat untuk anak kita. Kamu harus kuat ya." Emir mencoba menguatkan istrinya. Meski dirinya sendiri saat ini sangat merasakan takut. Melihat sendiri sang istri yang berjuang menahan sakit membuat Emir sadar akan pengorbanan bundanya dulu, seketika dia juga merasa bersalah karena beberapa bulan ini selalu bertengkar hal yang tidak penting dengan bundanya.
15 menit sudah mereka berjalan jalan di lorong rumah sakit. Bunda Ayah dan Arkana terus memantau nya dari kejauhan. Mereka semua sangat salut pada Emira. Menantunya itu tidak banyak drama, dan bersikap sangat tenang. Justru Emira masih sempat mengelap piluh yang keluar di kening sang suami. Semua itu tidak luput dari pandangan ketiganya.
"Tentu saja. Semua ibu akan memperjuangkan anaknya, menahan rasa sakit demi sang buah hati agar bisa melihat dunia ini. Kamu juga harus mendampingi istrimu nanti saat dia akan melahirkan."
Kening Arkana berkerut. Mendengar ucapan bundanya yang seperti ditujukan untuknya.
"Bunda ngomong sama aku?"
"Aiiss anak ini. tadi kamu sendiri yang bertanya giliran sudah dijawab palah seperti orang ling lung." Jawab Bunda kesal sendiri.
"Siapa yang bertanya." Jawab Arkana dengan cuek dan memilih fokus ke layar ponselnya tanpa dosa.
Bunda hendak menimpali ucapan Arkana tapi di urungkan. Sepertinya percuma saja dia berdebat dengan anak bungsunya ini karena sudah pasti akan kalah yang akhirnya dia sendiri yang merasa kesal.
__ADS_1
"Sudahlah percuma bunda ngomong sama kamu. Kemana perginya anak bunda yang dulu selalu ceria dan ramah. Sekarang yang ada dingin seperti Kulkas dan kaku seperti kanebo kering."
"Ya allah bun, anak sendiri dikata katain." Ayah Barra menggeleng kepalanya.
"Habis anak ayah sekarang tidak ada yang asik."
"Itu anak kamu juga bun".
Percakapan mereka terhenti saat melihat Emir dan Emira berjalan mendekat.
Baru saja Emira pecah ketuban dan membuat Emir tambah panik.
"Tenang mas.." Emira terus menguatkan Emir. Padahal suaminya ini dokter. Tapi melihat wajah pucat sang suami membuat Emira tidak tega.
Emira sudah di bawa ke ruang bersalin. Meski wajah Emir sudah terlihat sangat pucat, tapi dia tetap ngotot ingin menemani proses lahiran istrinya.
"Ini sudah membukaan 10, sudah siap ya untuk lahiran." Tanya Dokter Ririn pada Emira.
Emira hanya mengangguk di dalam hatinya terus berucap doa agar persalinannya di mudahkan.
"Tolong ikuti instruksi saya ya nona, jika dedenya mengajak untuk mengejan nona baru di perkenankan untuk mengejan. Dan jangan mengejan jika dede bayi tidak meminta. Apa sampai sini paham nona ?
Emira lagi lagi mengangguk. Emir terus berdoa dan mencium kening sang istri. Tangannya terus menggenggan tangan Emira. Memberikan dorongan kekuatan pada sang istri dibawah tekanan rasa takut pada dirinya sendiri.
Emira melakukan instruksi Dokter Ririn dengan sangat baik. Kurang dari 15 menit suara tangis bayi memenuhi ruangan bersalin Emira. Perasaan lega dan ucapan syukur terus Emira panjatkan pada sang Pencipta. Karena telah membantu mempermudah proses lahirannya.
"Dokter Ririn langsung memberikan dede bayi ke atas tubuh Emira hal itu dilakukan untuk meningkatkan ikatan batin antara anak dan bundanya. Bayi pun bisa mulai mencari ****** bunda. Menempel didada bundanya juga bisa melepaskan lebih banyak hormon oksitosin yang bisa membantu mengosongkan rahim.
__ADS_1
**Bersambung**