
- Selamat membaca -ðð
Sebelum sampai sungai, dia menghubungi Anggasta, karena sebagai ketua panitia, Anggasta bertanggung jawab jika terjadi sesuatu di acara ini.
Anggasta juga sedang dalam perjalanan untuk menyusul ke sungai, dia menyerahkan acara bakti sosial itu pada Kiran dan anggota lainnya.
"Apa ini benar jalan menuju sungai ?" tanya Emira
"Iya benar Emira. Tadi aku juga lewat sini saat kembali untuk meminta bantuan." Jelas Sari dengan suara yang bergetar.
Mereka mesuk ke hutan lebih dalam, semakin jauh dari tempat camping, padahal setahu Emira jalan menuju sungai bukanlah lewat jalan ini, karena sebelumnya dia juga sudah menyusuri sungai.
Perasaan Emira mulai tidak enak, karena dia tahu betul jalan kemana yang dia tuju, untuk mengurangi kegugupan dan rasa takut nya, dia berjalan sambil mengecek hp nya, mengirimkan lokasi terkini dirinya pada Anggasta, namun sialnya, tidak ada sinyal yang masuk di hpnya, pesan tersebut tak kunjung terkirim.
"Aaaakkkhhhh....." Teriak Emira.
Emira terjerembab ke lubang yang terlihat seperti sumur besar, mungkin dalamnya sekita 2,5 meter, namun karena banyak nya semak semak dan ranting kayu sehingga membuat dirinya tidak terlihat dari atas sana.
"Sari tolong aku, apa kamu masih di atas ?" Teriak Emira dari dalam sana.
"Tolong Sari, Tolong aku."Â Tidak ada jawaban, Emira mulai panik.
Dia mencoba untuk tetap tenang, mengatur nafas nya agar tidak panik, berfikir untuk mencari jalan keluar, menyingsing kan ranting pohon dan semak semak yang ada di sana agar bisa lebih terlihat dari atas.
Dirinya membuang rasa takut jika mungkin disana ada serangga atau parahnya ada ular dan semacamnya, yang pasti dia ingin segera meloloskan diri.
Siapapun yang sudah menjebak dirinya, itu akan menjadi urusan belakang, Emira meraih akar pohon besar yang menembus tanah, mencoba mengandalkan kekuatan tangan dan kakinya untuk memanjat lubang tersebut.
Baru setengah jalan, akar tersebut sudah putus karena tidak kuat menopang berat tubuh Emira, Akhirnya Emira terjerembab kembali dalam lubang, bahkan saat ini kakinya juga terkilir.
"Toloooong... apakah ada orang di atas, siapa pun itu tolong aku." Teriak Emira.
Akhirnya tangis Emira pun pecah, tubuhnya merasakan sakit, kakinya terkilir, bahkan lengan baju panjangnya tidak mampu melindungi tangan Emira dari goresan ranting ranting berduri.
Emira terus meminta tolong sampai suaranya hampir habis, sudah 2 jam lebih dia di dalam sana, tidak ada siapapun di luar sana yang bisa mendengar jeritannya.
Emira duduk bersandar pada dinding lubang tersebut, memeluk lututnya, dan menenggelamkan kepalanya disana.
Hingga sayup-sayup dia mendengar semak - semak yang seperti sedang di singkirkan oleh seseorang. Dan, Bugghh, Arkana jatuh tepat di hadapan Emira.
__ADS_1
"Arka." Suara memilukan Emira memanggil adik iparnya itu, tangisnya sudah pecah, dia terus mengucap syukur karena akhirnya ada yang menemukan dia disana.
"Lo baik baik aja kan ? Maafin gue Mir, Gue telat nolong lo." Tanpa sadar Arkana merangkul tubuh Emira.
"Arka tolong jangan peluk aku." Pinta Emira di tengah tengah dirinya yang mulai tidak sadarkan diri, dan akhirnya tubuhnya benar benar limbung di dalam pelukan Arkana.
Tidak lama tim sar datang, dan melakukan pertolongan pada keduanya, Akhirnya Emira dan Arkana sudah bisa keluar dari lubang semak-semak tersebut.
Disana sudah ada Anggasta, Della, Kiran dan beberapa tim SAR yang tadi di panggil oleh Anggasta. Tujuan awal untuk menyelamatkan siswi yang hilang di sungai, justru Emira  menjadi korban nya.
Terkait Sari, dia sudah di amankan oleh guru, karena Ningsih yang melaporkan jika Sari yang membawa Emira keluar untuk mencari teman nya.
Penutupan acara camping tidak berjalan dengan lancar, dan dengan sangat terpaksa harus di majukan, sehingga tepat pukul 9.00 tadi, rombongan sudah jalan dari lokasi untuk menuju Kota. Meninggalkan beberapa panitia dan guru serta Tim SAR yang masih mencari keberadaan Emira.
Emira di bawa ke Rumah sakit terdekat untuk mendapatkan pertolongan pertama, di dampingi Arkana. Anggasta dan kedua sahabatnya serta wali kelas mereka.
"Gue nitip Emira sebentar." Arkana berkata pada Kiran dan berlalu meninggalkan ruang rawat Emira.
Anggasta mencoba untuk menepis pikirannya, dia terus terusik akan ke khawatiran Arkana yang cukup terlihat jelas jika dikatakan sebagai teman.
"Apakah Arkana juga menyukai Emira ?" batin Anggasta. Dia masih berdiri didekat ranjang Emira, di sana ada Della dan Kiran juga, sedangkan bu Ani sedang mengurus administrasi Emira,
"Astaghfirullah, Arkana!. bagaimana bisa nak? apa yang terjadi, Kalian di rumah sakit mana, biar bunda menyusul sekarang."
"Kita masih di dekat puncak bun, bunda jangan khawatir, info dokter tidak ada yang serius, Jika Emira sudah sadar maka sudah bisa pulang."
"Tunggu, bunda akan kesana sekarang."
"Tidak perlu bun." Cegah Arkana cepat.
"Bunda tunggu di rumah saja, Arkana janji akan menjaga Emira untuk abang."
"Bunda tidak percaya padamu. Buktinya Emira saja bisa masuk rumah sakit. kemana saja kamu HAH." Teriak bunda di seberang telpon sana.
"Astaga bunda, Arkana tidak tuli, kenapa harus teriak teriak sih." Arkana mengusap telinganya yang tiba tiba berdengung.
"Dasar anak nakal, menjaga kakak iparmu saja tidak bisa."
"Sudah ah, Arka tutup, tau begitu tidak perlu Arka kabari saja sekalian." Gumam Arkana dengan suara lirih.
__ADS_1
"Bunda dengar Arkana."
"Astaga!, sudah dulu ya bun. Assalamualaikum."
Setelah panggilan telepon itu terputus, Arkana kembali ke ruangan Emira, dan ternyata Emira sudah sadarkan diri.
"Sebenernya apa yang terjadi sih Mir ? kenapa lo ngga panggil gue ?" tanya Della yang saat itu di tugaskan berasama untuk mengurus penutupan acara camping.
"Sorry Dell gue juga buru-buru, gue cuma inget buat ngubungi Anggasta aja." Jawab Emira jujur.
"Kayanya ngga mungkin kalo Sari yang lakuin ini semua, pasti ada orang di belakangnya." pikir Kiran.
"Gue setuju." Jawab Della cepat.
"Siapapun itu akan mendapatkan sanki tegas dari sekolah, sekolah pasti akan cari tau ini. lo tenang aja ya." Ujar Anggasta.
Anggasta sebenarnya punya 1 nama yang ada di pikirannya, yaitu Sisil!. Tapi dia tidak ingin buru-buru menyimpulkan jika belum ada bukti. Dan jika yang ada di pikirannya benar, maka dia akan membuat perhitungan padanya.
**
"Emir Tunggu." Dokter Fera mencegah Emir untuk masuk ke tempat kerjanya. Dia tau kesempatan ini tidak datang 2 kali.
"Jika ada yang ingin di bicarakan, bicara lah pada David, dia yang akan menyampaikan padaku nanti." Ucap Emir dingin.
"Emir sebentar, sebentar saja aku mohon, dari kemarin aku sulit sekali ingin menemui-mu."
"Apa ada yang penting?" tanya Emir.
"Aku hanya ingin membantu-mu Emir, apakah tidak ada yang bisa aku lakukan disini?"
"Dokter Fera, Anda adalah seorang Dokter, sudah seharusnya tugas anda menolong orang yang sakit, sedangkan Dokter Emir sehat dan tidak butuh bantuan Anda. Jika anda punya rasa malu, seharusnya anda tidak meninggalkan Rumah Sakit di Jakarta untuk pergi ke Bali dan tidak melakukan hal yang jelas di sini." pernyataan yang sangat membuat Dokter Fera geram sekaligus malu, apalagi kata kata itu keluar dari mulut sang asisten Emir.
Emir tersenyum dan mengangkat alis nya pada dokter Fera. Dia rasa, kata-kata David sudah cukup jelas untuk mengusirnya agar tidak mengganggu dirinya. Emir berlalu di ikuti David meninggalkan Dokter.
"Awas kau David. berani-nya kau." Geram Dokter Fera mengepalkan tangannya kuat.
**Bersambung**
Mohon dukungannya dengan Like dan komen nya ya kak ð
__ADS_1
Terimakasih (â'â¡'â)