Istri Kecil Dr. Emir

Istri Kecil Dr. Emir
Eps 11


__ADS_3

Senin Pagi pukul 06.00 wib


Emira turun menuju ruang makan, dengan sudah mengenakan seragamnya, dia berjalan di depan Emir dengan jarak beberapa langkah.


Saat masih di tengah tangga, Emira mendengar sang suami di sapa oleh seseorang yang dia yakini Arkana. Hal itu membuat Emira mempercepat langkahnya untuk turun, dari kemarin dia memang belum bertemu dengan adik ipar, sekaligus teman sekelas nya itu. Entahlah Emira merasa sangat canggung jika bertemu dengan Arkana.


"Pagi bunda, pagi ayah." Sapa Emira.


"Pagi sayang." Balas bunda Daniah dengan senyum.


"Pagi Nak," Balas ayah Barra.


"Mas mau sarapan apa ?" Tanya Emira saat suaminya sudah duduk di sebelahnya.


"Roti selai coklat saja." jawab Emir singkat. Dengan telaten Emira membuatkan sarapan roti selai coklat untuk Emir, dan roti selai stroberi untuk dirinya.


"Emir, kamu yakin mau langsung kerumah sakit hari ini ?" Tanya bunda Daniah di tengah tengah sarapannya.


"Loh memang nya kenapa bun?" Bukan Emir yang menjawab, melainkan Arkana yang saat ini duduk berhadapan dengan Emira.


"Ya, tidak papa, bunda kan hanya bertanya, siapa tau Emir dan Emira ingin bulan madu dulu." Jawab bunda serius.


Ukhuk ukhuk ukhuk Emira tersedak roti tawar yang sedang dia kunyah, Emir menggeser air putih ke hadapan sang istri dan langsung di terima oleh Emira.


"Makasih mas."


"Pelan-pelan Mir, lucu banget muka lo, merah gitu, hahahah." Arkana memang adik ipar lucknut, sempat-sempat nya dia meledek disaat seperti ini


"Sudah-sudah, lanjutkan sarapan nya, sudah hampir terlambat kalian." Ayah Barra menengahi.


"Sudah selesai sarapan nya ?" tanya Emir pada Emira.


"Sebentar lagi mas." jawab Emira.


"Cepat ya, aku panasin mobil dulu." Emir beranjak dari duduknya. Dia memang lebih senang mengendarai mobil sendiri tanpa sopir, Emir menggunakan sopir hanya saat dirinya sedang malas menyetir.


"Emira bareng aku aja bang, naik motor." Arkana menawarkan diri untuk mengantar Emira, lagian mereka kan satu kelas, dan lagi jarak rumah sakit dan sekolah mereka cukup jauh walaupun satu arah. Emir harus putar balik jika harus mengantarkan Emira sekolah.


Emir menghentikan langkahnya, melirik Arkana sekilas, kemudian melangkahkan kembali meninggalkan ruang makan.


"Biarkan Emira di antar abang mu, lagian kamu kan naik motor sport, bahaya!" Tolak ayah Barra.


**

__ADS_1


"Makasih mas, aku masuk dulu ya." Emira mencium punggung tangan Emir dengan takzim.


Kemudian dia keluar dari Mobil Emir yang berhenti di pinggir sekolah, tidak sampai depan gerbang, karena Emira belum siap jika banyak yang bertanya padanya.


Saat baru masuk ke gerbang, Kiran dan Della sudah menunggu Emira di sana, mereka berdua sengaja memasang wajah yang sok imut untuk menggoda sahabatnya.


"Jadi kemana lo semalem, tiba-tiba ngilang di grup?" tanya Della, yang sudah tidak bisa membendung keingin tauan nya.


Mereka bertiga menuju kelas dengan terus menggoda Emira.


"Eh ada adik ipar tuh. cie masih kecil udah punya adik ipar, hahaha."


Della sunggu tidak terkendali pagi ini, dia terus saja melancarkan aksinya untuk membuat sahabat nya malu.


"Astaghfirullah." Tiba tiba Emira di senggol punggung nya oleh Sisil dari arah belakang


"Uppss, sorry, gue ngga liat." Ucap Sisil dengan wajah culas.


Emira menghela nafasnya dalam.


"Makin hari emang makin gila lo ya!" Emira mulai kepancing Emosi. Memang sesekali Sisil perlu di kasih pelajaran.


"Woww, liat guys, gadis yang sok cantik dan sok alim ini, udah balik lagi ke sifat aslinya." Sisil bersedekap dada. Dia tersenyum sinis pada Emira.


"Duh Sil, mending pergi deh loh. Sumpah ini masih pagi. Mual gue liat muka lo." Kiran menantang Sisil dan kedua teman Sisil dengan berani.


"Awwww... heh! gila lo ya." Sisil mengaduh kesakitan.


"Emang mesti pake tangan kalo mau ngadepin lo pada." Jawab Della masih terus menjambak rambut Sisil.


"Lepasin rambut gue, sialan!." Geram Sisil.


Della melepas rambut sisil sambil sedikit mendorongnya, yang membuat Sisil terhuyung kebelakang. Dia membersihkan tangannya seolah baru saja menyentuh kotoran.


"Inget baik-baik, ngga usah usik hidup gue lagi, mending lo berdoa biar hasil ujian lo kemarin membuahkan hasil, jangan sampe lo tinggal kelas, kan ngga lucu." Ujar Emira sebelum berlalu.


Pada dasarnya Emira bukan lah orang yang suka dengan keributan, dia juga tidak suka terlalu di kenal oleh para siswa atau siswi di sekolahnya, namun karena parasnya yang sangat cantik, dan yang paling penting, Emira selalu mendapatkan juara umum secara beruntun, hal itu lah yang menjadikan dia most wanted di sekolahnya.


Sering di sandingkan pula dengan Anggasta si ketua Osis, yang banyak fans fanatik nya itu, tak jarang Emira menjadi sasaran gibah para kaum hawa, tapi tetap saja, yang paling barbar hanya Sisil dan geng nya. Si biang rusuh yang sering masuk BK. Entah lah kapan mereka akan sadar.


**


Hari ini kelas tidak ada pelajaran, karena memang sudah selesai, tinggal menunggu hasil ujian, beberapa ada yang memilih kantin sebagai tempat mereka menghabiskan waktu, sebagian ada yang memilih duduk-duduk di depan kelas sambil melihat pertandingan basket yang sedang berlangsung.  Di sana ada kelas Anggasta yang bertanding dengan kelas Arkana dan Andi.

__ADS_1


Sedang Emira, Kiran dan Della tentu tengah sibuk dengan persiapan terakhir untuk acara camping. Meskipun sudah rampung 95% namun tetap saja mereka harus mengecek nya ulang.


"Hufftt, akhirnya beres semua, semoga ngga ada halangan sampai akhir acara nanti, Aamiin" Emira berujar setelah memastikan semuanya beres.


Perlengkapan dan peralatan yang akan di bawa, memastikan kembali Rundown acara, serta segala kebutuhan P3K untuk jaga-jaga. Semua sudah di tempatkan di ruangan khusus, Rabu nanti tinggal di angkut menggunakan Truk.


**


Rabu Pagi, "Hari Camping"


"Kamu yakin, sudah tidak ada yang tertinggal ?" Tanya Emir memastikan,


"Emmm... sepertinya sudah tidak ada mas." jawab Emira dengan masih memperhatikan barang bawaannya, sejujurnya dia juga ragu apakah sudah lengkap semua atau belum.


"Ya sudah ayo kita berangkat." Ajak Emir


tap tap tap


"Bang, nebeng sekalian." Arkana berlari sambil nyengir,  menghampiri Emir dan Emira yang sudah berada di teras rumahnya.


"Minta mang udin antar aja." Emir kembali melangkah tanpa menghiraukan muka cemberut Arkana.


"Kenapa tidak sekalian mas? kan memang satu sekolah. Lagian barang bawaan ku tidak banyak, pasti masih muat mas." ucap Emira sambil menyusul suaminya, karena merasa tidak enak pada Arkana, apa salahnya jika berangkat bersama, pikir Emira.


"Tuh kan, istri abang aja bolehin." Tukas Arkana ikut menyusul pasangan suami istri itu.


**


Emir memarkirkan mobilnya tidak jauh dari gerbang sekolah, pagi ini Emira sudah beristighfar entah berapa kali, dari rengekan Arkana yang ingin ikut berangkat bersama tidak Emir hiraukan, sampai Emira meminta di turunkan di tempat biasa suaminya menurunkan pun tidak di gubris.


"Mas aku turun ya." Izin Emira


Entah kenapa hari ini Emir begitu berat melepas istrinya untuk pergi sekolah, apalagi, saat ini acara di luar sekolah. Entahlah dia seperti ingin mengulur waktu untuk bersama sang istri lebih lama.


"Mas.."


Emira menyentuh tangan Emir, di tatap secara intens oleh sang suami di pagi hari seperti ini, sungguh membuat jantungnya tidak aman.


Tubuh Emir mendekat ke jok bangku Emira, wajahnya saat ini hanya berjarak beberapa senti dari wajah sang istri.


Emira menahan nafasnya karena gugup, keringat nya sudah mengalir di dalam bajunya.


ceklek..

__ADS_1


Bunyi pengait sabuk pengaman yang seketika terlepas dari tubuh sang istri, namun wajah dan tatapan nya tidak beranjak barang sesenti pun.


**bersambung**


__ADS_2