Istri Kecil Dr. Emir

Istri Kecil Dr. Emir
Eps 32


__ADS_3

__Selamat membaca__ 💖💖


"Lepasin kak, Astaga..." Teriak Della memukuli punggung Azam.


"Ssttt.. diam Dell," Azam terus membopong tubuh Della ke kamar mandi tanpa memperdulikan rengekan gadis itu.


"Mereka romantis sekali" Celetuk Arkana sambil tertawa. Kemudian melirik Kiran yang tidak jadi tertidur karena mendengar teriakan Della.


"Coba saja putri yang satu ini bisa di ajak kerja sama." Sindir Arkana pada Kiran yang tetap tidak mengindahkan ucapannya.


"Apa mas tau kalo kak Azam dan Della sudah bertunangan ?" Tanya Emira pada suaminya.


"Hemm."


"Iiiihhh... kenapa tidak bilang?" Kesal Emira pada suaminya. Masa iya hal penting seperti ini tidak di beritahu, apalagi ini menyangkut sahabatnya.


"Kamu kan tidak bertanya." Jawab Emir dengan santainya sambil memasukan jeruk ke mulut sang istri.


"BUNDAAAA!!" Teriak Della dari dalam kamar mandi.


"Aduh kenapa lagi ini anak dua." Bunda Mala berjalan menghampiri kamar mandi dimana calon menantu dan anaknya berada.


Tok..tok...tok


"Della.. ada apa sayang ?" Tanya bunda Mala sambil mengetuk pintu kamar mandi yang terkunci.


"Bunda... Kak Az..." Ucapan Della terputus.


"AZAM KELUAR KAMU." Teriak bunda Mala dengan sangat kencang.


"Mas tolong itu, aku takut Kak Azam ngapa-ngapain Della." Emira jadi panik sendiri mendengar kegaduhan di kamar mandi, apalagi teriakan Bunda Mala yang sangat kencang.


"Sudah biarkan saja. tidak akan terjadi apapun."


Sedangkan di dalam kamar mandi.


"Emmpp.." Della terus memukul dada bidang Kak Azam yang sudah berani menciumnya tanpa permisi. Apalagi ini adalah ciuman pertamanya. Masa iya di lakukan di kamar mandi. Dengan geram Della terus memukul bahu Kak Azam. Namun sepertinya Azam terbuai akan ciuman yang dia niati hanya untuk membungkam mulut gadis itu.

__ADS_1


"Manis". itulah yang ada di dalam pikiran Azam, sampai dia tidak sadar, ciuman yang awalnya hanya berupa kecupan berubah menjadi lum*atan yang sangat rakus dan menuntut. Azam mencengkal kedua tangan Della dengan satu tangan, sedangkan tangan satunya dia gunakan untuk mendorong tiang infus.


Azam menghimpit tubuh Della ke dinding. Tangan Azam beralih menekan tengkuk Della untuk memperdalam pagutan itu. Azam mel*umat dan menyes*ap bibir Della dengan rakus namun lembut. Tubuh Azam terus menghimpit tubuh Della, memperdalam ciuman itu meskipun tidak mendapatkan balasan, karena dia tau gadis nya itu masih sangat awam soal ciuman. Azam menggigit bibir bawah Della untuk membuat mulut itu terbuka. Namun bukannya terbuka. Della justru membalas menggigit bibir Azam dengan keras, karena sudah kehabisan oksigen.


"Kakak mau membunuh ku ya." Ujar Della dengan ter-engah.


Azam tidak menjawab, bahkan bibir yang sedikit mengeluarkan darah itu sama sekali tidak terasa sakit baginya.


"Shiitt.. Kenapa bibirnya sangat membuatku ingin mengulanginya lagi." Batin Azam yang terus memandang ke arah bibir Della tanpa rasa bersalah sama sekali.


Della Meremas baju Azam dengan kedua tangannya, karena dirinya masih sangat terengah-engah. Bahkan dia sampai lupa jika ingin membuang air kecil. Tangan azam yang masih bertengger di kedua pinggang Della, perlahan menarik tubuh itu kedalam pelukannya.


"Tubuhmu hanya akan menjadi milik ku." Ucap Azam saat pelukan itu sudah terlepas.


Azam menangkup kedua pipi Della, mengusapnya dengan kedua ibu jarinya, mengalihkan wajah Della untuk memandang wajahnya. Rasanya dia ingin sekali mengulangi ciuman panas tadi. Wajah Azam mulai menunduk untuk menjangkau kembali bibir yang terlihat bengkak dan menantang itu, namun belum sempat bibir Azam menyentuh bibir Della, gadis itu sudah memalingkan wajahnya ke samping.


"AZAAAM KAU SEDANG APA ?" Teriak Bunda Mala sambil menggedor pintu kamar mandi.


"Aiiisssh bunda mengganggu saja." Gerutu Azam perlahan menjauhkan tubuhnya dari tubuh Della, Dia pergi meninggalkan Della yang masih tercengang dengan ulahnya tanpa penjelasan sama sekali.


"Astaga." Azam kaget di depannya terlihat Bunda Mala, tante Sela dan tante Daniah yang sudah berjejer seperti ibu ibu yang akan berdemo. Azam menutup kembali pintu itu agar membuat Della nyaman.


Bunda Mala menepuk lengan Azam dengan sangat keras. "Ngapain kamu hah ?!" tanya bunda Mala dengan kesal. Dia sangat khawatir pada calon menantunya, mengingat anaknya itu sangat tidak bisa di kondisikan.


"Ya ampun bunda apaan sih, kan tadi bunda sendiri yang meminta Azam membantu Della." Jawab Azam sambil berlalu dari tatapan medusa para wanita baruh baya itu.


"Mau kemana kamu?" Teriak bunda Mala saat melihat Azam sudah berlari menuju pintu keluar.


"Sayang kamu baik baik saja kan?" Della baru saja keluar dari kamar mandi setelah selesai membuang air dan membasuh mukanya.


Della hanya mengangguk sambil tertunduk, karena tidak ingin yang lain melihat bibirnya yang bengkak ulah laki laki sialan itu.


"Anak itu, bilang tidak doyan, tapi tetap saja di lahap." Batin bunda Mala melihat sekilas bibir calon menantunya yang bengkak. Dia yakin itu pasti ulah dokter berandalan itu, yang sialnya adalah anaknya sendiri.


**


Sabtu pagi Pukul 10.30 Wib, semuanya sudah di perbolehkan untuk pulang, Kiran sudah pulang bersama bunda Sela, setelah terjadi perdebatan panjang antara dirinya dengan Arkana yang ngotot ingin ikut mengantar pulang, tapi tidak di izinkan oleh Kiran. Bunda Sela dan Bunda Daniah sampai pusing mendengar perdebatan anak remaja itu.

__ADS_1


Sedangkan Della hanya di antar oleh bunda Mala, karena sejek ciuman panas kemarin, Azam entah menghilang  kemana. Kata orang rumah anak itu tidak pulang, tapi di rumah sakit juga tidak terlihat batang hidungnya.


Dan Emira, tentu saja di antar oleh suaminya. Kali ini Emir tidak menyetir mobilnya sendiri, dia meminta pak Jono untuk mengantarkan dirinya dan Emira pulang.


Didalam mobil


"Pak Jono apa sudah tidak apa - apa?, kenapa berkerja hari ini ?" Tanya Emira pada sopir pribadinya itu, mengingat kemarin siang Pak Jono melawan dua penjahat sekaligus. Dia juga melihat wajah pak Jono yang masih terdapat bekas lebam cukup banyak.


"Saya sudah baikan non." Jawab Pak Jono dengan sopan.


"Jangan di paksakan pak."


"Iya non, Terimakasih." Ucap pak Jono.


Hari ini, Emir sengaja mengambil libur karena ingin menemani sang istri. Urusannya dengan Dokter Fera sudah dia selesaikan tadi pagi. Emir sendiri yang mengantar surat pemecatan Dokter Fera ke ruangannya.


Emir sudah memperlihatkan semua bukti yang memberatkan dokter Fera. Dan tanpa bantahan dari dokter Fera. Dia masih bersyukurnya Emir tidak melaporkannya pada pihak kepolisian yang sebenarnya itu sangat mudah bagi Emir lakukan.


Namun karena permintaan ayahnya dan Dokter Agung yang memohon langsung, bahkan sampai bersujud pada Emir, membuat Emir tidak tega dan tidak punya pilihan selain memecat Dokter Fera, dan memutus segala hubungan dengan dirinya dan Dokter Fera serta dokter Agung. Bahkan Emir juga meminta Dokter Agung untuk melepas saham nya dan menjualnya pada Dirinya.


"Menurut mas Emir apa yang terjadi di kamar mandi kemaren ?" tanya Emira penasaran.


Emir menutup ipadnya kemudian memandan sang istri.


"Kamu akan tahu nanti." ucapnya sambil tersenyum menarik sudut bibir kanan nya ke atas.


"Nanti ? memang siapa yang akan memberitahu nanti ?" Tanya Emira lagi.


"Nanti mas yang akan memberitahu mu." ucap Emir.


"Kenapa harus nanti ? kenapa tidak sekarang saja?"


"Karena ini di dalam mobil sayang. Bukan di kamar mandi." Ucap Emir gemas sambil mencubit pipi Emira yang sudah mulai cabi.


"Ih mas tidak jelas."


**Bersambung**

__ADS_1


__ADS_2