
--Selamat membaca-- 💖💖
"Kenapa tidak menunggu ku?" Tanya Emir saat mereka sudah berada di Mobil.
"Aku lapar mas." jawab Emira.
"Kamu bisa meminta David untuk membelikan makanan."
"Tapi aku juga bosan, makanya aku keluar sekalian membeli makan."
"Lain kali kabari aku dulu." Emir mengaitkan sabuk pengaman sang istri.
"Iya maaf mas." Sahut Emira lirih.
Emira tidak lagi menjawab perkataan suaminya, dia tau sudah bersalah, karena tidak memberi kabar pada suaminya terlebih dahulu.
Sesampainya di rumah, Emir dan Emira bergegas ke kamar untuk membersihkan dirinya, mereka sampai tepat pukul 17.30 sore.
Bunda Daniah ke luar dari kamarnya bertepatan dengan Emir dan Emira yang baru naik ke lantai dua.
"Emir dan Emira belum pulang bi ?" Tanya bunda Daniah pada bibi saat sudah berada di dapur.
"Baru saja sampai bu. Mau saya panggil kan bu ?"
"Tidak perlu, biarkan saja. Lanjutkan bi." Ujar bunda, kemudian berlalu menuju ruang keluarga.
"Eh Arka, kenapa baru pulang ?" tanya bunda yang melihat Arkana baru masuk ke dalam rumahnya.
"Emm.. habis dari tempat les bun." Jawab Arkana sekenanya.
"Masa iya ?"Â Bunda Daniah memicingkan matanya, menatap tajam putra bungsunya itu tidak percaya.
"Kalo bunda tidak percaya tanya saja Emira, tadi kita les bareng."
'Mampus nih kalo bunda sampe tanya Emira'Â batin Arnakan sambil melewati Bundanya.
"Aw... aw.. duh... sakit bun..." Kini telinga Arkana menjadi sasaran empuk Bunda.
"Sekarang kamu jadi pintar berbohong ya." Geram bunda semakin menjewer telinga Arkana.
"Ampum bun." Pinta Arkana menahat sakit di telinganya.
"Eh ada apa ini, kenapa main jewer jeweran ?" tanya Ayah Barra yang baru pulang dari rumah sakit melihat istri dan putranya yang memang tidak pernah akur.
Bunda melepaskan jeweran pada telinga Arkana.
"Bunda menyeramkan sekali." Ujar Arkana sambil mengusap telinganya yang terasa panas dan terlihat sangat merah.
__ADS_1
"Bilang apa tadi ?." Bunda Daniah mendelik. Dan Arkana segera berlari ke atas untuk menghindari amukan Bunda nya lagi.
"Kamu itu kenapa tidak pernah akur dengan putramu itu ?." tanya Ayah sambil berjalan ke kamar di ikuti oleh bunda Daniah.
"Anak kamu itu menyebalkan mas." Ujar Bunda dengan cemberut.
"Dia juga anak kamu bun." Ayah Barra tergelak. Dia sudah tidak tau bagaimana membuat istri dan anak bungsu nya untuk akur.
Jam makan malam mereka semua berkumpul di ruang makan, Emira tidak sadar, jika kini mereka semua tengah menghentikan aktivitas makannya, saling pandang satu sama lain karena melihat Emira memakan sangat lahap dengan porsi dua kali lipat dari biasanya.
"Mau tambah udang tepung nya Mir ?" Tanya bunda Daniah.
"Mau bun." Jawab Emira dengan antusias
"Bi tambahkan lagi udang nya." Teriak bunda pada bibi
"Baik bu."Â Bibi datang dari dapur dengan membawa 1 mangkuk udang tepung, dan Emira mengambil tiga ekor untuk di pindahkan ke piringnya.
"Jangan sampai perutmu terlalu penuh, nanti yang ada tidak bisa tidur."
Emir mencoba untuk mengingatkan pada Istrinya.
"Tidak kok mas, aku baru makan sedikit." Jawabnya sambil mengunyah.
"Dua piring lo bilang sedikit ? " Timpal Arkana terheran.
Emira hanya diam, memandang piring yang ada di depannya, tanpa dia sadari dia memang sudah menghabiskan begitu banyak makanan malam ini, namun rasanya perutnya itu tidak kenyang-kenyang.
Emir hanya geleng geleng kepala, dia juga baru tau jika porsi istrinya kini bahkan dua kali dari porsi makannya.
"Bagaimana Rumah sakit yang ada di Bali Mir ?" Ayah bertanya untuk mengalihkan topik. Kini mereka semua sudah menyudahi makan malam nya, namun masih belum beranjak dari sana.
"Alhamdulillah sudah stabil yah." Jawab Emir.
"Sepertinya kamu perlu memutasi Dokter Fera ke sana." Sambung Ayah Barra dengan serius.
"Hemm sedang Emir pikirkan." Emir melirik istrinya sekilas.
"Jangan terlalu banyak berfikir dan menunda. Itu demi kebaikan kalian."
"Iya yah." Emir menjawab dengan singkat.
"Lebih cepat akan lebih baik."Â Ayah Barra tau, jika Dokter Fera sangat menginginkan Emir menjadi suaminya, bahkan Kakek dokter Fera sudah berulang kali menjodohkan cucunya itu dengan Emir. Ayah tidak ingini hal tersebut akan merusak rumah tangga anaknya yang baru saja dimulai.
Emira dan Bunda yang mendengar itu hanya bisa saling pandang. Emira dengan wajah bingung karena tidak memahami maksud dari ayah Barra, dan bunda Daniah dengan wajah takut, takut menantunya jadi salah paham.
"Mas, maksud ayah tadi apa ?." Tanya Emira, saat ini mereka sedang duduk sambil bersandar di tempat tidurnya.
__ADS_1
"Bukan apa-apa, tidak perlu kamu pikirkan."
"Tapi sepertinya serius." Emira memandang suaminya dengan tatapan memohon.
Emir menghela nafasnya, sepertinya dia memang harus menjelaskan garis besarnya. Emir menceritakan pada istrinya siapa itu Dokter Fera,dan bagaimana hubungannya dengan keluarga kita, serta posisi Dokter Fera di rumah sakit Al Ghazi.
"Jadi Dokter Fera itu ingin menjadi istri Mas Emir ?." Tiba-tiba kepala Emira terasa sangat panas, seperti akan ada asap yang keluar dari kedua telinganya.
'Dari sekian banyak penjelasan, kenapa harus itu yang di tanyakan.'Â Batin Emir melirik istrinya yang sudah mode siaga 1.
"Hemm.." Emir hanya bergumam, tanpa ingin menjelaskan lebih, dia hanya berusaha menyudahi pembicaraan ini agar tidak menjalar kemana-mana.
"Waahhh.. pasti sangat senangkan ya mas, bisa bekerja dengan orang yang mencintai kita." sindir Emira dengan senyum yang terlihat menyeramkan bagi Emir.
Emir tidak menjawab lagi, membenahi dirinya untuk bersiap tidur.
"Mas.. aku masih ingin mengobrol." ucap Emira sedikit kesal, karena melihat suaminya yang sudah ingin tidur.
Emir menarik tubuh istrinya sampai jatuh ke pelukannya, merangkul pinggang istrinya dan mengecup bibirnya sekilas. Memandang manik mata istrinya dengan intens.
"Jangan terlalu banyak pikiran, aku tau batasan, sekarang tidur lah." Emir mengeratkan pelukan.
Emira membenamkan kepalanya di dada bidang suaminya, menghirup aroma tubuh Emir dalam dalam.
**
Di tempat lain. Suara dentuman musik DJ memenuhi ruangan yang penuh dengan orang yang sedang meliuk liukan tubuhnya. Dan seorang wanita tengah meminta untuk di isi kembali gelas yang sudah kosong itu dengan bir. Entah sudah ke botol berapa dia menghabiskan minuman itu, sampai benar-benar kehilangan kesadarannya.
"Emir..." Dia terus meracau, menyebut nama Emir dalam mabuk nya. Tubuhnya sudah tidak bisa lagi dia kendalikan.
"Minggir!!." Dia berjalan sempoyongan tak tentu arah.
"HEI..!! Beberapa pengunjung yang di tabrak tidak terima.
"Menyingkir kalian semua!!!!. Teriak Dokter Fera.
Dia hendak keluar dari gedung itu, susah payah dia untuk mencapai mobilnya.
"Non, biar saya antar." Ucap Asisten pribadi kakek Dokter Fera.
"Apa kau Emir." Dokter Fera mendekat pada asisten kakek nya, menelisik wajahnya, kemudian menggeleng.
"Pergi kau, aku hanya butuh Emir." Usir Dokter Fera.
Reza namanya, Dia tetap membantu Dokter Fera untuk masuk ke dalam jok mobil di belakang kemudi.
"Minggir Aku bilang!!! Apa kau tuli hah !?." Bentara Dokter Fera lagi.
__ADS_1
Dengan sedikit paksaan, Reza berhasil memasukan tubuh Dokter Fera kedalam mobil, kemudian dia melajukan mobilnya untuk menuju rumah utama Dokter Agung.
**Bersambung**