Istri Kecil Dr. Emir

Istri Kecil Dr. Emir
Eps 25


__ADS_3

--Selamat membaca-- 💖💖


Kabar gembira untuk keluarga besar Al Ghazi, menantu mereka benar - benar hamil. Kandungan Emira kini sudah memasuki 8 minggu. Dokter Ririn memberikan beberapa vitamin dan obat mual, untuk mengurangi rasa mual pada istri kecil dokter Emir.


Dokter Ririn juga mengatakan tidak perlu ada pantangan makanan, hanya di tri semester pertama ini jangan terlalu banyak fikiran dan stres, juga sementara mengurangi hubungan badan yang terlalu sering dan kasar, karena itu akan mempengaruhi janin yang ada di dalam nya.


"Waahhh... sebentar lagi aku akan menjadi uncle." Arkana juga sangat gembira akan berita ini, dia sudah tidak sabar ingin mengabari Kiran dan juga Della, pasti mereka sangat heboh mendengar kabar ini.


"Jangan berani - benari memberitahu Kiran dan Della." Ancam Emira yang sudah tau adik iparnya ini pasti akan membuat heboh kedua sahabatnya.


"Aiissshh.."


"Apa kamu sudah tidak mual?" Tanya Emir pada sang istri. Kini mereka semua sedang berada di ruang makan untuk sarapan pagi.


"Tidak mas, justru aku sangat lapar."


"Makan yang banyak Emira, selagi kamu tidak merasa mual, maka makan lah apapun yang sehat dan bergizi." Bunda Daniah memberikan sop daging untuk sang menantu.


"Makasih bunda." Emira tersenyum bahagia, mendapatkan keluarga yang sangat menyayangi dirinya dan juga bayi yang ada di dalam kandungannya.


Hari ini Emira tidak masuk sekolah, karena masih sedikit pusing dan juga Emir yang terus menempel sejak usai sarapan tadi.


Drama pagi ini di mulai, acara pamitan yang bisanya di lakukan hanya 1 menit, kini hampir 1 jam belum juga rampung.


Emira merasa sesuatu yang baru dari sang suami. Dia baru tau jika suaminya ini sangat manja dan posesif.


"Sudah dong mas, memang nya kamu tidak mau berangkat kerja?" Emira mengela nafasnya, entah sudah ke berapa kali Emira mengusir sang suami yang masih saja betah di kamarnya. Padahal Emir sudah memakai stelan kerjanya.


"Ayo aku antar ke bawah." ucapnya lagi.


"Kenapa kau mengusirku."


"Astaga.. bukan mengusir mas, tapi ini sudah jam setengah 8 loh, nanti mas telat." ujar Emira.

__ADS_1


"Biar kan saja, lagian itu rumah sakitku, tidak akan ada yang menegur ku." Emir kembali mencium bibir mungil istrinya, memeluk posesif dan mengusap punggung istrinya.


"Mas, nanti yang ada kamu tidak jadi kerja. Ingat kata dokter Ririn, harus dikurangi, karena masih sangat rawan mas, kita tidak boleh sering- sering melakukannya." Emira mencari alasan untuk menyudahi drama pagi ini.


"Masa iya Dokter Ririn bicara seperti itu? berani sekali dia melarangku." Wajah Emir terlihat masam. Entah dia lupa, atau melupakan hal itu. Padahal dirinya juga dokter. Sudah seharusnya dia juga tau mana yang baik dan tidak baik, meskipun Emir buka dokter kandungan.


"Apa aku perlu memutasinya ke cabang pelosok ?" Emir seprti sedang berfikir. Menimbang - nimbang apakah hal itu perlu atau tidak.


"Astaga... mas ini dokter atau bukan sih sebenarnya?" Emira tidak habis fikir akan jalan pikiran suaminya ini. Terlepas dari bercanda atau bukan, tapi apa alasannya masuk akal, memindah tugas seorang dokter sesuka hatinya.


'benar-benar suami meresahkan.' batin Emira.


Setelah melalui drama panjang yang berakhir dengan Emira yang harus melayani sang suami terlebih dahulu, dengan janji Emir, bahwa dia akan melakukannya dengan lembut dan pelan agar tidak menyakiti anak mereka.


Pukul 9 pagi Emir baru turun dari lantai dua, menyapa bundanya yang tengah menata bunga di fas bunga yang baru yang berada di ruang tamu.


"Emir berangkat bun, titip Emira ya." Emir menyalami bunda Daniah yang sedikit kaget tadi.


"Bunda kira kamu sudah berangkt, ngapain saja kamu di atas. Dimana Emira?" Bunda Daniah menelisik wajah Emir. Dia ingat betul pagi tadi rambut Emir tidak basah, kenapa sekarang jadi basah.


"Astaghfirullah Emir. kamu tidak ingat yang dokter....


"Iya Emir tau bun, Emir berangkat." Setelah mengucapkan salam, Emir berlalu meninggalkan bunda yang sedang mengelus dada.


"Astaghfirullah... Astaghfirullah... apa bener itu Emir?" Gumam bunda Daniah ragu sendiri pada putra pertamanya.


Pasalnya sebelum Emir di jodohkan dengan Emira, Emir sama sekali tidak ingin didekati wanita. Bahkan bundanya sempat menanyakan apakah Emir menyukai wanita atau tidak. Sudah hampir masuk 29 Tahun tapi belum ada tanda-tanda juga.


Emir bukan tidak suka menjalin hubungan, tapi baginya seorang perempuan adalah makhluk allah yang paling istimewa, dia tidak ingin merusaknya dengan cara berzina, apapun itu jika belum halal baginya, maka pantang bagi Emir dekati. Dan terbukti saat ini dia sangat menikmati gadis kecil halal nya itu. Bahkan sudah menjadi candu baginya.


**


Sesampainya di rumah sakit. Emir memanggil David ke ruangannya.

__ADS_1


Dia meminta David untuk mengumpulkan para ketua departemen untuk rapat jam 11 siang nanti.


Dan disinilah rapat yang di pimpin oleh Emir tengah berjalan, menyampaikan beberapa perubahan struktur organisasi yang Emir rombak karena akan ada dokter yang di mutasi ke Bali.


Dan akhir nya Emir menyatakan bahwa dokter tersebut adalah dokter Fera.


Sontak hal tersebut tidak hanya membuat Dokter Fera tidak terima, tapi Dokter Agung juga mengajukan protes yang sama.


Menanyakan alasan yang masuk akal untuk mereka terima.


"Kami membutuhkan dokter yang berbakat seperti dokter Fera untuk rumah sakit Al Ghazi yang ada di Bali. Kalian tau sendiri beberapa bulan lalu terjadi goncangan hebat di sana. Dan aku yakin, Dokter Fera mampu membawa kepercayaan masyarakat disana untuk kembali berobat di rumah sakit Al Ghazi.


"Sebenarnya alasan utama nya karena istriku. Aku tau, akan terlalu berbahaya untuk Emira berada didekat wanita itu." Batin Emir.


"Tidak Dokter Emir!! saya tidak ingin di pindahkan ke Bali. Kenapa tidak Dokter yang lain, kenapa harus saya?" Dokter Fera marah. Dia yakin alasan sebenarnya Emir memutasi dirinya bukan karena bakat yang dia miliki. Tapi karena ancaman dia yang ingin menjauhkan Emir dengan istrinya.


"ck.. alasan mu sungguh kekanak-kanakan Emir." Batin Dokter Fera Geram.


"Apakah anda meragukan kemampuan anda dokter Fera?" Hawa di ruang rapat tersebut mendadak jadi sangat panas.


Para ketua departemen saling berbisik, beragumen dengan pikiran mereka masing masing.


Sebagian besar dari mereka tidak keberatan jika Dokter Fera akan di mutasi ke rumah sakit di Bali. Namun dokter yang ada di departemen yang sama dengan dokter Agung merasa keberatan.


Tentu karena mereka takut pada Dokter Agung. Bukan karena menyayangkan jika Dokter Fera harus pindah.


"Kalo begitu tolong berikan alasan kenapa bukan anda ?, apakah ada dokter lain yang memiliki bakat yang lebih baik untuk menjalankan tugas ini dokter Fera ?" Tanya dokter Emir memancing, Emir sungguh pintar. Umpan yang dia berikan akan sama sama membuat Dokter Fera terpojok.


Azam yang mendengar itu tersenyum,


"Ck.. dia sungguh pintar memanfaatkan situasi" gumam dokter Azam lirih.


Sedangkan Dokter Agung dan dokter Fera tengah menahan Emosinya.

__ADS_1


**bersambung**


__ADS_2