Istri Kecil Dr. Emir

Istri Kecil Dr. Emir
Eps 49


__ADS_3

^^^Hai kakak, terimakasih yang masih setia dengan cerita Istri Kecil Dr. Emir. Mohon maaf kemarin sedang tidak enak badan jadi tidak up, bantu like dan komennya ya kak, biar aku tambah semangat up nya 🥰


__Selamat membaca__ 💖💖


"Minggir mas, aku mau tidur." Emira membaringkan tubuhnya membelakangi Emir, dia juga menarik selimut sampai batas lehernya. Hatinya sedang panas, Tapi suaminya sungguh tidak peka.


"Kamu ini kenapa sih bun ?"


"Eh.. kenapa tiba - tiba merubah nama panggilan begitu ?" Batin Emira.


**


3 bulan sudah berlalu, Emira sudah tidak lagi menutup perutnya yang buncit, karena memang berita kehamilannya sudah di dengar oleh seluruh siswa dan siswi serta para guru di sekolahnya.


Hari ini adalah hari terakhir ujian Sekolah. Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat, usia kandungan Emira kini sudah memasuki minggu ke 32, informasi dari dokter Ririn HPL di perkiraan 6-8 minggu lagi. Emira sengaja tidak ingin cuti sekolah saat usia kandungannya sudah menginjak bulan ke 7, karena sebentar lagi juga dirinya akan lulus sekolah.


Sepulang sekolah Emira di jemput langsung oleh Emir, lelaki itu tampak mengenakan pakaian santai, Emir  sengaja tidak ke rumah sakit karena ingin menghabiskan waktu bersama istrinya, setelah 1 minggu yang lalu meninggalkan istrinya untuk memantau rumah sakit yang ada di Bali.


"Mau mampir dulu ?" Tanya Emir pada sang istri,


"Tidak mas, aku lelah sekali, mau istirahat saja." Dan benar saja belum sampai 5 menit Emira sudah tertidur dengan pulas di dalam mobil.


15 menit kemudian mereka sudah sampai di kediaman Emir, Emir yang melihat sang istri masih terlelap tidak berniat untuk membangunkannya.


Emir memasuki rumah dengan menggendong tubuh istrinya, melewati ruang tamu yang tampak ramai, dengan  keadaan ruang tamu yang penuh dengan perabot - perabot yang masih belum di buka kemasannya.


Setelah membaringkan sang istri di kamarnya, Emir beranjak ke ruang tamu untuk menemui bundanya.


"Iya taruh di situ saja mas." Tunjuk bunda pada seseorang yang baru saja meletakkan paket berukuran cukup besar di hadapannya.


"Terimakasih ya mas." Lanjut bunda sebelum orang - orang tersebut pamit untuk pergi.

__ADS_1


Emir terus memperhatikan bundanya yang terlihat antusias mengecek semua barang belanjaannya.


"Ini untuk siapa bun, kenapa banyak sekali ?" Tanya Emir lagi.


"Lucu kan Emir. Bunda sudah tidak sabar ingin membuka semua ini. Apa Emira masih tidur ?" Entah karena tidak mendengar ucapan Emir atau memang sengaja, bukannya menjawab bunda justru memberikan pertanyaan balik.


"Ini semua untuk anakku bun ?"


"Kenapa masih bertanya, sudah pasti untuk anak mu, memang siapa lagi yang sedang hamil saat ini." Jawab bunda dengan ketus.


"Kenapa jadi bunda yang membelinya ?" Tanya Emir dengan nada sedikit sebal. Bunda sudah tidak mau menggubris ucapan anaknya itu.


"Duh.. Kenapa Emira belum bangun juga ya." Bunda melihat ke arah tangga berharap sang menantu sudah terbangun agar segera membuka semua paket yang sudah memenuhi ruang tamu ini. Bunda berjalan ke arah tangga baru saja menginjakkan kakinya di tangga pertama, langkahnya terhenti oleh suara Emir.


"Jangan coba - coba membangunkan istriku bun."


"ck." Bunda hanya berdecak dan kembali lagi ke ruang tamu, dia duduk di sebelah Emir, selain menunggu tidak ada lagi yang bisa dia lakukan saat ini.


Hingga waktu sudah menunjukan pukul 5 Sore barulah Emira keluar dari kamar, dengan wajah yang nampak lebih segar, sepertinya Emira baru saja selesai mandi.


"Bunda dimana bi ?" Tanya Emira saat melihat bibi hendak ke dapur.


"Bunda ada di taman belakang non, sedari tadi sudah menunggu non Emira disini."


"Boleh bantu panggilkan bi ?"


"Baik, sebentar ya non."


"Terimakasih bi."


Emira mendekat pada salah satu paket yang paling besar, terlihat seperti keranjang bayi jika di lihat dari ukurannya dan bentuknya, namun masih di bungkus oleh kardus packingan.

__ADS_1


"Sayang, kau sudah bangun."


"Apa ini bun ?"


"Sini." Bunda menarik tangan Emira untuk lebih dekat dengannya, tadi bunda sudah memanggil pak Dadang, satpam rumahnya untuk membantu membuka semua paket ini.


Setelah semua paket itu terbuka, Emira hanya bisa tercengang dengan mata berbinar, dia sangat terharu dengan semua perhatian bundanya, dia merasa sangat di perhatikan terutama untuk anak yang masih di dalam kandungannya.


"Sayang.." Emir menghampiri Emira dengan wajah khas bangun tidur, memeluk tubuh istrinya dari belakang dan menyandarkan kepalanya di bahu sang istri.


"Kenapa meninggalkan aku." tanya Emir dengan suara seraknya.


"Istrimu cuma di bawa, Manja sekali." Bukan Emira yang menjawab, tapi bunda Daniah yang mencibir anak sulungnya itu, semakin lama semakin terlihat manjanya, terkadang bundanya sampai malu sendiri dengan tingkah Emir yang tidak tahu tempat jika sedang bersama istrinya.


"Mas.. lihat, bunda membelikan ini semua untuk anak kita, bagus kan mas ?" Emira begitu semangat menunjukan keranjang tidur yang super mewah itu kepada suaminya.


"Tidak.. anak kita pasti akan lebih menyukai pemberian dari ayahnya." Emir melirik bundanya dengan wajah masam.


"Jangan pedulikan suamimu, kamu mesti banyak banyak istighfar  jika dekat dengan nya."


"Sayang ayo kita kembali ke kamar, biar kan saja bunda merapikan sendiri semua ini." Emir menarik tangan istrinya untuk kembali ke kamar.


"Tapi mas,, aku juga mau ikut bunda untuk dekor kamar baby."


"Tidak perlu.. salah siapa bunda belanja sendiri."


"Kamu saja yang pergi sendiri, jauh - jauh sana" Usir bunda mendorong bahu Emir dan menarik tangan Emira dan merangkul lengannya dengan erat.


Seperti itulah kelakuan bunda dan suaminya jika menyangkut anak yang ada di dalam kandungan Emira, mereka selalu berlomba - lomba untuk mencari perhatian bayi yang masih dalam perut itu. Selalu meributkan sesuatu yang tidak seharusnya di ributkan, tidak jarang Emira sampai pusing menghadapi bunda dan suaminya yang sama sama tidak mau mengalah.


Akhirnya Emir yang menurut kali ini. Tetapi dia juga tidak mau kalah, meski semua barang ini bundanya yang membelikan, tapi dia yang paling cerewet saat menghias kamar anaknya. Karena tidak sabar menunggu besok, alhasil mereka melakukannya malam itu juga, sudah beberapa kali Emir dan bunda Daniah beradu pendapat soal tata letak yang tidak sesuai keinginan mereka. Bahkan kini Emira menyesal kenapa dia harus mengatakan ingin ikut mendekor. Jika tau akan seperti ini, dia memilih untuk mengikuti perkataan suaminya sore tadi.

__ADS_1


Bahkan dia juga tidak di izinkan untuk ikut andil sama sekali, dengan alasan tidak boleh capek, dia hanya di perbolehkan untuk duduk masih dan memberikan pendapatnya, padahal pendapatnya pun tidak ada yang di dengarkan oleh bunda ataupun suaminya. Karena merasa sangat lelah dan mengantuk, Emira terlelap di sofa  meninggalkan bunda dan suaminya yang masih semangat menghias kamar dibarengi dengan perdebatan kecil itu.


**Bersambung**


__ADS_2