
__Selamat membaca__ 💖💖
Sebelum meninggalkan rumah sakit untuk menuju ke kantor polisi, Emir menyempatkan untuk datang ke ruangan Dokter Fera.
"Dokter Emir." Dokter Fera nampak sangat terkejut dengan kedatangan Emir yang tiba-tiba. Dirinya tengah menghubungi orang orang suruhannya, namun sejak tadi tidak bisa terhubung satupun. Sampai saat ini, Dokter fera masih belum mengetahui jika rencana jahatnya sudah di ketahui oleh Emir, bahkan anak buahnya sudah lebih dulu mendekap di penjara.
"Aku sudah memperingatkan mu untuk menjauh. Tapi kau justru berbuat lebih. Jangan salahkan siapapun jika kau kehilangan sesuatu yang sangat berharga dalam hidup mu nantinya." Setelah mengatakan kalimat panjang itu, Emir berlalu dari ruangan Dokter Fera. Ini adalah kali pertamanya Dokter Fera mendengar ucapan Emir lebih dari dua kata. Tapi dia sungguh tidak mengerti dengan apa yang di ucapkan oleh Emir.
Emir keluar dari rumah sakit di ikuti oleh Azam. Mereka menuju kantor polisi dengan menggunakan satu mobil yang di kemudikan oleh Azam. Dan David menyusul dibelakang nya.
"Jangan berbuat nekat yang nantinya akan menyulitkan penyelidikan." Azam memperingatkan sahabatnya agar tidak berbuat di luar kendali. Dia tau kemarahan Emir sudah tidak terbendung. Dia juga pasti akan merasakan hal yang sama jika ada di posisi Emir, bahkan mungkin bisa lebih, mengingat dirinya sangat tidak bisa mengontrol amarahnya.
Emir tidak menjawab ucapan Azam, dia tengah membaca pesan bundanya yang mengabarkan jika Emira sudah sadarkan diri. Dan dia juga mengabari bundanya, akan segera kembali ke rumah sakit jika urusannya sudah selesai.
Sesampainya di kantor polisi. Azam, Emir dan David di antar oleh petugas kepolisian yang berjaga, untuk menuju sel tahanan para suruhan Dokter Fera. David sengaja berpesan pada petugas kepolisian untuk memisahkan mereka dengan yang lainnya.
"Terimakasih pak" ucap Azam pada petugas polisi setelah mengantarkan dirinya dan Emir ke depan sel tahanan yang sudah di buka kuncinya. Kondisi ke 4 orang tersebut sama - sama mengenaskan.
Setelah pintu sel di buka oleh David, tanpa aba aba Emir mendaratkan satu bogem mentah di wajah orang tersebut yang sebelumnya sudah terlihat sangat ancur, Bogem Emir mendarat bergantian di wajah ke empatnya. Mereka sudah tidak mampu melawan, karena kondisi mereka juga sangat memprihatinkan.
Setelah merasa puas, Emir keluar dari sel tersebut sambil membersihkan tangannya menggunakan sapu tangan yang terdapat bercak darah dari ke empat orang yang di hajar oleh nya.
Mereka bertiga kembali ke rumah sakit, sebelumnya Emir memerintahkan ke petugas kepolisian untuk mengobati luka ke empat bajingan itu.
Sementara itu di tempat berbeda.
__ADS_1
"Sebenarnya apa yang terjadi dengan kalian Emira." Bunda Daniah terus mengintrogasi menantunya dan teman - teman Emira. Namun jawaban mereka tetap sama. Sama-sama tidak tau apa yang terjadi sebenarnya.
"Untung Emir sudah memerintahkan pengawal untuk menjaga mu." Bunda terus mengusap rambut menantunya, tidak bisa membayangkan jika terjadi sesuatu pada Emira. Pasti dirinya akan sangat menyesal, dan merasa bersalah pada almarhum kedua orang tua Emira.
"Bunda juga sangat berterimakasih pada kalian, Kiran dan Della, bahkan kalian tidak memperdulikan keselamatan kalian demi Emira."
"Emira sudah seperti saudara bagi kita bun, kita akan terus saling melindungi." Kiran mengusap lengan Bunda Daniah untuk menenangkan wanita paruh baya yang se-usia dengan bundanya itu.
"Terimakasih Kiran. Apa kau sudah menghubungi bunda mu?" Tanya bunda.
"Sudah bun, sebentar lagi pasti sampai" Jawab Kiran dengan tersenyum.
"Della, bagaimana keadaan mu sayang?" Diantara semuanya Della yang mengalami luka paling parah. Dirinya sempat terkena besetan senjata tajam dari salah satu penjahat itu, beruntung orang orang Emir datang dan melumpuhkan para penjahat tersebut.
"Tenang saja bun, disini Della yang paling kuat." Canda Della agar bunda tidak merasa bersalah.
Ruangan ini lebih terlihat seperti ruangan rawat anak anak saat ini.
ceklek.. pintu ruangan tersebut di buka.
Bunda Sela (bundanya Kiran), dan Tante Mala (Bundanya dokter Azam) datang bersama. Bunda Daisy (bundanya Della) tidak bisa datang karena sedang berada di luar kota bersama suaminya.
"Astaghfirullah.. sayang.. apa yang terjadi dengan kalian?" Tanya tante Mala pada Della.
"Kami baik baik saja tante, hanya insiden kecil di jalan, Kak Emir sudah mengurus semuanya." Della menjawab sekaligus menjelaskan jika masalah ini sudah di urus oleh suami sahabatnya ini.
__ADS_1
"Sela, Mala, maaf ya karena menjaga anak saya, Della dan Kiran jadi ikut terkena imbasnya." Bunda Daniah meminta maaf pada kedua temannya itu.
Mereka sudah saling mengenal dan beberapa kali juga berkumpul bersama di acara arisan para ibu ibu. Terlebih karena anak anak mereka saling bersahabat.
"Kamu tidak perlu minta maaf, Justru aku akan marah pada anak anak kalo mereka tidak saling menjaga." Jawab Bunda Sela.
Mereka saling mengobrol dengan hangat, sampai akhirnya tante Mala menceritakan tentang Della dan Azam yang beberapa minggu lalu terciduk tengah berada di kamar hotel yang sama. Padahal hal itu bukan karena tidak sengaja. Melainkan sudah di rencanakan oleh bunda Daisy dan Bunda Mala sebelumnya. Meskipun mereka tidak melakuka hal apapun, dan tidak terjadi apapun, tapi karena alasan itu, akhirnya mereka di jodohkan saat itu juga. Walaupun status mereka masih tunangan.
Tante Mala tertawa bahagia saat menceritakan anaknya dan anak dari sahabatnya itu. Sedangkan Della tengah menatap malu dan takut bersamaan, karena di tertawakan oleh para orang tua, dan mendapatkan tatapan tajam oleh ke dua sahabatnya secara bersamaan.
"mati gue" Batin Della.
Emira dan Kiran tidak mengetahui soal ini. karena Della tidak pernah bercerita sama sekali. Dia sangat pandai dalam menyembunyikan rahasia dari pada Kiran dan Emira.
"Jadi saat ini Della dan Kak Azam sudah di jodohkan ? kalian tega sekali." Kiran menangis sejadinya. Bukan karena merasa di bohongi, tapi karena dia merasa akan di tinggalkan. Kiran selalu bersikap acuh pada laki laki yang berusaha mendekati dirinya, karena dia tidak ingin meninggalkan Della, tapi justru sahabatnya itu sudah lebih dulu di jodohkan.
Dan ini salah satu alasan Della kenapa tidak ingin bercerita pada Emira dan Kiran soal keadaan dirinya beberapa minggu lalu saat tidak masuk sekolah, karena Kiran belum tentu akan menerima ini.
"Huaaaa...."Tangis Kiran bertambah kencang.
"Kiran... Kenapa ?" Tanya Arkana Panik. Dirinya baru saja masuk setelah pergi ke kantin rumah sakit untuk mengisi perutnya.
Arkana menepuk nepuk punggung Kiran, berusaha menenangkan nya. Dia bahkan tidak sadar jika di sana sudah ada bunda Sela dan tante Mala. Arkana terlalu fokus pada wanita yang selama ini sudah membuat harinya jadi sedikit berwarna.
"Duh... main puk puk aja." Goda Emira.
__ADS_1
**Bersambung**