Istri Kecil Dr. Emir

Istri Kecil Dr. Emir
Eps 20


__ADS_3

--Selamat membaca-- 💖💖


"Pokoknya kakak harus tanggung jawab, aku ngga mau tau."  Teriak gadis itu histeris.


Emir melotot pada Azam, dan Azam yang baru mengetahui jika Emir sudah berada di dekat nya bertambah pusing, pasti sahabat nya itu tengah berfikir yang tidak tidak. Azam meraup wajahnya frustasi.


Azam menggeleng, tidak membenarkan isi kepala Emir.


"Tanggung jawab apa ?" Tanya Emir tiba tiba.


"Kak Emir" Della terkejut karena suami dari sahabat ini tiba - tiba ada di sana.


"Della, apa yang terjadi ? apa yang di lakukan Azam padamu ?" tanya Emir lagi.


"Ngga ada bro, ngga ada apa apa." Jawab Azam cepat, dan buru - buru menarik tangan Della untuk meninggalkan Emir.


Della tidak terima Azam menarik dirinya paksa seperti ini.


"Kak Emir, Aku hamil anak kak Azam, Dia Emmppp......" teriakan Della terpotong karena tangan Azam sudah menyumpal mulut Della.


Haissshhh Azam berdecak. beberapa suster dan dokter yang tadi melewati lorong tersebut tentu saja mendengar ucapan Della, bahkan mereka sempat berhenti dan memandang Azam penuh tanda tanya.


"Tidak.. tidak... kalian pergilah, jangan dengarkan wanita gila ini." ucap Azam mengusir beberapa suster dan dokter yang tadi sempat berhenti, dengan masih membekap mulut Della, bahkan posisinya kini seperti memeluk gadis tersebut.


Emir menggeleng kepalanya, hanya ada dua kemungkinan, jika bukan karena sahabatnya yang play boy itu telah berbuat onar, atau justru tante Mala yang lagi-lagi berusaha menjodohkan Azam.


Emir berlalu menuju ruangannya. Meninggalkan pertengkaran yang entah kapan akan berakhir.


Baru saja Emir duduk di bangku kerjanya, pintu sudah dibuka dengan keras.


"Dokter Emir!! apa - apaan ini ?." Tanya Dokter Fera dengan membanting amplop berwarna coklat ke hadapan Emir.


Emir menghela nafasnya kasar. Dia membuka amplop coklat tersebut, dan menatap datar isi dalam amplop itu.


"Katakan kalo itu tidak benar Dokter Emir." Pertanyaan menuntut dari Dokter Fera.


"Bukankah Anda sudah mengetahui semuanya!?."


"Tidak!!, aku tidak akan percaya sampai kamu mengatakan sendiri."


"Apa lagi yang ingin anda ketahui ?." Emir menatap dingin dokter Fera.


"Kenapa? kenapa harus anak kecil yang kau jadikan istri, Emir?, Selama ini aku sudah bersabar menunggu mu, apa tidak cukup perhatian ku selama ini, hah?." Teriak Dokter Fera dengan air mata yang sudah mengalir deras.

__ADS_1


Emir muak sebenar nya, saat di SMA dulu dokter Fera tidaklah seperti ini, dia wanita yang anggung dan ramah, cukup banyak teman - temannya yang menyukai dokter Fera, namun dia lebih memilih dekat dengan Emir dengan berstatus sahabat.


Tapi saat sudah dewasa, dan lebih tepatnya saat Dokter Fera mulai memasuki rumah sakitnya, dia tidak lagi dapat melihat dokter Fera yang dulu, sekarang lebih ke wanita agresif dan penggoda.


"Cukup Fera.!! Aku yakin kamu sudah cukup tau banyak tentang kehidupan ku selama ini, karena kamu juga menempatkan orang untuk mengikutiku. Aku diam karena aku masih menganggapmu sahabat, Jangan hilang kendali sampai membuatku jijik pada akhirnya." Ucap Emir dengan nada dingin.


"Aku sangat mencintaimu Emir, apakah tidak ada kesempatan lagi untuk ku ?" Dokter Fera memohon dengan sesegukan.


"Tidak." Jawab Emir


"Emir..."


"Dokter Fera, anda masih muda dan sangat berbakat, jangan membuang keahlian anda untuk melakukan hal yang tidak penting." Emir memotong ucapan dokter Fera.


"Lupakan semuanya, dan mulailah menata hidup anda dengan baik kedepannya." sambung Emir,


Dokter Fera diam, dia masih tidak terima dengan kenyataan bahwa saat ini Emir telah menikah, sudah tidak ada harapan untuk dirinya, berbagai pertanyaan muncul, tentang siapa wanita itu, apa kelebihan wanita itu, dan dari keluarga mana wanita itu sampai bisa menjerat Emir yang selama ini sangat anti dengan perempuan.


"Jika tidak ada yang ingin anda katakan lagi, tolong keluar lah.!" Perkataan Emir membuyarkan lamunan Dokter Fera.


"Aku tidak akan menyerah begitu saja Dokter Emir." Ucap Dokter Fera sebelum berlalu, dan membanting pintu ruangan Emir dengan keras.


"Kau benar - benar berubah Fera."  Emir menatap nanar pintu yang tadi dibanting dengan keras oleh Dokter Fera. .


**


Kiran menggeleng, "Gue juga belum dapet kabar."


"Ke kantin yuk." Ajak Arkana pada Kiran, Arkana sudah berdiri di depan bangku Kiran, sedang kiran masih dalam keadaan duduk.


"Apaan sih, ke kantin aja sana bareng Andi." Jawab Kiran ketus.


"Aiisshh, Ayo ah, gue takut di godain adek kelas bar bar."


"Kepedean banget lo." Kiran mencibir pada Arkana.


"Ayo lah, emang lo mau ketampanan gue ini di nikmati adek kelas di luar sana ?"


"Masa bodo Arka, gue ngga peduli." Jawab Kiran ketus.


"Mir, tolongin dong ini sahabat lo susah banget di tangkap."  melas Arkana.


"Gitu aja ngga bisa." Bukannya menolong, Emira justru meledek Arkana, Emira berdiri dan mengajak Kiran ke kantin dengan alasan dirinya lapar, tapi memang lapar sih.

__ADS_1


"Ka pesenin bakso yang pedes ya, ngga mau pake mie, maunya pake bihun aja." Emira berkata pada adik ipar nya tersebut dengan senyum manisnya.


Jika orang lain yang melihat, itu lebih terlihat seperti sedang menggoda. mereka melirik tanpa berani berkomentar.


"Lo mau gue pesenin juga ?" Tanya Arkana pada Kiran.


"Gue bisa sendiri." Kiran berlalu untuk memesan makanan nya.


"Eh Mir, sendirian ?" tanya Anggasta yang langsung duduk di depan Emira.


"Engga kok, bareng anak - anak juga, tuh lagi pada pesen." jawab Emira.


"Ooohhh... em Mir nanti ada les ngga ?" tanya Anggasta lagi


"Hari ini sih ngga ada jadwal, kenapa ?."


"Ke Taman Kota yu, sekalian refreshing biar ngga penat sama persiapan Ujian." Ajak Anggasta.


"Duh, kayanya gue ngga bisa deh." Toal Emira dengan wajah memelas,


"Kenapa Mir? mau ada yang gue omongin sama Lo."


"Mau ngomong apa? ngga bisa di sini aja ?." Tanya Emira, Emira yang sampai saat ini tidak mengetahui perasaan Anggasta mengira obrolan kali ini hanya obrolan biasa.


"Gue ngga bisa ngomong disini."


"Kenapa ngga bisa ?." Tanya Arkana yang sudah duduk di sebelah Emira dengan membawa makanan pesanan Emira dan dirinya.


"Mau ngomong apa emang nya ?" tanya Arkana lagi.


"Emm bukan urusan sekolah, ini urusan pribadi." Jawab Anggasta.


"Kita udah janjian sama anak anak mau jenguk Della." Bohong Arkana menatap Anggasta, Dia masih belum bisa mengungkapkan yang sebenarnya pada yang lain, jika Emira sudah menikah, cukup dia dan kedua sahabat Emira yang mengetahui ini.


"Ehh.. Anggasta, ngga pesen makan lo ? tanya Kiran yang baru kembali setelah memesan makanan.


"Engga, Gue duluanya" Jawab Anggasta kemudian berlalu meninggalkan kantin.


Emira melirik makanan yang di bawa oleh Kiran dengan tatapan memuja, berulang kali menelan ludahnya.


"Mau lo ?" tanya Kiran yang menyadari sahabat nya terus menatap makanan nya, bahkan Emira belum menyentuh makanan yang ada di mejanya sama sekali.


Emira mengangguk antusias.

__ADS_1


**Bersambung**


__ADS_2