
**
Emir kembali mengikis jarak, tanpa meminta persetujuan, Emir kembali membenamkan ciuman pada sang istri.
Emira benar benar tidak bisa mengimbangi permainan ciuman suaminya, jantungnya sudah memompa lebih kencang, dan darahnya mengalir lebih cepat dari biasanya.
Tangan kiri Emir menekan dalam tengkuk istrinya, Emir seperti haus akan belaian, sedang tangan kanan nya sudah berada di balik baju punggung sang istri, menekan sang istri agar lebih dekat dengannya.
Lagi - Lagi Emira merasakan sesak karena kehabisan nafas, menyadari itu, Emir memberikan jeda untuk istrinya menghirup udara. Namun itu hanya sesaat, karena detik berikutnya Emir kembali menyambar bibir ranum sang istri.
Emir berdiri, membopong tubuh Emira menuju kasur tanpa melepas pagutannya. Emira mengeratkan pelukannya pada leher Emir. Membaringkan sang istri pelan, kini posisi Emir tepat berada di atas tubuh Emira, dengan bertumpuan pada kedua tangannya yang berada di samping tubuh sang istri.
Emir melepas ciumannya, mamandang wajah sang istri yang berada di bawahnya, Emir tersenyum samar, namun senyuman itu sudah membuat detak janjung Emira berdenyut kencang.
"Emira, kau hanya akan menjadi milik Emir seorang. Apakah kau sudah siap memberikannya untuk ku ?" Tanya Emir sambil mengusap lembut wajah Emira.
Lama tidak ada jawaban.
"Apakah tidak apa apa mas? bagaimana jika aku hamil saat masih sekolah nanti ?" tanya Emira lirih.
"Kau memiliki suami Emira, apa yang kau takut kan?" Balas Emir.
"Aku hanya takut jika nanti teman teman ku menggunjingku, dan memandangku wanita rendah. Aku bahkan sangat takut jika sampai di keluarkan dari sekolah karena hamil.
Aku masih ingin lulus dengan nilai terbaik mas." Jelas Emira dengan wajah sedikit takut, karena melihat perubahan pada raut wajah Emir.
"Apakah itu arti pernikahan bagimu Emira?" Tanya Emir dingin. Dia berdiri dan melangkah kan kakinya menuju jendela meninggalkan Emira.
Terlihat rahangnya mengeras, Emir menatap keluar jendela wajahnya kembali dingin, tiba tiba suasana dalam ruangan ini menjadi sangat menakutkan bagi Emira. Emira sadar tidak seharusnya dia menolak suaminya.
Emira mencoba meraih tangan suaminya saat dia sudah ada di dekatnya, mencium punggung tangannya dengan takzim.
"Maaf kan aku mas, aku mohon maafkan aku." Lirih Emira sambil menunduk. Dia sungguh takut akan murka Allah karena sudah berani menolak ajakan suaminya.
Emir masih tidak bergeming.
"Mas.. "Panggil Emira.
__ADS_1
"Aku siap.. Aku sudah siap memberikan hakmu saat ini, tolong jangan diamkan aku, aku takut Allah akan murka karena sudah membuat suamiku marah."
Emir memandang Emira yang ada didepannya, dia tau istrinya bergetar saat mengatakan itu, dia juga tau jika istri kecilnya pasti belum siap, seharusnya memang dia tidak memaksa. Emir sadar dirinya sudah egois karena nafsunya.
"Tidur lah." Perintah Emir masih dengan nada dinginnya.
Emira menggeleng, dia tidak berani menatap atau pun berpaling dari sana, dia terus menggenggam tangan sang suami.
"Tidak mas!, tolong... aku... aku mau melakukannya malam ini." Pinta Emira pada Emir setelah dirinya memberanikan diri untuk menatap mata suaminya.
Mendengar itu Emir kembali diselimuti kabut gairah, atmosfer di sekitarnya serasa berubah, perlahan tangannya menyentuh tengkuk leher Emira, mengusap kepala Emira, dan menarik tubuh Emira untuk mendekat.
Emira mendongak, sedang Emir menunduk menatap wajahnya, tanpa sengaja Emira menggigit bibir bawahnya, Melihat itu, membuat jakun Emir naik turun merasa haus ingin melahap bibir seksi istrinya,
Emir mendorong tubuh Emira perlahan ke atas kasur. Dikecupnya bibir bawah Emira dengan sentuhan lembut yang memabukan. Tangan nya meraih tangan Emira dan menguncinya di atas kepala sang istri.
******* Emira kembali lolos, membuat gairah Emir tak tertahankan. Dia melepas aktifitasnya, Memandangi tubuh setengah polos istrinya, pasalnya kancing piyama Emira sudah lolos entah sejak kapan.
Dada Emir naik turun, disuguhkan pemandangan yang luar biasa, dia buru buru menanggalkan pakaiannya tanpa sehelai benang pun.
Melihat Emir yang sudah tidak memakai pakaian sama sekali membuat wajah Emira memerah panas, dia memalingkan wajahnya kesamping karena malu dan gugup. Deru nafas Emira memburu, membuat pergerakan dadanya naik turun, dan lagi lagi Emira menggigit bibir bawahnya.
"Mas.. aku takut." Emira memegang lengan tangan Emir erat.
"Mas akan melakukannya dengan pelan sayang, kamu bertahan ya." sudah tidak ada nada dingin yang terdengar, yang ada suara lembut menenangkan.
Perlahan Emir melakukan penyatuannya. dikarenakan ini adalah pengalaman pertama untuk keduanya membuat Emir harus berusaha lebih ekstra.
"Masss..." Jerit Emira saat suaminya sudah berhasil menerobos selaput dindingnya. Emira mencakar punggung polos suaminya untuk menyalurkan rasa sakit yang dia rasakan. Emir memainkannya dengan pelan dan lembut.
Akhir nya malam itu menjadi saksi penyatuan Emir dan Emira, bahkan Emir melakukannya beberapa kali sampai Emira benar benar sudah tidak berdaya.
Tepat pukul 01.15 dini hari Emir menyudahi permainan nya. Dikecupnya kening sang istri yang sudah terkulai lemas dan langsung tertidur di sampingnya.
Emir membenarkan selimut untuk menutupi tubuh polos mereka, memeluk tubuh istri kecilnya dan dia pun ikut tertidur setelah pergulatan panjang malam itu.
Perkataan sang ayah yang menyuruhnya untuk tidak membuat Emira begadang hanya dianggap angin berlalu, nyatanya dia tidak hanya mengajak Emira begadang, tapi Emir juga mengajak Emira mengarungi lembah kenikmatan.
__ADS_1
Biarlah, soal ayahnya, dia akan memikirkan nya besok.
"Terimakasih istri kecilku." Ungkapan selamat tidur dari Emir untuk Emira.
**
Tepat pukul 04.35 Mata Emir mengerjap, sayup sayup dia mendengar panggilan Azan yang ternyata hampir iqoma, Emir tak bergeming, menatap tubuh istrinya yang berapa di pelukannya.
Diusapnya wajah Emira dan tangannya menyingkapkan rambut yang menghalangi wajah ayu istrinya, Emir membenamkan ciuman dalam pada kening sang istri, dia tidak menyangka bahwa saat ini Emira sudah benar benar menjadi miliknya.
Emir beranjak pelan dari tempat tidurnya, lalu menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, setelah membersihkan diri, dia juga menyiapkan air hangat untuk sang istri mandi.
Emira perlahan membangunkan sang istri yang sepertinya masih nyaman dalam mimpinya, dikecupnya bibir ranum sang istri berulang kali.
"Sayang... bangun lah." Emir masih mencoba untuk membangunkan Emira.
Karena Emir terus mengecup bibir Emira, membuat Emira perlahan terusik, Emira menggeliat, matanya mengerjap akan cahaya remang remang yang mulai menusuk penglihatannya.
"Mas sudah bangun ?" Tanya Emira setengah sadar.
"Hemm,,, bangun dan cepatlan mandi, mas mau sholat subuh dulu." perintah Emir, kemudian dia menunaikan sholat dua rakaat terlebih dahulu.
Sampai Emir selesai sholat dan berdoa, masih belum ada pergerakan sama sekali dari tempat tidur, membuat Emir langsung mengalihkan pandangannya pada target yang dituju,
Benar saja, sang istri bukannya bangun untuk beranjak ke kamar mandi, justru malah kembali memejamkan matanya.
"Kenapa tidur lagi? ini sudah mau fajar, cepat beranjak sebelum Allah murka." mendengar itu Emira langsung membuka matanya, dan bergegas bangkit dari tempat tidurnya dengan melilitkan selimut untuk menutupi tubuh polosnya.
Baru satu langkah Emira bergerak tiba tiba merasakan nyeri yang amat menyiksa di bawah sana, Emira berhenti, memejamkan matanya dan menggenggam erat selimutnya.
"Kenapa? apakah sangat sakit ?" tanya Emir saat sudah di depan tubuh sang istri.
"Tidak mas, aku baik baik saja." Emira tidak ingin membuat suaminya khawatir, dan terlebih lagi dia sangat malu sebenarnya.
Emira memaksakan dirinya untuk terus melangkah ke kamar mandi untuk membersikhan diri, setelahnya, menunaikan sholat subuh yang sudah hampir terlambat.
Emir tengah membereskan sajadahnya, kemudian mengganti baju kokonya dengan baju santai, karena hari ini adalah hari minggu dan tidak ada jadwal di rumah sakit. Dia juga sudah membereskan ranjang dan mengganti seprei, Membawa seprei yang kotor ke tempat penyimpanan baju kotor di balik pintu yang menuju kamar mandi hotel.
__ADS_1
**bersambung**