
-- Selamat membaca -- đź’–đź’–
Keesokan harinya
Pagi ini Emira tidak lagi merasakan mual dan muntah sama sekali, justru Emir lah yang mengalami morning sickness. Emira sampai merasa tidak tega pada suaminya, karena melihat Emir yang sudah tidak berdaya pagi ini.
Wajah dingin dari suaminya itu hilang entah kemana, digantikan dengan wajahnya yang lesu dan sendu, namun tidak mengurangi kadar ke tampan-an seorang Emir Farabi Ghazi.
"Mas.. masih mual ya?" Tanya Emira membelai rambut suaminya yang tengah berbaring dengan berbantalan pahanya.
Emir hanya menganggukan kepalanya, sambil memejamkan mata, sejak subuh tadi sampai saat ini jam 05.20 menit, entah sudah berapa kali suaminya bolak balik ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya.
"Kenapa jadi Mas Emir yang merasakan morning sickness, aku jadi tidak tega." Emira berucap sambil menahan tangis, karena melihat tubuh suaminya yang sudah tidak berdaya.
"Jangan menangis, aku seperti ini karena aku dan bayi kita sangat menyayangi mu, bayi kita tidak ingin bundanya sakit. Dan terlebih lagi, aku juga tidak bisa melihatmu merasakan sakit setiap hari. Jadi biarkan aku yang menderita. Kamu cukup menjaga dirimu dan buah hati kita dengan baik." Ujar Emir dengan masih di posisi yang sama.
Emir buru-buru berdiri dan berlari ke kamar mandi untuk memuntahkan kembali isi perutnya, namun keluar hanyalah cairan kuning pekat, dengan telaten Emira memijat tengkung suaminya.
"Kita ke rumah sakit saja ya mas." Ajak Emira karena sudah tidak tega melihat Emir yang lagi-lagi harus mual muntah. Emira menuntun suaminya untuk kembali berbaring di kasur.
tok..tok..tok
"Sebentar mas, sepertinya itu bibi yang membawakan sarapan." Setelah membatu suaminya untuk berbaring di tempat tidur, Emira berlalu membuka pintu, dan benar saja, bibi membawakan nampan berisikan nasi, sup dan lemon tea hangat yang tadi di minta oleh Emira.
"Ini non." bibi menyerahkan nampan tersebut pada Emira.
"Makasih ya bi." Emira meraihnya dengan tersenyum ramah.
"Sama - sama non." Jawab bibi, kemudian berlalu.
"Mas sarapan dulu ya, biar Emira bantu." Emira menaruh nampan tersebut di atas nakas, dan mangambil lemon tea hangat untuk meredakan mual.
"Minum ini dulu mas, kata bunda lemon bisa mengurangi rasa mual." Tadi Emira sempat ke bawah untuk memberitahu kondisi suaminya pada bunda Daniah.
__ADS_1
"Bagaimana enak kan ?" Tanya Emira saat Emir sudah meminun beberapa teguk lemon tea hangat itu. Emir mengangguk.
"Sekarang makan ya, biar aku suapin."
"Aku tidak suka bau nya." Emir menjauhkan mangkuk sup tersebut dari jangkauan nya.
"Tapi harus makan sedikit mas." pinta Emira memohon.
"Aku ingin dkamu sayang." Ucap Emir sambil merebut mangkuk yang ada di tangan Emira dan meletakkan nya di atas nakas.
Dengan cepat Emir menyambar bibir istrinya, me*lu*mat bibir bawah Emira yang sudah membuatnya candu. perlahan gerakan Emir semakin cepat dan menuntut. Emir sangat menikmati setiap inci bibir istrinya yang terasa sangat manis. Dia menggigit bibir bawah sang istri untuk membuatnya terbuka, dan saat melihat bibir itu terbuka, Emir tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, dengan cepat Emir memasukan lidahnya, menjelajahi rongga mulut istrinya sambil menyesap dalam seluruh isi di dalamnya.
Emir terus menyesap dan me*lu*mat bibir mungil istrinya dengan semakin brutal. tangannya bahkan sudah berkeliaran kemana mana. Tangan kiri nya mer*mas dada Emira sedangkan tangan kanan nya menjalar ke bagian inti istrinya.
Emir seperti seseorang yang baru mendapatkan makanan segar dan tidak ingin melewatkan nya. Emira merasakan tubuhnya melayang, lenguhan dari mulut Emira yang tertahan oleh ciuman membuat Emir semakin menggila.
Emir sudah melepas semua pakaian yang menutupi tubuh sang istri, mengulangi ciuman panas yang menuntut balasan.
Emira yang sudah terbawa akan permainan sang suami, membalas ciuman Emir tidak kalah rakus. Menekan tengkuk sang suami agar lebih dalam mengeksplor pagutan mereka untuk berbagi saliva. Tanpa di minta, tangan Emira dengan cepat membuka kancing piyama Emir, menyingkap dan membuangnya ke sembarang arah, kini mereka sama sama polos, tanpa menggunakan sehelai benang pun.
Lidah Emir terus mengeksplor rongga mulut Emira, bibir manis sang istri sungguh membuatnya tak mampu melepaskan ciuman panas itu. Emira mendorong pelan tubuh Emir karena sudah kehabisan pasokan oksigen, Emira terengah-engah membuat dadanya naik turun, dan itu berhasil membangkitkan gairah Emir, dan ingin segera menuntaskan hasratnya karena sesuatu di bawah sana sudah berdiri tegak sejak tadi.
"Ciuman Emir turun ke bagian leher sang istri, meninggalkan banyak jejak disana, setelah puas perlahan emir menuntun lidahnya untuk mengeksplor dada Emira, bermain dengan rakus di kedua milik sang istri.
"Masss..." desah Emira.
Udara pagi ini terasa begitu panas di kamar sepasang suami istri yang sedang berbagi kenikmatan, diiringi dengan erangan dan de*sahan yang membuat gairah keduanya memuncak, eluhan panjang keduanya mengakhiri pergulatan pagi ini yang sangat singkat menurut Emir. Hampir satu jam mereka melakukan aktivitas panas di pagi ini.
Saat ini sudah pukul 06.40 menit, mereka sudah siap dengan seragam nya masing-masing. Emir yang mengenakan kemeja berwarna navi dengan lengan baju yang di lipat sampai siku, di padukan dengan celana bahan berwana hitam membuat penampilannya sangat segar di berwibawa. Sedangkan Emira yang mengenakan segaram putih abu abu tentunya, serta jilbab yang melekat di kepalanya. Tubuh mungil nya terlihat sangat sexy bagi Emir.
Jika tidak mengingat ada jadwal operasi pagi ini. Sepertinya dia ingin mengulangi lagi olah raga penambah imunitas tubuhnya. Tapi sayangnya hal itu tidak akan terjadi. Karena Emira juga akan ke sekolah hari ini.
Mereka berjalan beriringan, menuruni anak tangga.
__ADS_1
"Emir, Emira, kalian sudah mau berangkat ?" tanya bunda yang baru keluar dari ruang makan.
"Kamu yakin mau sekolah hari ini ?" Bunda mengusap jilbab menantunya.
"Iya dong bun, Emira sudah tidak mual sama sekali, dan badan Emira juga sudah sehat." Sahut Emira dengan tersenyum.
"Baik lah, tapi harus janji tidak boleh kecapean, dan kamu harus bisa menjaga diri dengan baik. Mengerti?"
"Siap bunda." Jawab Emira dengan semangat.
"Ya sudah kalian hati-hati."
"Iya bunda, bunda tidak perlu khawatir. Kami berangkat dulu bun ." Kini Emir yang menjawab dengan semangat.
Bunda menyerngitkan dahinya menatap putranya dengan heran.
"Tidak biasanya dia seramah itu, apalagi sampai tersenyum seperti tadi, bukankah tadi Emira mengatakan jika Emir mengalami morning sickness." Batin bunda Baniah curiga.
Tapi yang di lihat sekarang, justru wajah putranya yang tidak berhenti tersenyum membuat Emir terlihat sangat tampan mempesona.
"Bun.." Emira sampai menyentuh tangan bundanya yang melamun tiba-tiba.
"Eh.. astaghfirullah. Kenapa jadi melamun ya." Bunda Daniah sampai bingun sendiri.
"Iya sudah kita berangkat ya bun." Ucap Emira kemudian menyalami tangan bundanya.
"Bun, ayah juga mau berangkat." Pamit ayah Barra pada bunda dan putra serta menantunya.
"Ayo sayang." Ajak Emir melihat jam tangannya yang sudah menunjukan pukul 7 kurang 10 menit.
"Emir dan Emira berangkat bersama, di sepanjang perjalanan, Emir tidak melepas genggaman tangan Emira sama sekali.
"Sekarang aku sudah tau obat yang paling ampuh untuk mual muntah ku." Emir tersenyum penuh kemenangan, sedangkan Emira hanya berani melirik suaminya dengan badan merinding.
__ADS_1
**Bersambung**