
-- Selamat membaca--
Karena Emira terus saja memberontak, salah satu lelaki yang memiliki postur tubuh paling besar membekap mulut Emira dengan sapu tangan yang sudah di campur dengan bius, perlahan tubuh Emira tak sadarkan diri, dan dengan cepat, lelaki tersebut membopong tubuh Emira ke dalam mobil.
Sedangkan temannya yang lain mendorong tubuh Kiran dan Della yang terus menghalangi mereka, dengan sangat kuat hingga keduanya terjatuh ke tanah.
Kiran melihat ada batu sebesar kepalan tangannya tepat berada di sebelah dirinya, dia mengambil batu tersebut, dengan cepat berdiri dan menghampiri lelaki yang akan memasuki mobilnya.
"Rasakan ini."
Bugg...
Batu tersebut mendarat sempurna di kepala bagian belakang lelaki itu. Darah segar terlihat mengalir dari sela penutup kepalanya.
"SIALAN...!!!” Geram lelaki tersebut menahan pening yang ada di kepalanya. Belum puas Kiran juga menendang bagian bawah lelaki tersebut dengan kuat, hingga mengaduh kesakitan dengan menjatuhkan kedua lututnya ke tanah, Della yang melihat nya sudah tidak berdaya, melepas ke dua sepatu nya dan memukul kan secara bersamaan di kedua sisi telinga lelaki itu dengan sekuat tenaganya, hingga akhirnya lelaki tersebut terjatuh dan tak sadarkan diri.
**
Suster Desi mengangkat dering telpon di ruang operasi yang sedang berlangsung.
"Baik, tunggu sebentar dok.."
"Maaf Dokter Azam, ada telpon." Ucap suster Desi Lirih pada Dokter Azam.
"Siapa sus ?" Tanya Dokter Azam yang tengah fokus membantu Emir dalam operasinya.
"Dokter Barra, dok."
Dokter Azam memandang Emir, setelah mendapatkan anggukan dari Emir, dan dengan di bantu oleh suster Desi, Azam mengangkat sambungan telepon tersebut.
"Benar dok..." Jawab Azam
"Sekitar 30 menit lagi baru akan selesai." Azam memprediksikan waktu selesai operasi yang sudah berlangsung selama kurang lebih 2 jam.
__ADS_1
"Baik dok." Sambungan telepon itu terputus. Azam kembali ke tempatnya, di hadapan Emir yang tengah menjalankan operasi di sana.
Azam terlihat gugup, namun sebisa mungkin tetap tenang, dia memandang Emir yang terlihat sangat fokus pada pasien nya.
"Apapun yang anda dengar di telepon sana, biarkan itu menjadi urusan setelah operasi ini selesai." Ucap Dokter Emir tanpa mengalihkan pandangannya dari tubuh sang pasien.
Azam tidak menjawab, karena dia tau betul bagaimana Emir, apapun yang terjadi di luar sana, tidak akan mempengaruhi seorang Emir jika sudah berada di ruang operasi.
Azam menghela nafas, dan berusaha untuk fokus kembali pada operasi yang sebentar lagi akan selesai.
"Sisanya saya serahkan pada kalian." Ucap Dokter Emir saat sudah selesai melakukan operasi pada pasien nya. Operasi tersebut sukses dan berjalan dengan lancar.
"Baik dokter Emir, dan selamat atas keberhasilan operasi ini dokter, anda sudah bekerja keras." Ucap salah satu dokter asisten disana.
Emir hanya mengangguk, kemudian berlalu keluar untuk membersihkan diri, di ikuti oleh Azam.
"Kita ke lantai delapan." Ucap Azam sambil menepuk bahu Emir yang baru saja keluar dari ruang ganti setelah mengganti pakaian operasi dengan seragam tugasnya.
Deg
Saat sudah di lantai delapan, Emir masuk ke salah satu ruang rawat vvip yang di tunjuk oleh Azam.
"Emir..." Sapa bunda Daniah melihat putra pertamanya masuk ke dalam.
Kening Emir berkerut, melihat ada 4 ranjang yang di isi oleh ke 4 remaja yang masih mengenakan pakaian SMA, tengah terkapar disana, dan salah satu diantaranya ada Emira di sana.
Emir langsung menghampiri ranjang Emira, melihat istrinya tidak sadarkan diri namun tanpa perban dan selang infus di tangannya.
Di samping Kiri ranjang Emira ada ranjang rawat Della, dengan tangan yang di perban dan jarum infus yang menancap di punggung tangan gadis itu.
Dan di sebelah kanan ranjang Emira terdapat ranjang rawat Kiran yang juga bernasib sama dengan Della namun kaki gadis itu juga nampak di perban.
Sedang kan di sebelah ranjang Kiran ada satu ranjang lagi yang berisi seorang remaja SMA yang di yakini itu adalah Arkana, tubuhnya sedang meringkuk membelakangi Emir dengan selimut yang menutupi tubuhnya sampai batas leher.
__ADS_1
"Ada apa ini bun ?" Emir bertanya pada satu-satunya orang yang tidak ikut berbaring di sana selain dirinya dan Azam yang masih berdiri di antara ranjang-ranjang rawat anak SMA itu.
"Bunda juga tidak tau Emir. Tadi David menghubungi ayah mu, mengabarkan jika dia sedang membawa Emira dan teman - temannya kerumah sakit." Terang bunda, karena memang hanya itu yang bunda tau dari suaminya, dan David juga tidak menjelaskan lebih rinci pada Ayah Barra.
Emir mengepalkan tangannya. "Dimana Joni bun ?" tanya Emir karena tidak melihar sopir sekaligus pengawal yang di perintahkan untuk menjaga istrinya.
"Dokter Emir." Belum sempat bunda menjawab, David masuk setelah mengetuk pintu. Memandang Emir penuh isyarat, Emir yang mengerti akan tatapan asisten nya menyuruh David untuk keluar terlebih dulu.
"Tolong jaga mereka sebentar bun." Emir berjalan keluar sambil melirik Azam, dan Azam pun ikut pamit keluar pada bunda Daniah.
Di sudut ruangan masih di lantai yang sama.
Setelah mendapatkan penjelasan dari Joni dan anak buahnya yang lain, Emir menghela nafas nya dengan kasar. Ingin rasanya Emir menghajar anak buahnya yang tidak becus menjaga istrinya, apalagi saat ini istrinya tengah mengandung. Jika telat sedikit saja mereka tidak bisa menolong Emira, entah apa yang akan terjadi pada istri kecilnya itu.
"Apa kau sudah menemukan dalangnya ?" Emir menatap David sang asisten, berharap dia tidak akan kecewa pada jawaban yang akan di berikan oleh David.
"Dokter Fera." Dua kata yang keluar dari mulut David mampu membuat Emir tersenyum miring.
"Sudah ku duga." Azam yang sebelumnya berfikir bahwa ini semua adalah ulah Fera, hanya mampu memendam nya dalam hati, karena belum ada bukti yang dia miliki.
David menyerahkan amplop berisikan bukti transaksi, dan jejak digital komunikasi via chat, serta rekaman sambungan telepon, antara dokter Fera dengan para suruhan dokter Fera. Dengan bukti tersebut, sudah di pastikan dokter Fera bisa dengan mudah di seret ke kantor polisi.
"Rupanya dia benar-benar ingin bermain denganku." Geram Emir setelah melihat bukti tersebut.
Bahkan dokter Fera tidak hanya memerintahkan orang-orang tersebut untuk menculik istrinya, tapi dia juga memerintahkan untuk membuat istrinya di lecehkan dan di permalukan setelahnya.
"Saya sudah membuat laporan untuk kasus ini dok, setelah nona Emira dan rekan-rekan nya pulang, polisi akan datang untuk meminta keterangan lebih lanjut."
Emir mengangguk. " Dimana para bajingan itu ?"
"Semuanya sudah di tahan sementara di kantor polisi dok." Terang David.
"Azam, ikut aku." Emir berlalu dengan sorot mata membunuh. Entah apa yang akan di lakukan di kantor polisi, yang pasti, satu hal yang ingin dia lakukan adalah menghajar para pria kurang ajar itu yang sudah berani menyentuh istrinya.
__ADS_1
**Bersambung**