Istri Kecil Dr. Emir

Istri Kecil Dr. Emir
Eps 24


__ADS_3

--Selamat membaca-- 💖💖


Hoek...hoek...hoek


Sejak jam 4 subuh tadi Emira sudah terbangun, Ini untuk yang ke tiga kalinya Emira bolak balik ke kamar mandi, rasanya begitu mual dan pusing.


"Kamu kenapa ?" Emir terbangun saat mendengar suara Emira yang tengah muntah di kamar mandi.


"Jangan kesini mas, ini sangat menjijikan." Emira mencegah suaminya yang terus mendekat ke arahnya. Dengan masih mengenakan celana boxer nya dan bertelanjang dada, Emir berjongkok di belakang sang istri, membantu untuk memijat tengkuk Emira. Tidak ada rasa jijik sama sekali, justru Emir merasa kasihan, karena melihat Emira terkulai lemas di depan toilet.


"Makannya, sudah mas katakan jangan makan malam terlalu banyak, jadinya perut mu yang sakit kan." Emir terus mengusap punggung Emira, karena melihat istrinya hendak memuntahkan kembali makanan yang ada di perutnya. Namun tidak ada makanan yang keluar, melainkan hanya cairan berwarna kuning.


Emira mencoba berdiri, untuk membasuh mukanya, dengan di bantu oleh Emir.


"Tidak perlu berangkat sekolah hari ini. Arkana yang akan meminta izin pada guru." Emira hanya mengangguk, karena begitu lemas dan pusing.


"Ayo kita sholat subuh dulu, nanti mas periksa, habis itu baru istirahat." Emir mengambil air wudhu, di ikuti Emira.


Mereka menunaikan dua rakaat dengan khusuk. Saat Emir sedang memanjatkan doa nya, Emira justru tengah memikirkan hal lain.


Dia teringat dengan siklus bulanan nya, dan dia ingat betul, bulan ini belum mendapatkan haid, seharusnya datang di awal minggu ke dua, namun ini sudah akhir bulan belum juga mendapatkan haid nya.


Emira ragu untuk memberitahu suaminya, dia ingin memastikan terlebih dahulu. Setelah sholat subuh usai, Emir menuntun Emira menuju ke kasur. Dia memeriksa tubuh Emira, tidak ada demam, namun dia merasakan nadi sang istri sedikit berbeda.


Emir memandang tubuh sang istri secara intens, dan Emira juga sama, memandang sang suami dengan banyak pertanyaan di pikirannya.


Emir bukan lah dokter kandungan, dia hanya mampu merasakan nadi yang berbeda, untuk lebih jelasnya, Emir sudah memanggil Dokter Ririn. Dokter Sp. OG di rumah sakit Al Ghazi.


Jam 06.00 pagi Dokter Ririn sudah sampai di kediaman mewah dokter Emir. Ini adalah pertama kalinya Dokter Ririn menginjakan kaki nya di rumah Dokter Emir.


Dokter Ririn awalnya merasa bingung, kenapa dia dipanggil kesini, apakah ada yang sakit, atau dia membuat kesalahan sehingga membuat dirinya di panggil langsung ke kediaman dokter Emir. Yang pasti, dia akan mendapatkan jawabannya segera.


"Selamat pagi Dokter" Sapa Dokter Ririn pada Dokter Barra, dirinya di persilahkan masuk di antara oleh penjaga gerbang.

__ADS_1


"Pagi. Loh... dokter Ririn disini ?" Tanya dokter Barra yang belum mengetahui keadaan sang menantu.


"Siapa yah?" Tanya bunda Daniah dari dapur.


"Ini bun, ada dokter Ririn, Bunda memanggil dokter ?" Bunda Daniah menghampiri sang suami, dan menggelengkan kepalanya saat sudah ada di depan suaminya.


"Begini Dok, tadi saya di hubungi oleh dokter Emir untuk kesini, saya juga kurang tau siapa yang sakit." Jawab Dokter Ririn sedikit ragu.


"Emir... Siapa yang sakit yah ?" Bunda Daniah langsung naik ke lantai dua menuju kamar anaknya, karena khawatir kenapa tidak ada yang memberitahu dirinya jika ada yang sakit.


"Ayo kita naik dok." Ajak Ayah Barra.


tok..tok..tok..


Pintu di buka oleh Emir.


"Siapa yang sakit Emir.. apa Emira sakit ?" Tanya bunda Daniah langsung.


"Ada Dokter Ririn di bawah." sambung bunda karena Emir masih diam saja.


"Masuk Dok, bunda dan ayah juga." Emir sudah rapi memakai kaos hitam pendek yang membentuk lekuk tubuh kekarnya, dan celana chino selutut. Dokter Ririn sampai pangling tadi, karena baru pertama ini melihat Dokter Emir berpakaian santai.


"Sebenarnya siapa yang sakit Emir ?" Bunda Daniah masih penasaran.


"Dokter Ririn mengerutkan dahinya, melihat ada gadis muda yang tidur di ranjang kamar Emir.


"Sayang.. bangun sebentar ya, sudah ada dokter yang akan memeriksa." Emir membangunkan Emira dengan lembut, mengusap puncak kepala sang istri.


"Euuhh.." Emira menggeliat, rasanya baru tidur beberapa menit yang lalu. Perlahan dia membuka matanya, dan melihat ada banyak orang di depannya.


"Dia istriku Dok, tolong periksa dia." Emira masih berada di posisi yang sama, karena sudah dari pagi dirinya sangat pusing dan lemas.


"Eh... iya dok." Dokter Ririn mendekat ke istri kecil Dokter Radit. Dalam benaknya dia bertanya - tanya, kapan dokter Emir menikah, dan beruntung sekali gadis kecil ini.

__ADS_1


"Permisi nona, saya periksa ya." Emira mengangguk, tersenyum pada Dokter Ririn yang juga tersenyum padanya.


Setelah di periksa, Dokter Ririn menanyakan beberapa pertanyaan pada Emira.


"Apakah anda sudah mendapatkan tamu bulanan di bulan ini nona ?"


"Belum dok." lirih Emira.


Dokter Ririn tersenyum. "Ini hanya dugaan saya, sepertinya Nona sedang hamil Dok." Dokter Ririn mengatakan kabar gembira ini pada Dokter Emir serta orang tua Dokter Emir yang ada di sana.


"Benarkan Dokter?" Bunda sangat antusias mendengar kabar gembira ini, Bunda langsung memeluk tubuh Emira dengan erat, menciumi pundak kepala Emira beberapa kali.


"Sayang kamu hamil nak.. makasih Emira.. bunda akan menjadi Oma." Bunda Daniah terus menciumi wajah Emira.


Sedang kan yang lainnya masih seperti terhipnotis akan pernyataan tersebut, terlebih Emira, dia gamang, rasanya seperti tidak percaya, apakah benar di dalam perutnya saat ini sudah ada janin dari benih suaminya.


Bagaimana dengan sekolahnya, bagaimana dengan guru, dan teman-teman nya, apakah mereka akan memperlakukan Emira berbeda dengan yang lain, Namun di sisi lain dia juga sangat bahagia akan berita ini.


Tanpa sadar, air mata Emira mengalir kepipinya. Emir juga seperti tidak percaya, bahwa dirinya sebentar lagi akan menjadi seorang ayah. Dia amat sangat bahagia, sampai tidak bisa berkata apapun.


Emir mendekati sang istri, duduk menggantikan bunda yang tadi juga duduk di sebelah ranjang Emira, tersenyum pada istri kecilnya, membelai pipi sang istri dan mendaratkan ciuman dalam pada kening Emira.


"Terimakasih." hanya kata itu yang keluar dari mulut Emir. Emir seperti lupa jika di ruangan tersebut masih banyak orang. Bahkan dia sempat-sempatnya melumaat bibir sang istri.


Bunda Daniah menabok lengan suaminya, untuk mengingatkan Emir, jika di sana masih ada mereka.


"Ekhem..." Ayah Barra berdehem. Emir melepas ciuman pada sang istri, dan seperti tidak merasa bersalah dia hanya memandang wajah istrinya yang sudah merah padam karena malu itu dengan tersenyum.


"Emm.. untuk meyakinkan diagnosa saya, mohon untuk nona periksa dengan test pack ini." Dokter Ririn menyodorkan alat test pack itu pada Emira, dengan di bantu oleh Emir, mereka berlalu ke kamar mandi.


Sudah hampir 10 menit mereka ada di kamar mandi, namun belum juga keluar.


"Kenapa lama sekali ya yah." Bunda Daniah sudah mondar mandir di depan pintu kamar mandi yang tidak kunjung di buka.

__ADS_1


**Bersambung**


__ADS_2