
__ Selamat mambaca__ 💖💖
Mohon bantu like dan komen nya ya kakak, biar aku makin semangat up nya 🥰
--**--
"Bagaimana dok ?" Tanya Dokter Emir pada Dokter Ririn setelah memeriksa istrinya.
"Alhamdulillah, semua sudah baik - baik saja dokter, nona Emira malam ini juga sudah bisa pulang. Tapi tetap harus menjaga diri agar tidak terlalu capek dan jangan terlalu banyak pikiran yang nantinya akan membuat stres." Terang dokter Ririn.
"Terimakasih dokter Ririn." Emira terlihat begitu semangat. Senyum di wajahnya mengembang begitu sempurna, Dia langsung menghubungi Kiran dan Della, mengabarkan jika dirinya sudah bisa pulang.
"Sama - sama, kalo begitu saya permisi." Dokter Ririn berpamitan pada Emira dan Dokter Emir, dirinya keluar setelah mendapatkan anggukan dari Emir.
"Mas kita langsung pulang kan?"
"Mas ada jadwal kunjungan sebentar lagi. Setelah itu kita pulang."
"Baiklah, kalo begitu apa aku sudah boleh memegang ponsel ku ?" Emira menengadahkan tangannya, meminta ponselnya yang sudah 3 hari ini di sita oleh Emir.
"Nanti di rumah baru mas berikan. Kamu tunggu lah di sini sebentar, mas akan segera kembali."
Emira tampak mengerucutkan bibirnya, saat ini hanya dirinya dan sang suami yang ada di ruangan tersebut, karena bunda terpaksa harus kembali untuk menemani Ayah ke Semarang.
"Tapi aku bosan mas, apa aku boleh jalan - jalan di taman ?"
"Tidak, ini sudah malam." Emir tampak berfikir, melihat Emira yang tampak bosan.
"Bersiaplah, ikut dengan ku mengunjungi beberapa pasien."
"Benarkan ?" Seketika senyum mengembang tersemat di wajah ayu Emira.
"Emm.." Emir membantu istrinya untuk mengganti pakaian dan saat di rasa semua sudah rapih, dia menuntun istrinya untuk duduk di kursi roda.
**
__ADS_1
"Harus banget ya mas pake ini ?" sudah ke sekian kalinya Emira protes karena dirinya di berlakukan seperti orang sakit saja.
"Diamlah Emira." Dan untuk kesekian kalinya juga suaminya itu tidak ingin di bantah, ini sudah pasien ke tiga sekaligus pasien terakhir yang harus suaminya periksa malam ini.
"Selamat malam dokter Emir." Sapa pasien perempuan yang masih terlihat muda itu dengan begitu semangat, wanita itu terlihat sangat cantik dan manis dengan lesung pipi yang tersemat saat gadis itu tersenyum meskipun wajahnya terlihat pucat. Jika di prediksi mungkin umurnya baru 20 tahun.
Gadis itu masih terlihat menyunggingkan senyum termanisnya pada dokter Emir. Namun perhatiannya teralihkan pada seseorang yang masuk bersama dengan dokter Emir. Senyum yang tadi merekah begitu sempurna seketika sirnah, di gantikan dengan tatapan penuh tanda tanya. Emira juga merasakan perubahan itu, namun dia tetap memilih diam dan tersenyum padanya.
"Dokter siapa dia ?"
"Dia.."
"Sayang kamu sudah bangun ?" Seorang wanita paruh baya tiba - tiba masuk ke ruangan vip yang cukup luas ini.
"Apa Clarisa membuat dokter susah lagi hari ini ?" Tanya Mommy nya Clarisa harap - harap cemas. Pasalnya anaknya itu sering kali membuat dirinya menghela nafas dengan permintaan konyol nya.
Emir menggeleng dan tersenyum tipis pada wanita paruh baya itu.
"Tidak bu, sama sekali tidak." Terdengar suara dokter Emir lembut dengan raut wajah yang kembali datar.
Emira mencoba untuk biasa saja, dia tetap tersenyum meskipun tidak mendapatkan balasan. Hal itu dia lakukan karena tidak ingin membuat suaminya khawatir, dan terlebih ini adalah rumah sakit suaminya, Citra suaminya harus tetap dia jaga.
"Aahh.. syukurlah kalo begitu, anak ini susah sekali di atur, saya selalu kerepotan dengan kemauannya." Emir tidak menjawab ucapan mommy nya Clarisa, karena saat ini Emir tengah memeriksa gadis itu.
"Jangan dengarkan mommy dok, mommy memang selalu berlebihan." Clarisa tampak mengerucutkan bibirnya berwajah sebal pada sang mommy.
"Berlebihan apanya sih. Kamu tidak sadar saja, jika ulah mu itu juga sering merepotkan Dokter Emir. Dokter Emir bukan dokter pribadimu, yang harus selalu menuruti kemauan gila mu itu."
Tentu saja percakapan anak dan ibu itu di dengar jelas oleh Emira, dia merasa tidak nyaman, karena dirinya seperti tidak di anggap di sana, senyum yang tadi masih tersemat di wajahnya perlahan memudar. Emira tampak menundukkan kepalanya merasa tidak nyaman.
"Tiga hari lagi Clarisa sudah bisa pulang, karena lukanya juga sudah cukup kering." Ucap Azam membenahi stetoskop yang tadi digunakan untuk memerika Clarisa ke lehernya. Emir melirik sang istri yang tampak diam menunduk.
"Benarkah dokter ?, jika aku sudah sembuh apakah aku boleh mengunjungi kediaman dokter ?" Tanya Gadis itu.
"Clarisa." ucap wanita baruh baya itu.
__ADS_1
"Maaf kan anak saya ya Dokter." Emir hanya mengangguk, beruntung nya Emir tidak menanggapi pertanyaan Clarisa.
"Kalo begitu saya permisi, karena harus mengantarkan istri saya pulang." Gadis yang bernama Clarisa itu tampak terkejut mendengar penuturan Emir. Emir berjalan menghampiri Emira, mengusap bahu istrinya dan membenamkan ciuman di kening sang istri. Dirinya mendorong kursi roda sang istri dan berlalu keluar.
Saat Emir dan Emira sudah berada di luar ruangan itu. Barulah Clarisa menangis histeris.
"Huaa... mommy.. pasti aku salah dengar kan ?"
"kenapa memangnya ?" tanya mommy yang sebenarnya juga terkejut jika wanita yang sedari tadi bersamanya ternyata adalah istri dokter Emir. Beruntung kali ini anaknya tidak mengatakan hal yang tidak - tidak.
"Mommy jangan pura - pura tidak dengar." Gadis itu kembali menangis histeris.
--**--
Emira terus memperhatikan suaminya yang baru saja keluar dari kamar mandi, terlihat rambutnya yang masih terlihat basah, bahkan beberapa masih menetes ke bahu suaminya yang belum mengenakan baju, Emir pergi ke ruang ganti hanya dengan mengenakan handuk yang melilit di pinggang nya.
Lelaki itu keluar dari dalam wardrobe dan mengambil ponselnya yang berada di atas nakas, mengecas ponsel tersebut yang ternyata sudah habis baterai dan kemudian beranjak ke tempat tidur. Semua itu tidak lepas dari tatapan istrinya.
"Kenapa.. hem ?" Tanya Emir sudah berada di hadapan Emira.
"Cantik ya mas ?" bukannya menjawab, Emira justru memberi pertanyaan ambigu pada suaminya. Emir mengerutkan keningnya karena tidak paham akan pertanyaan istrinya.
"Seneng banget ya tiap hari bisa liat yang bening - bening." Emira kembali berucap dengan nada sindiran.
Sepertinya Emir sudah mulai paham akan arah pembicaraan istrinya, jadi dari tadi istrinya itu memperhatikan dirinya karena ini.
Emir tersenyum tipis, bahkan mungkin Emira saja tidak menyadari hal itu. Emira yang melihat suaminya tampak biasa saja dan tidak merespon ucapannya semakin membuat hatinya bergemuruh. Sudah sedari di tadi dia menahan kekesalan di dalam hatinya.
"Minggir mas, aku mau tidur." Emira membaringkan tubuhnya membelakangi Emir, dia juga menarik selimut sampai batas lehernya. Hatinya sedang panas, Tapi suaminya sungguh tidak peka.
"Kamu ini kenapa sih bun ?"
"Eh.. kenapa tiba - tiba merubah nama panggilan begitu ?" Batin Emira.
**Bersambung**
__ADS_1