
__Selamat membaca__ 💖💖
Pagi harinya, mereka semua sudah berkumpul di tempat makan, terkecuali ayah Barra, karena saat ini ayah Barra sedang melakukan kunjungan rutin di rumah sakit cabang Bali.
Emira terus menatap lekat Arkana yang duduk tepat di hadapannya, dengan tangan yang sibuk mengoleskan selai coklat di lembar roti yang ke 5 dan kemudian meletakkan di piring. Dia terus melakukan itu sampai roti yang ada di bungkus itu kandas tak tersisa, totalnya mungkin 12 lembar roti.
"Yakin kamu mau memakan semua ini." Emira menoleh saat mendengar suaminya berbicara, dia mengerutkan dahinya tidak mengerti akan ucapan sang suami, lalu Emira mengikuti arah pandang suaminya.
"Ini?" Tunjuk Emira pada tumpukan roti tawar yang sudah di olesi selai coklat. Percakapan mereka tidak luput dari perhatian Bunda Daniah dan Arkana, tapi keduanya memilih diam dan tidak ingin ikut campur, meski sedari tadi bunda Daniah juga memperhatikan menantu kesayangannya itu.
"Iya!, mas yakin kamu tidak akan kuat menghabiskan semuanya." Emir hendak mengambil beberapa lembar roti yang ada di piring Emira, namun dengan cepat Emira mengangkat piring tersebut ke samping.
"No! mas.!!" Cegah Emira cepat disertai gelengan kepalanya.
"Tapi itu terlalu banyak sayang." ucap Emir lagi.
"Ini bukan untuk ku." Ujar Emira, kemudian dia menatap ke depan, pada bunda dan Arkana bergantian, dengan bibir yang sudah mengembang membuat matanya ikut menyipit. Arkana dan bunda Daniah yang sedari tadi hanya diam sudah mulai was was.
"Aduh.. Bunda lupa, biasanya kalo pagi-pagi seperti ini, ayah kamu pasti mencari bunda, bunda permisi dulu mau telpon ayah ya sayang." Ujar bunda sambil meletakkan garpu dan sendok pada piring yang terlihat masih ada sedikit sisa makanan.
"Iya bunda." Jawab Emira tanpa merubah raut wajahnya. Kini tatapan Emira terfokuskan pada Arkana.
"Alhamdulillah." ucap bunda dalam hati saat sudah beranjak dari ruang makan. Bunda sudah bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya.
Arkana tampak diam menundukkan kepalanya pura-pura tidak tahu sambil meneruskan sarapannya, dia benar-benar tidak berani memandang Emira. Meskipun begitu, tapi dia masih bisa melihat jika Emira tengah menatapnya dengan senyum yang tidak kunjung memudar.
"Mau apa lagi ini anak." Batin Arkana, dia begitu sulit menelan makannya saat ini.
Emira menyodorkan piring yang berisikan tumpukan roti selai coklat itu ke hadapan Arkana, bahkan sampai menggeser piring milik Arkana.
Glek..
__ADS_1
Arkana memberanikan diri untuk menatap kakak ipar sekaligus teman sekelasnya itu.
"Kenapa mba? mau di bungkusin ? " Tanya Arkana, namun dengan cepat Emira menggelengkan kepalanya. Jika di rumah, apalagi jika ada kakaknya, Arkana memang di haruskan memanggil Emira dengan sebutan mba, tentu saja itu atas perintah dari Emir.
"Terus ?" lanjut Arkana.
"Aku sudah kenyang, tapi ini sayang sekali jika tidak di habiskan." Ucap Emira tanpa dosa dengan raut wajah memelas.
"Minta saja mas Emir menghabiskan." Jawab Arka menggeser piring tersebut ke hadapan kakak nya. Namun piring berisi roti itu kembali di dorong ke hadapan Arkana oleh tangan Emira. Bahkan dia sampai berdiri untuk menggapai itu.
"Kasiah sekali nasib piring itu." Batin Emir, melirik piring yang sudah mondar mandir di meja makan itu.
"Mas...!!!" Arkana mencoba meminta bantuan pada Kakak nya.
Emir menggeleng, mengisyaratkan untuk mengikuti kemauan sang istri. Dia sebenarnya kasihan pada adiknya yang selalu menjadi sasaran empuk atas kemauan aneh Emira. Tapi mau bagaimana lagi, dulu dia juga sering meminta pada Emira, agar dirinya saja yang melakukan apa yang tengah di inginkan sang istri, tapi Emira malah merajuk, dan mau tidak mau Arkana yang harus memenuhi nyidam nya Emira.
"Mba.. ini sudah siang loh." Emira menggeleng atas protesnya Arkana.
"Dua saja ya." Arkana masih berusaha bernegosiasi.
"Sudah mba bagi 2, yang ini kamu makan sekarang, yang di kotak tolong berikan pada Kiran." ucap Emira saat duduk kembali.
"Tapi mba."
"Cepat Arkana, keburu siang." potong Emira.
"Oke oke aku makan." Kini bukan hanya memanggilnya dengan sebutan mba, tapi Arkana juga sudah tidak menggunakan kata lo gue seperti sebelumnya.
"Tapi yang ini aku ngga mau." Dia menggeser kotak makan siang yang tadi Emira sebut untuk Kiran.
'Kenapa harus gadis itu.' Batin Arkana.
__ADS_1
"Tapi aku maunya kamu yang kasih ke Kiran. Nanti kalo tidak diturutin.."
"Iya sudah" Arkana memotong cepat ucapan Emira sambil menarik kembali kotak makan siang itu, karena dia sudah tahu kelanjutannya.
Setelah Arkana benar - benar menghabiskan 6 lembar roti buatan Emira dengan terpaksa, kini ruang makan itu sudah tampak kosong karena mereka semua sudah berangkat ketujuan masing - masing, dan Emir seperti biasa selalu mengantarkan istri nya terlebih dahulu.
Bunda Daniah menuruni tangga dan melongok ruang makan yang ternyata sudah kosong, hanya ada bibi yang sedang membereskan tempat makan yang tadi digunakan oleh anak - anaknya.
"Bi.. anak-anak sudah berangkat?" Tanya bunda Daniah sambil membuka kulkas, dan mengambil buah apel.
"Baru saja berangkat bu, biar bibi kupasin bu." pinta bibi pada bunda Daniah, saat melihat bunda ingin mengupas kulit buah apel tersebut.
"Tidak perlu, bibi lanjutkan saja." Bunda Daniah duduk di sisi tempat makan yang sudah terlihat bersih. Dia mengamati bibi yang masih sibuk membersihkan sisa makanan.
"Bi ada roti selai yang masih tersisa tidak?" Tanya bunda Daniah tiba-tiba.
"Maksudnya bu? Ibu Mau di buatin roti selai ?" Pikir bibi bunda Daniah masih lapar.
"Bukan, Tadi di piring apa masih ada sisa roti yang tidak habis ?" Jelas bunda.
"Tidak bu, semua makanannya bersih bu, hanya sisa ini saja sedikit." Bibi menunjukan piring yang masih menampakkan sisa makanan bekas dirinya tadi.
"Baik lah bi, lanjutkan bi." Ujar bunda memerintahkan bibi untuk melanjutkan tugasnya,
"Kasihan sekali anak bontotku itu, tapi biarkan saja lah, justru aku berterimakasih pada Emira, selama ini anak itu susah sekali di atur, biar tahu rasa dia." gerutu bunda lirih dengan senyum yang mengembang, tangannya masih sibuk mengupas apel yang sepertinya hampir terkelupas semua kulitnya.
Sesampainya di sekolah, Emira tampak sudah turun dari mobil sang suami, tentu saja setelah melakukan pamitan panjang ala Emir. Lelaki itu tidak membiarkan Emira menyelonong keluar begitu saja.
Ternyata di dalam kelas belum napkan sosok Arkana disana, Emira duduk dengan kedua sahabatnya yang sudah lebih dulu sampai.
Hingga tiba-tiba..
__ADS_1
Tuk.. suara kotak makan mendarat sempurna di hadapan Kiran. Namun pemilik itu langsung berlalu tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
**Bersambung**