Istri Kecil Dr. Emir

Istri Kecil Dr. Emir
Eps 13


__ADS_3

**Selamat membaca**


Hari ke dua camping, agenda hari ini adalah game, mencari kelengkapan atribut yang sudah di sebar oleh panitia di dalam hutan. Siapa yang bisa mengumpulkan semua atribut tersebut dan mencapai garis finish lebih awal maka dia adalah pemenang nya.


Regu Sisil mendapatkan juara pertama, hari ini dia terlihat tidak banyak ulah, membuat jalannya acara menjadi mudah bagi Emira dan teman teman panitia lainnya.


Malamnya, tepat pukul 20.00 wib, acara di lanjutkan dengan pensi dan api unggun untuk penutup acara. Sebagai panitia, Emira terlihat sangat sibuk, bahkan hanya sekedar mengecek hp saja tidak sempat.


Acara berlangsung meriah dan lancar, malam ini mereka merasakan kebersamaan dan keakraban tanpa ada pertikaian.


Anggasta dan Arkana berkolaborasi, saling memetik gitar nya dengan lihai, semua siswi ikut terbawa suasana, bersama saling bersautan menyanyikan lagu Sebuah Kisah Klasik dari Sheila On 7.


[Pre-Chorus]


Bersenang-senanglah


Karena hari ini yang kan kita rindukan


Di hari nanti


Sebuah kisah klasik untuk masa depan


Bersenang-senanglah


Karena waktu ini yang kan kita banggakan


Di hari tua


[Chorus]


Sampai jumpa kawanku


Semoga kita selalu


Menjadi sebuah kisah klasik


Untuk masa depan


Sampai jumpa kawanku


Semoga kita selalu


Menjadi sebuah kisah klasik


Untuk masa depan


Suara serta petikan gitar Anggasta dan Arkana mampu menghipnotis semua yang ada di acara tersebut, termasuk para guru dan panitia. Sungguh, kebersamaan ini tidak ingin cepat berlalu.

__ADS_1


Emira ikut menikmati acara ini, dia akui suara Anggasta maupun Arkana sama sama enak, bahkan sangat enak untuk di nikmati.


Emira menatap ke dua laki - laki yang bisa dibilang dekat dengan nya, tentu saja, karena saat ini Arkana adalah adik iparnya.


Bahkan Arkana selalu menempel pada Emira dengan radius jarak 10 Meter, seperti penguntit yang memantau dirinya.


Emira tersenyum saat Anggasta dan Arkana sama sama memandang ke arahnya, senyum Emira sangat manis.


Anggasta yang melihat Emira tersenyum seperti itu semakin melebarkan senyumnya, Anggasta bernyanyi sambil memandang ke arah Emira, pandangan memuja yang jelas bisa di rasakan oleh siapa saja yang melihatnya.


Termasuk Sisil, dia mengepalkan tangannya kuat, memandang dengan tatapan permusuhan.


**


21.30 WITA (DI BALI)


Sedangkan di belahan bumi lain nya, Emir baru saja sampai hotel, hari ini dia begitu sibuk di rumah sakit, nyatanya bukan hanya Dokter Riko yang melakukan penggelapan dana, tetapi wakil Direktur bagian keuangan juga menjadi target Emir.


Kedatangan Emir yang mendadak, membuat mereka kelabakan, pasalnya Dokter Barra tidak pernah memerintahkan Dokter Emir untuk terjun langsung meninjau rumah sakit yang ada di Bali ini. Jika ada masalah, pasti Dokter Barra sendiri yang akan menyelesaikan nya.


Mereka tau bagaimana kepemimpinan Emir, jauh lebih tegas dari pada rumah sakit yang di pantau langsung oleh Dokter Barra. Namun bukan berarti Dokter Barra lalai dalam menjalankan tugasnya, karena permainan apik yang di gunakan oleh Dokter Riko, sehingga hal tidak terpuji tersebut tidak tercium dengan cepat.


Sedangkan Emir tidak pernah memandang apakah orang itu tua atau muda, Entah itu Dokter senior maupun Dokter Residen, jika di mata Emir dan di mata Hukum salah, maka dia tidak akan pernah menerima ampun sedikitpun.


Baru dua hari Emir menginjakan kakinya di rumah sakit ini, tapi dia sudah bisa melihat begitu banyak topeng di sana, sekali dayung satu dua pulau terlampaui. Sekali bergerak 4-5 tikus akan Emir tendang dari jajaran kepengurusan rumah sakit.


Dia mengambil hp yang ada di atas nakas, dan kembali menuju sofa, di buka room chat dan sudah ada 5 pesan masuk dari sang istri.


Istri kecilku : "Assalamualaikum mas"


Istri kecilku : "Maaf, aku baru sempat buka hp"


Istri kecilku : "Mas Emir bagaimana keadaannya ?"


Istri kecilku : "Aku baru saja akan istirahat mas, baru selesai acara pensi dan api unggun, besok tinggal baksos, baru lepas itu pulang."


Istri kecilku : "Aku baik baik saja mas, Arkana selalu menempel kemana pun aku pergi."


Pesan beruntun dari 'Istri Kecilku'. Emir tersenyum membacanya, senyum pertama setelah 2 hari ini dia melewatinya dengan penuh Emosi.


Nyatanya dia juga merindukan istri kecilnya itu. Sama sama sibuk sehingga lupa untuk saling bertukar kabar.


Emir : "Aku baik, istirahatlah." Ternyata hati dan jarinya sangat tidak sinkron. Memang dasar manusia ini tidak bisa basa basi sama sekali.


Istri kecilku : "Iya mas, sebentar lagi."


Istri kecilku : "Oya, kapan mas Emir pulang ?"

__ADS_1


Emir : "Belum tau."


Istri kecilku : "Baik lah, aku akan istirahat dulu ya mas"


Istri kecilku : "Mas Emir juga istirahatlah. Assalamualaikum mas"


"iya. Waalaikumsalam." Setelah membalas pesan yang sangat singkat itu, Emir bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Menunaikan sholat isa dan istirahat setelahnya.


Rasa lelahnya sedikit terobati setelah bertukar pesan singkat dengan sang istri, Emir cukup lega karena di sana ada Adiknya yang bisa menjaga Emira, setidaknya ada yang bisa dia percaya untuk berada di sebelah istrinya.


**


"Kakek sudah membantu mu agar bisa bersama Emir ke bali, manfaat kan itu dengan baik." Ucap kakek Agung di seberang telpon sana


"Tapi Emir sibuk sekali kek, bahkan dia tidak membiarkan aku mendekatinya, memang sebesar apa masalah yang ada di sini ? tanya Dokter Fera,


"Kamu tidak perlu tau, cukup bantu Emir disana dan dekati terus Emir. Jika tidak ada perubahan pada hubungan mu dan Emir. Kakek akan sangat kecewa padamu."


Setelah berucap seperti itu, kakek Agung langsung menutup sambungan telepon nya. Dokter Fera mengepalkan tangannya, dia merasa sangat frustasi, sudah dua hari ini dia ada di hotel dan rumah sakit yang sama, namun hanya bertemu dengan Emir sebentar saja tidak bisa.


Tidak jarang dia memarahi David, karena tidak mengijinkan dia bertemu dengan Emir, namun untuk melawan pun dia tidak bisa.


"Jangan salahkan aku, jika aku berbuat lebih Emir. Kamu sendiri yang tidak mengizinkan aku masuk ke hatimu dengan baik baik" Gumam Dokter Fera.


**


Cahaya matahari menerobos celah dedauan rimbun di bumi perkemahan ini, perlahan mengusir embun yang menyelimuti dataran.


Sesuai agenda, pagi ini akan di lakukan bakti sosial di kelurahan dekat dengan di selenggarakan nya tempat camping,


Panitia di bagi menjadi 2, sebagian mengikut bakti sosial dan sebagian lagi mengatur penutupan acara camping.


Della, Emira dan 10 panitia lainnya mengatur acara penutupan, sementara Anggasta, Kiran dan 5 panitia lainnya bertugas pada acara bakti sosial.


Jika sesuai rencana, maka acara akan selesai pukul 10 pagi, dan kembali ke kota sekitar pukul 11.00 wib.


"Emira, Tolong." seorang siswi terengah - engah mendatangi tenda panitia yang kebetulan di dalamnya ada Emira dan Ningsih yang juga merupakan panitia.


"Kenapa ?" tanya Emira juga jadi ikut panik.


"Ningrum belum kembali dari sungai sedari subuh tadi, mereka pamit pada anggota regu kami ingin mengambil air, tapi sudah hampir 3 jam dia belum kembali, Siwi sudah menysul untuk mencari disungai." Jelas siswi tersebut.


"Apa kamu sudah melaporkan ini pada guru ?" Tanya Emira.


"Belum." Jawab siswi tersebut.


"Ningsih, tolong laporkan kejadian ini ke guru untuk menghubungi tim sar, dan kamu, ayo kita segera menyusul ke sungai." Ajak Emira

__ADS_1


**bersambung**


__ADS_2