
__ Selamat Membaca__ šš
Tuk.. suara kotak makan mendarat sempurna di hadapan Kiran. Namun pemilik itu langsung berlalu tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Kiran terpaku dan mengernyitkan keningnya. Memandang kontak makan yang sudah teronggok di hadapannya, kemudian memandang punggung seseorang yang sudah berlalu dari meja nya.
"Arkana." batin Kiran
Dirinya memang tidak melihat saat Arkana memasuki kelas dan bahkan berjalan ke arah nya, karena dia sedang sibuk mengerjakan tugas yang belum sempat dia kerjakan dirumah. Tapi Kiran yakin, pemilik punggung itu adalah Arkana.
"Maksudnya apaan sih.?" Tanya Kiran bingung. Bagaimana tidak bingung, jika sudah berminggu - minggu dirinya dan Arkana tidak bertegur sapa, tapi tiba - tiba lelaki itu memberikan kotak makan.
"Eh apa itu? Della yang tadi sempat melihat Arkana menaruh kotak tersebut di hadapan Kiran jadi ikut penasaran sendiri.
"Buka Ran cepet." Perintah Della.
"Ngga mau.. buat siapa itu."
"Masih ditanya... ya buat kamu lah!." Kini mereka sudah sepakat untuk merubah nama panggilan dari yang biasanya lo gue menjadi aku kamu, Della yang mengusulkan itu. Katanya, agar anak yang ada didalam kandungan Emira menjadi anak yang lemah lembut tidak seperti mereka. Itulah yang ada dipikiran Della. Sok tau memang, padahal jelas tidak ada sangkut pautnya, tapi Emira dan Kiran tetap mengikuti kemauan Della. Emira bahkan sampai terharu karena sahabatnya begitu memperdulikan dirinya dan anak yang masih berada di dalam kandungannya itu.
"Buka aja sendiri." Kiran mengangkat kotak makan itu dan memindahkannya ke meja Della dan Emira.
"Waahhh... ini beneran Arkana buatin roti selai buat kamu ?" Tanya Della dengan suara yang cukup keras setelah membuka kotak makan pemberian Arkana.
"Della.!!!" Kiran melotot karena ulah Della, hampir semua siswa dan siswi yang sudah berada di kelas menoleh padanya.
"Itu benaran tadi dari Arkana ?"
"Aku juga mau lah di buatin."
"Meleleh banget sumpah. Dingin tapi masih perhatian."
"ArkanaĀ so sweet banget sih."Ā terdengar bisik-bisik dari para siswi.
"Kirain udah ngga peduli." celetuk Della mengembalikan kotak makan itu ke hadapan Kiran.
"Apa sih ngga jelas"Ā Kiran melirik ke bangku Arkana, laki-laki itu sudah mengenakanĀ earphoneĀ seperti tidak perduli dengan kehebohan yang tengah terjadi akibat ulahnya.
Huuhhh.. Kiran menghela nafasnya dalam, memandangi kotak makan yang ada di hadannya, dia jadi bingung sendiri harus di apakah kotak makan yang berisikan roti selai coklat itu.
"Kenapa ngga di makan Ran ?" tanya Emira pura - pura tidak tahu.
Kiran menoleh ke Emira, menatap gadis itu dengan intens sampai menyipitkan matanya.
__ADS_1
"Kenapa?" Tanya Emira lagi.
"Bisa jelaskan ?" Kiran menunjuk roti pemberian Arkana dengan matanya, dia yakin sahabatnya itu mengetahui sesuatu, tidak mungkin kan dia tidak mengetahui apapun soal ini.
Emira mengedikan bahunya.
"Emira...." Kiran menekankan penggilannya.
"Hehehe.. sebenarnya tadi aku ingin sekali makan roti selai coklat, tapi entah kenapa, aku lebih menginginkan melihat kamu dan Arkana memakan roti buatan aku ini. " Emira berucap dengan raut wajah memelas memandang roti buatannya sendiri, bahkan dirinya sudah menelan ludahnya karena keinginan itu benar adanya, bukan hanya sebatas ingin mengerjai Arkana ataupun Kiran.
Lagi - lagi Kiran menghela nafasnya dalam, dia mengambil 1 roti lalu memakannya dengan cepat.
"Sudah kan ?, ini kamu habiskan saja." Kali ini kotak makan itu berpindah tempat ke meja Emira yang ada di sampingnya.
(Author : ya allah kasihan sekali ya nasib roti itu, sudah di oper kemana-manaą¼¼ 㤠ā_ā ą¼½ć¤ )
Nyatanya Emira tetap menerima kotak makan berisi roti selai coklat dan memakannya kembali dengan semangat dan senyum yang mengembang. Dia juga membagikannya pada Della.
Jam pulang sekolah sudah berbunyi, kini Emira tengah menunggu jemputan dari sopir pribadinya yang belum sampai, tumben sekali, biasanya pak Joni sudah standby di depan gerbang sekolah. Siang ini Emira berencana akan ke rumah sakit sekalian cek kandungan untuk memeriksa jenis kelamin anaknya, karena pada USG sebelumnya, si anak masih tidak mau menampakkan jenis kelamin nya di monitor.
"Emira." Panggil Della dari dalam mobil yang sudah di buka kacanya.
Emira menghampiri mobil Della.
"Pak Joni belum sampai ?"
"Aku mau ke rumah sakit, mau ikut ?"
"Serius ? kebetulan sekali aku juga mau ke rumah sakit."
"Ya sudah ayo." Della sudah membukakan pintu mobil dari dalam.
"Bentar ngabarin mas Emir dulu." Emira membuka tasnya dan mencari ponsel yang tadi dia letakan di dalamnya.
"Harus ya ?" Della bertanya, namun sepertinya tidak di dengar oleh Emira kerena anak itu sudah keburu menelpon suaminya.
Della menggeser tubuhnya ke bangku sebelah agar Emira bisa segera masuk, saat melihat sahabatnya itu sudah memutuskan panggilannya.
"Mau ngapain kerumah sakit ?" Tanya Emira saat sudah menutup pintu mobil, karena tidak biasanya Della kerumah sakit.
"Disuruh bunda anter ini." Della mengambil paper bag yang ada di bawah kakinya, dan memperlihatkan pada Emira.
"Buat siapa?" Tanya Emira.
__ADS_1
"Manusia aneh."
"Hah?? maksudnya Kak Azam ?"
"Siapa lagi." jawab Della dengan malas.
"Cie mau ketemu calon suami." Goda Emira.
"Apaan sih.. ngga lucu ya." Della sudah menekuk wajahnya, dia tidak bisa bayangkan akan hidup dengan manusia aneh itu. Setiap kali bertemu saja sudah seperti anjing dan kucing yang tidak pernah akur.
"Sekarang bisa bilang seperti itu, nanti juga kalo sudah menikah bilangnya nyesel. Nyesel kenapa ngga dari dulu." Ucap Emira dengan tertawa.
Della melirik sahabatnya sambil geleng-geleng kepala, tidak pernah terbesit dalam pikirannya bagaimana dia akan menjalankan kehidupannya dengan Azam nanti.
Saat sudah sampai pelataran rumah sakit, mereka turun dan berjalan ber-iringan. Seluruh suster dan dokter, serta para pekerja disana sudah mengetahui jika yang datang mengenakan seragam SMK itu salah satunya adalah istri Dokter Emir, meskipun belum ada pengumuman dari pihak keluarga dokter Emir, tapi seperti biasa gosip selalu hadir sepreti hembusan angin yang menerpa bumi. Entah dari siapa awalanya, tapi mereka yakin karena terlihat bunda dari Dokter Emir kerap menemani gadis kecil itu berkunjung ke ruangan dokter Emir.
Della yang tidak mengetahui keberadaan ruangan Kak Azam hanya mengikuti langkah Emira untuk menuju ruang kerja suaminya, biar nanti David yang akan mengantarkan nya ke ruangan kak Azam.
"Yakin ngga mau masuk dulu ?" Emira menawarkan Della untuk singgah sebentar ke ruangan suaminya.
"Tidak perlu... takut mengganggu, lagian aku mau cepat pulang."
"Ya sudah, makasih ya tumpangannya."
"Sama sama nyonya Ghazi." Ledek Della, kemudian berlalu karena David sudah sampai di hadapannya.
Mereka berjalan beriringan melewati lorong. Ini memang bukan kali pertamanya Della bertemu dengan David, asisten dari suaminya Emira, tapi ini kali pertamanya Della berjarak cukup dengan dengan David.
"Ternyata dia sangat tampan jika di lihat dari dekat." Batin Della sambil melirik David.
"Apa anda membutuhkan sesuatu nona ?" Tanya David karena merasa sejak tadi dirinya di perhatikan oleh gadis yang katanya calon suami dari Dokter Azam itu.
"Tidak. Emmm..." Jawab Della ragu dan bingung ingin memanggilnya seperti apa.
"Panggil saja saya David." Lagi-lagi David seperti tau kebingungan Della.
"Tapi itu tidak sopan, Aku panggil Kak saja ya."
"Terserah anda saja nona."
"Jangan memanggilku nona, aku bukan majikanmu."
"Maaf, untuk yang itu saya tidak bisa."
__ADS_1
"Ih... kaku sekali sih." Gerutu Della, dan ternyata mereka sudah sampai di depan ruangan yang tertuliskan nama Dokter Azam beserta gelarnya di papan yang tergantung di pintu itu.
**Bersambung**