
-- selamat membaca --
Sudah 3 minggu berlalu semenjak kejadian yang menimpa Emira di area camping, dan sudah satu minggu semester baru di mulai.
Kini Emira sudah memasuki kelas 12, tentu saja, saat kenaikan kelas kemarin, Emira masih menduduki peringkat pertama umum. Sedang Arkana hanya masuk 3 besar di kelasnya. Kelas merka tidak berubah, tetap sama seperti kelas 11 lalu, hanya wali kelasnya saja yang berganti.
Hari ini adalah hari minggu, dan sore hari adalah waktu yang pas untuk berkumpul di ruang keluarga, ada Ayah Barra, Arkana, Emira dan Bunda Daniah.
Sedangkan nenek tengah istirahat di kamarnya, Nenek sudah tinggal bersama Emira semenjak kejadian itu, hanya sesekali dia berkunjung ke toko kueh miliknya untuk sekedar memantau.
Kasus yang menimpa Emira juga sudah selesai di selidiki, terbukti Sari sengaja menjebak Emira, lantaran dia memiliki dendam pada Emira karena selalu menjadi juara umum, sedangkan dirinya hanya berada di tingkat ke 2 atau ke 3 bergantian dengan Anggasta.
Sari di keluarkan dari Sekolah setelah dirinya di izinkan untuk mengambil raport nya. Untung nya Ayah Barra tidak melanjutkan ke jalur hukum, karena permintaan sang menantu.
Emira tidak ingin masa depan Sari hancur hanya karena kesalahan pertamanya. Emira merasa Sari berhak untuk mendapatkan kesempatan ke dua, namun terkait pengeluaran dari sekolah, itu sudah menjadi keputusan komite sekolah.
"Bu tolong bu..."
Teriak bibi dari arah kamar nenek, sontak hal itu membuat semua yang ada di ruang keluarga mengalihkan pandangannya pada bibi yang sedang berlari ke arah mereka.
"Ada apa bi ?." tanya Bunda Daniah.
"Nenek bu, Nenek pingsan." Ucap bibi sambil terengah.
"Apa !!?." Emira langsung berlari ke kamar nenek, disusul yang lain nya.
"Ayah akan siapkan mobil, kita kerumah sakit sekarang."
"Arka tolong angkat tubuh nenek." Pinta bunda Daniah.
Iya bunda."
Emira sudah menangis terisak, sudah sering nenek sakit sakitan seperti ini, tapi tidak pernah mau di rawat untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Emira sangat takut jika harus kehilangan nenek nya. Dia berjalan mengikuti Arkana yang membopong tubuh nenek.
Sampai di rumah sakit Al Ghazi, Azam sudah menunggu nya di depan rumah sakit, di bantu oleh suster mala dan beberapa tim medis lain nya, nenek di pindahkan ke ranjang pasien kemudian di bawa ke ruang IGD untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Kehadiran Dokter Barra dan keluarga nya mengundang banyak pertanyaan dari penghuni rumah sakit, pasal nya mereka tidak pernah melihat putra kedua Dokter Barra, dan terlebih lagi, ada seorang gadis yang berjalan sambil menangis tersedu-sedu.
Setahu mereka Dokter Barra hanya memiliki dua putra, dan tidak memiliki putri, namun untuk bertanya, mereka tidak punya cukup keberanian.
Mereka semua menuju ke lantai 8, ruang rawat keluarga berada, termasuk IGD dan ruang ICU juga tersedia khusus.
__ADS_1
"Jangan menangis Emira, berdoa semoga nenek baik baik saja." Bunda memeluk tubuh menantunya yang terus menangis.
"Hikks,,, Emira takut nenek kenapa kenapa bun."
"Tidak akan terjadi apapun pada nenek sayang." Terang Bunda Daniah.
"Ayah akan masuk dulu bun."
"Iya yah."
Setelah mengenakan pakaian dokternya, ayah bara masuk ke dalam untuk melihat sendiri pemeriksaan Nenek.
Bunda Daniah juga baru saja menghubungi Emir untuk cepat pulang, dia tidak tega melihat Emira yang sedih seperti ini.
"Emira..." Kiran dan Della berlari ke arah Emira.
"Kalian kenapa bisa di sini ?" Tanya Emira
"Gue yang terlfon mereka." Sebenarnya Arkana hanya menelpon Kiran, dan sudah pasti Kiran menghubungi Della. Karena Arkana yakin saat ini Emira juga butuh sabahat-sahabatnya.
"Lo yang sabar ya Mir." Kiran memeluk tubuh Emira yang masih duduk di ruang tunggu.
"Makasih Ran." Balasa Emira.
"Gue juga mau di peluk." celetuk Arkana dengan tampang melas.
"Engga!! makasih Bun." cegah Arkana cepat.
"Loh, tadi katanya minta di peluk."
"Ya engga sama bunda juga."
"Terus maunya di peluk sama siapa hah!, Sama Kiran?." tanya bunda tutup poin
"Eh, kok Kiran dibawa-bawa?." Ucap Kiran bingung.
"Aduuuuh.... bunda ngga ngerti sama anak muda jaman sekarang, suka banget main teka teki."
"Iya yang satu cuma kode kode, yang satu ngga peka peka." Della menimpali ucapan Bunda Daniah.
"Nikahin aja bun." Sambung Emira."
"Husss.. kalian ini. Tunggu matang dulu." Jawab bunda sekenanya.
__ADS_1
"Maksudnya gimana ya bun? kalian ngomongin apa sih?." Jawab Kiran jujur.
Emira tersenyum mendengar itu, hal ini cukup menghibur dirinya, sejenak melupakan kekhawatiran pada sang nenek.
Bunda Daniah menghela nafasnya dalam dalam, padahal dia sudah bisa melihat dengan jelas bahwa anak bontot nya itu sedang menyukai salah satu sahabat menantunya. Lebih tepatnya pada Kiran.
Selama libur sekolah kemarin, mereka banyak menghabiskan waktu di rumah Emira, bahkan sering kali tidur bersama, hal itu membuat bunda Daniah dan ke 3 bocah tanggung itu sudah seperti anak dan ibu.
Terkadang mereka menonton drakor bersama, tertawa dan menangis bersama di ruang keluarga. Persis seperti orang gila pikir kata Arkana.
2 minggu rumahnya sudah seperti pasar malam, ramai oleh teriakan para wanita, padahal hanya 4 orang, namun sudah seperti sekampung saja.
Bahkan tidak jarang Arkana menegur mereka jika sudah kelewatan dramatis, karena khawatir pada Neneknya Emira, tapi Nenek justru merasa sangat bahagia, karena cucunya di kelilingi oleh orang yang menyayanginya.
Arkana juga kerap kali memberikan kode pada Kiran, namun Kiran tidak pernah peka dan tidak pernah menanggapinya. Entah karena memang tidak peka, atau hanya pura pura. Hal itu hanya Kiran yang tau.
**
Setelah satu jam akhirnya ayah bara dan Dokter Azam Keluar dari ruang IGD, Ayah Barra menghampiri sang istri, dan memberi kode jika keadaan nenek tidak baik baik saja.
"Bagaimana Nenek saya Ka Azam?." Tanya Emir pada Dokter Azam. Mereka sudah sepakat untuk nama panggilan itu, Azam tidak ingin di panggil Om, seperti awal pertemuan Emira dengan Azam beberapa minggu lalu setelah menikah dengan sahabatnya.
"Saat ini kondisi nenek dalam keadaan kritis. Penyakit Ginjal Kronis nya sudah sudah memasuki stadium 5, dan sudah menjalar ke jantung dan juga menyebabkan gagal ginjal. Satu satunya cara adalah dengan Terapi Pengganti Ginjal, dan nantinya harus dilakukan Transplantasi Ginjal. Saat ini pihak rumah sakit sedang mencari pendono Ginjal yang cocok dengan Nenek." Dokter Azam menjeda ucapannya.
"Setelah Transplantasi Ginjal di lakukan, Nenek perlu mengkonsumsi obat imunosupresif dalam jangka panjang, untuk menghindari risiko penolakan organ cangkok. Hal ini yang sedang kami khawatirkan. Terlebih nenek juga mengalami gagal napas sehingga perlu alat bantu untuk bernapas. Kami akan memindahkan segera ke ruang ICU". Terang Dokter Azam.
"Kalo begitu ambil Ginjal saya kak." pinta Emira.
"Harus ada prosedur untuk mendonorkan Ginjal Emira, kamu harus terlebih dulu melakukan pemeriksaan, dan yang paling penting darah kamu dan nenek harus sama."
"Golongan darah saya A+ kak."
"Sayang sekali Emira, golongan darah nenek O- dan keluarga kita tidak ada yang bergolongan darah O-, sehingga kita perlu mendapatkan donor dari luar."
Lutut Emira tiba tiba menjadi sangat lemas, seperti kehilangan tulangnya. Dia terduduk di kursi tunggu, air matanya sudah membanjiri pipinya.
Tubuhnya bergetar, namun tidak ada suara isak tangis yang terdengar, Emira terlihat begitu memilukan.
"Kita berdoa saja semoga tubuh nenek masih bisa bertahan sampai waktu proses cangkok ginjal di lakukan. Apapun bisa terjadi jika Allah berkehendak Emira. Kamu harus kuat untuk nenek." Sambung Dokter Azam.
Dalam pelukan bunda Daniah, Emira menganggukan kepalanya.
"Apa aku boleh menemui nenek?" pinta Emira.
__ADS_1
"Boleh sayang, bunda temani ya."
**Bersambung**