Istri Kecil Dr. Emir

Istri Kecil Dr. Emir
Eps 47


__ADS_3

__Selamat membaca__ 💖💖


Emir dan Azzam mendekat pada ranjang Emira. Emir sudah berdiri di samping Emira, sementara Della dan Kiran memilih untuk mundur ke sofa karena tidak ingin mengganggu pasangan suami istri itu.


"Sudah makan ?"


"Sudah mas, oya mas, kapan aku boleh pulang?"


"Tunggu dokter Ririn memeriksa kandungan mu hari ini, jika sudah tidak ada kendala, kamu sudah di izinkan pulang malam ini juga." Terang Emir pada sang istri.


Ini adalah hari ke tiga dirinya di rawat untuk bed ters dan baru hari ini kedua sahabatnya kembali mengunjungi Emira  karena kemarin ada pelajaran susulan yang tidak bisa mereka tinggalkan.


Dan selama 3 hari ini Emira tidak mengetahui apapun berita hangat terkait sisil yang sudah beredar di luar sana. Karena Emir melarang siapapun untuk memberitahu Istrinya, dia juga tidak di izinkan untuk memegang ponsel, selama 3 hari ini Emira hanya menghabiskan waktunya di ranjang dengan menonton drakor kesukaannya bersama bunda Daniah.


Azam melirik Della yang sedang bermain ponsel di sofa, dia mendekat pada gadis itu dan duduk tepat di sebelahnya. Della terlonjak kaget karena tiba tiba seseorang duduk begitu dekat dengan nya sampai tidak ada jarak sesenti pun.


"Kita perlu bicara." Azam berbisik di telinga Della. Hembusan nafas lelaki itu mampu Della rasakan di kulit telinganya.


Cepat atau lambat dia memang harus membicarakan masalah ini, tidak mungkin dirinya harus terus menerus menghindari lelaki itu.


Kedua nya pamit untuk pergi keluar. Della hanya mengekor kemana lelaki itu membawanya.


Huhh..Della menghela nafasnya dalam, dia begitu malas untuk memasuki ruangan yang sudah membuat hatinya sedikit sakit.


Azzam membuka pintu ruangan itu dan menarik tangan Della, karena lelaki itu melihat jika Della seperti enggan untuk memasukin ruangannya.

__ADS_1


"Duduk." perintah Azzam. Dia melepas sneli dokter nya dan meletakkannya di sandaran sofa, kemudian Azzam melinting kemeja panjangnya sampai siku dan melepaskan kancing lehernya. Kini penampilan lelaki itu sedikit santai dari sebelumnya. Hal itu tidak lepas dari perhatian Della yang masih tetap berdiri di seberang sofa.


Wanita itu duduk di sebrang sofa berhadapan dengan Azzam. Suasana di ruangan itu masih begitu sunyi, karena kedua nya masih sama - sama diam.


"Ayo kita akhiri pertunangan ini." Ucapan Della cukup membuat Azzam kaget, meskipun Azzam sempat berfikir jika gadis itu pasti akan meminta pertunangan dirinya di batalkan.


"Tidak." Jawab Azzam tegas.


"Ch.,, jangan becanda kak Azzam." Della benar - benar merasa kesal pada lelaki satu ini.


"Aku tetap tidak mau pertunangan kita di batalkan. Mau tidak mau kamu akan tetap menjadi istriku." Azzam berdiri dari duduknya dan mendekat pada Della. Kini dirinya sudah duduk tepat di sisi Della.


"Bukankah pacar kakak sudah kembali? jadi untuk apa aku disini. Menikahlah dengannya. Aku akan mencari kebahagiaan ku sendiri.


" Kau tidak berhak mengatur hidupku."


Azzam mencekal pergelangan tangan Della yang hendak beranjak dari duduknya. Membuat gadis itu menubruk dada bidang Azzam.


"Berikan aku satu alasan untuk membatalkan pertunangan kita". Ucap Azzam menatap lekat manik mata coklat milik Della. Della tidak bergeming. Tubuhnya masih berada di dekapan Azzam. Bahkan dia bisa merasakan hembusan nafas lelaki itu mengenai kulit wajahnya.


"Aku bukanlah pemuas nafsu seperti wanita - wanita ******* itu. Jadi nikmati kegilaan mu sendiri, dan jangan melibatkan aku di dalamnya."


Sekali lagi Della ingin beranjak dari tempat itu, dia meronta karena kini Azzam mencekal tangan nya lebih Erat.


"Kak lepaskan! tanganku sakit." Pergelangan tangan Della terlihat merah. Namun Azzam sama sekali tidak berniat untuk melepaskan wanita itu. Azzam tersulut emosi akan ucapan Della, Karena ternyata seperti itu penilaian dirinya dimana tunangan nya itu.

__ADS_1


"Bocah kecil seperti dirimu tidak berhak menilai ku. Aku juga tidak yakin jika tubuhmu ini masih suci. Kau lihat sendiri temanmu yang terkena kasus itu. Bukan tidak mungkin kan kau juga melakuka hal yang sama?." Ucap Azzam terlihat tenang namun begitu dingin. Wajahnya mendekat pada wajah Della, hanya berjalan beberapa mili paka bibir itu akan menyatu.


Della memalingkan wajahnya ke samping. Wanita itu tengah menahan emosinya. Dia begitu benci pada lelaki yang ada di depannya ini. Dulu dia mengira lelaki ini begitu lembut dan humoris. Ternyata semua itu salah. Della seperti melihat dua kepribadian yang berbeda. Ini kah sisi lain dari seorang Azzam.


Della kembali memalingkan wajahnya ke hadapan Azzam, menatap penuh benci lelaki itu.


"Benar aku sudah tidak perawan. Tubuhku sudah ku berikan pada kekasih pertamaku. Seseorang yang sangat aku cin..


Gadis itu tidak bisa melanjutkan ucapannya. Karena saat ini mulutnya telah di bungkam dengan begitu rakus dan kasar. Azzam menggigit bibir bawah Della untuk membuatnya terbuka. Amarah lelaki itu sudah memuncak. Dia tidak terima akan ucapan yang keluar dari mulut tunangannya itu.


Azzam tidak suka akan pengakuan gadis itu. Entah itu fakta atau hanya bualan semata. Tapi dia begitu Emosi mendengarnya. Seakan sesuatu yang sudah menjadi miliknya tidak berhak dinikmati oleh orang lain sekalipun itu masa lalunya.


Lelaki itu semakin menuntut balasan. Della meronta, memukuli bahu Azzam dan mencoba mendorong tubuh lelaki itu namun tenaganya tidak cukup kuat untuk menghentikan aksi Azzam. Della menangis. Air matanya keluar dengan sendirinya. Entah karena apa dirinya pun tidak mengerti.


Azzam yang merasakan pipinya basah, dia mengurai ciumannya. Melihat gadisnya tengah terisak dengan suara tertahan.


"Maafkan aku." Ucap Azam pada akhirnya. Entah kenapa dia begitu kasar pada gadis ini.


Azzam tau dirinya telah egois. Mengabaikan perasaan Della yang saat ini sudah menjadi tunangannya. Apalagi kata-kata yang keluar dari mulutnya sendiri pada kekasihnya Ratu, bahwa dirinya tidak akan berubah meskipun sudah menikah dengan Della. Dia akan tetap memilih Ratu.


Tapi dia juga tidak suka dengan Della yang dekat dengan lelaki lain meskipun itu hanya teman sekolahnya. Ya saat dia mengantar Emira ke rumah sakit tempo hari, Azzam melihat Della keluar dari dalam Ambulance bersama dengan seorang anak lelaki.


Di sepanjang koridor rumah sakit Azzam terus memperhatikan Della dari jauh. Padahal tidak ada interaksi aneh yang mereka lakukan. Hanya pada saat Della memegang baju seragam Anggasta untuk meminta penjelasan terkait kejadian yang di alami oleh Emira. Della memang berdiri cukup dekat dengan Anggasta. Tapi itu cukup membuat Azzam tidak suka.


Apalagi kata - kata yang tadi keluar dari mulut wanita itu. Oh ayolah Azzam. Kenapa dengan pikiran mu. Bahkan apa yang dirinya lakukan dengan Ratu di ruangan miliknya jauh lebih tidak waras. Dan siapapun yang melihat itu akan merasa jijik apalagi untuk status hanya sebatas kekasih.

__ADS_1


"Aku sungguh membenci mu". Ucap Della.


**Bersambung**


__ADS_2