
__Selamat Membaca__💖💖
Akhirnya setelah 1 jam, Dokter Ririn bisa bernafas dengan lega.
"Bagaimana dok?" Tanya Dokter Emir.
"Beruntung nona Emira cepat di larikan ke rumah sakit. Dan juga karena kandungan nona Emira sangat kuat dok. Jika tidak, kemungkinan terburuknya adalah istri anda akan mengalami keguguran".
Emir mengangguk, berucap syukur dalam hati. Karena Istri dan anaknya masih bisa terselamatkan.
"Biarkan nona Emira bed rest untuk 3 hari kedepan. Saya akan memeriksa setiap 3 jam sekali. kembali na. jika dalam 3 hari nona Emira sudah lebih baik, maka sudah di izinkan pulang." Terang dokter Ririn.
"Emm.. terimakasih dok" Jawab Dokter Emir.
"Saya akan memindahkan Nona Emira ke ruang rawat sekarang Dok." Emir mengangguk, mengikuti mereka yang akan membawa istrinya ke ruang rawat yang berada di lantai 5.
Saat pintu itu di buka, langsung di sambut pertanyaan dari bunda Daniah. Bunda Daniah dan ayah Barra sudah ada disana 1/2 jam yang lalu. Dan terlihat ke 3 remaja yang masih setia menunggu istrinya itu tampak beranjak dari duduknya. Anggasta terpaksa harus kembali ke sekolah, dirinya sudah cukup merasa lega karena Emira berada di sekitar orang - orang yang menyayanginya.
"Ya allah Emira.. Bagaiman keadaannya dok?" Tanya Bunda pada Dokter Ririn.
"Biarkan Emira di bawa ke ruang rawat dulu bun" Emir memberi isyarat pada Dokter Ririn untuk melanjutkan.
"Permisi bu" Pamit Dokter Ririn kemudian berlalu. Diikuti mereka semua yang masih terlihat sedikit kecemasan di wajahnya.
Kini mereka semua sudah di perbolehkan untuk masuk ke ruang rawat Emira. Meskipun tidak ada satupun di antara mereka yang berani bersuara karena tidak ingin mengganggu Emira yang masih dalam pengaruh obat.
Saat ini Sudah jam 13.50, sudah 2 jam berlalu dan mereka semua masih setia menunggu Emira di ruangannya. Bahkan saat ini Della sudah tertidur di sofa. Sedangkan Kiran hanya duduk sambil memainkan ponselnya.
Pintu ruangan itu dibuka, dan terlihat Bunda datang membawa banyak buah-buahan dan makanan. Karena bunda tau, sahabat dari menantunya itu masih belum makan siang.
"Biar Kiran bantu bun". Gadis itu ikut menyiapkan makanan yang bunda bawa di atas meja.
"Terimakasih ya sayang. sekarang bangungkan Della, kasihan jika sampai telat makan.
"Iya bun." Kiran beranjak untuk membangunkan Della. tidak menunggu waktu lama gadis itu sudah terbangun dan duduk di hadapan makanan yang membuat perutnya bersorak.
"Cuci tangan dan wajahmu dulu Della." Kiran mengintrupsi.
__ADS_1
"Aiisss.." Meskipun menggerutu namun Della tetap melakukan hal itu.
Sedangkan Arkana, lelaki itu sudah kembali ke mode dingin nya. Meskipun tubuhnya ada di ruangan itu, namun seperti tidak terlihat. Bahkan hembusan nafasnya pun tidak terdengar sama sekali.
Emir memilih untuk tetap duduk di samping istrinya. Dia baru saja kembali beberapa menit lalu karena harus melakukan operasi pada pasien nya. Meskipun dalam keadaan cemas. Tugas dan kewajibannya tetap Emir jalankan dengan baik.
Setelah menyantap makan siangnya, Della dan Kiran berpamitan pada Bunda Daniah dan Dokter Emir, karena mereka harus mengikuti tambahan pelajaran jam 2 nanti. Mereka berjanji akan datang lagi ke rumah sakit jika Emira sudah sadarkan diri.
Arkana juga berpamitan dan berjalan mendahului Kiran dan Della tanpa berniat untuk menyapa mereka.
"Astaga anak itu makin hari makin seperti Kulkas saja." Celoteh Della saat melihat Akrana berlalu tanpa basa - basi. Sedangkan Kiran hanya diam tidak berkomentar. Dia mengingat saat dirinya di tarik paksa untuk ikut dengannya saat menuju ke rumah sakit. Bahkan Kiran juga baru sadar jika sepanjang jalan tadi, dirinya memeluk Arkana dengan sangat erat.
"Della." Teriak seseorang sambil berlari dari ujung lorong.
"Ya ampun kak Azam ini bukan hutan." Ucap Kiran tidak habis pikir.
"Della sebentar. Kakak mau ngomong." Azzam mencekal tangan Della agar gadis itu tidak lari darinya.
"Maaf kak, aku buru - buru karena sebentar lagi akan ada kelas." Della menarik paksa tangannya dari tangan Azzam, dan kemudian menarik tangan Kiran untuk segera berlalu dari sana. Dirinya masih malas untuk bertemu dengan lelaki kadal itu.
"Pelan dikit Della." Kiran merasa kerepotan mengimbangi jalannya Della yang lebih terlihat seperti berlari.
"Lo masih hutang penjelasan sama gue." Ucap Kiran saat sudah berada di depan rumah sakit. Disana sudah ada David yang sengaja di tugaskan Emir untuk mengantar sahabat istrinya kembali ke sekolah.
"Silahkan nona."
Della melihat David sudah membuka pintu untuk dirinya. Sedangkan Kiran sudah mengitari mobil untuk membuka pintu satunya lagi. Della tersenyum mengembang pada David. Dan jujur itu membuat lelaki tersebut bingung bahkan sampai mengerutkan keningnya. Della menggelang kemudian berjalan ke pintu bagian depan. Gadis itu membuka pintunya sendiri dan dengan santainya duduk di jok bangku depan.
David menghela nafasnya dalam. Lagi lagi dia harus menyetok kesabaran jika berdekatan dengan gadis belia itu.
--^^--
"Mas.." Lirih Emira mengerjapkan matanya.
"Sayang.. kamu sudah bangun."
"Haus mas." Emir membantu istrinya untuk minum.
__ADS_1
Setelah merasa tenggorokan nya sedikit lega, Emira teringat akan darah yang memenuhi Rok seragamnya. spontan dia mengusap perutnya dan bersyukur sang buah hati masih berada di dalam perutnya.
"Kamu tidak perlu banyak pikiran, dede bayi sangat kuat. sama seperti bundanya." Emir mencium tangan dan perut Emira.
"Sayang kamu sudah sadar?" Tanya bunda Daniah yang baru masuk setelah tadi dirinya keluar sebentar.
"Bunda."
"Iya sayang, bunda disini. Kamu tidak perlu khawatir, tidak akan ada lagi yang mengganggu mu di sekolah."
Ternyata Bunda sudah mengetahui semuanya.
Emir juga sudah menghubungi pihak sekolah dan meminta kepala sekolah untuk mengeluarkan 2 gadis itu dari sekolah, atau dia akan menuntut sekolah atas kejadian ini.
Dan Emir juga meminta David memberi perhitungan pada kedua gadis itu.
"Maaf kan aku mas." Ucap Emira. Saat ini hanya ada dirinya dan Emir di ruangan tersebut. Bunda sudah di jemput Ayah untuk pulang. Meski awalnya enggan tapi Emir memaksa.
"Kenapa meminta maaf?"
"Aku hampir saja membuat anak kita celaka."
Emir mengusap air mata yang mengalir di pipi istrinya.
"Ini bukan salahmu. istirahat lah, tidak perlu memikirkan apapun."
Emira menepuk sisi ranjang yang terlihat masih banyak space di sana. Emir yang mengetahui maksud istrinya lantas berdiri dan naik ke ranjang Emira. Membaringkan tubuhnya menghadap sang istri.
"Tidurlah." Emir menarik tubuh istrinya kedalam pelukannya. Terasa sangat nyaman bagi Emira. Berada di dekapan sang suami benar benar membuat dirinya menghilangkan segala gundah gulana dan kecemasan yang hari ini di alami oleh gadis itu.
Tepat pukul 11 malam Emir terbangun, dia meraih ponselnya yang ada di atas nakas.
Emir beranjak dari tempat tidur dan sedikit menjauh dari sana untuk melakukan panggilan pada David.
"Bagaiaman?" Tanya Emir.
"Semua sudah beres Dok. Saya sudah mengirim berkas berkas itu ke rumahnya, dan apa anda tau dokter, Ternyata salah satu dari gadis itu adalah adik dari dokter Fera"
__ADS_1
"Baiklah. Kau lakukan tugasmu dengan baik. Aku ingin dia menerima balasan yang setimpal dari perbuatannya pada istriku.
**Bersambung **