
--Selamat membaca-- 💖💖💖
"Emir." panggil Dokter Barra yang baru masuk ke ruangan nenek, tadi beliau sedang ada operasi, sehingga tidak bisa langsung pergi meninggalkan tugasnya.
Emir menggeleng, tanda tidak baik, dan ayah Barra sudah paham akan kondisi ini, dia mengelus pundak anaknya.
"Hubungi Emira Segera." Pinta Ayah Barra.
"Biar Emir jemput saja yah, Tolong bantu mengurus jenazah nenek, kita bertemu di rumah." Ucap Emir kemudian berlalu meninggalkan rumah sakit untuk menjemput Emira.
Ayah Barra dan Dokter Azam serta petugas yang lainnya membatu mengurus kepulangan jenazah nenek.
Bunda Daniah yang mendengar kabar tersebut juga syok dan sedih, dia juga langsung sibuk menyiapkan keperluan di rumah, karena jenazah nenek akan di urus dan di makam kan di pemakaman keluarga Najda.
Jam 14.15 murid kelas 12 mulai keluar gerbang, Arkana yang sudah mengetahui kabar terkait ini, tidak di izin kan oleh Emir untuk memberitahu Emira.
Dan Emira juga hanya di beritahu jika dirinya di jemput langsung oleh Emir.
"Gue duluan ya, udah di jemput soalnya." ucap Emira pada kedua sahabatnya.
"Iya, yang sekarang udah punya suami, kita di duain." celetuk Kiran becanda.
"Sekalian aja ngomong di lapangan pake toa sana, biar semua denger. Astaghfirullah ini mulut." gemas Emira karena takut ada yang dengar, beruntung di kelas hanya tinggal mereka bertiga di tambah Arkana.
"Lo bareng gue aja Ran." ajak Arkana.
"Eh ngga ada ya!! Enak aja, gue sama siapa kalo Kiran bareng Lo." serobot Della.
"Sorry ya, gue duluan, Bye..." Emira sedikit berlari keluar kelas, menyisakan mereka bertiga.
"Lagian siapa juga yang mau sama Arkana, orang gue juga udah di jemput. Ayo cabut." ajak Kiran kemudian berjalan ke luar kelas.
"Nah ini baru temen gue." Della ikut keluar kelas, namun sebelumnya dia meledek Arkana dengan menjulurkan lidahnya.
Della cukup tau jika Arkana menyimpan rasa untuk Kiran, bukan bermaksud melarang, tapi dia masih belum bisa melepas sahabatnya.
Dia takut akan merasakan kesepian, karena saat ini Emira juga tidak bisa terlalu bebas seperti dulu.
Emira sudah duduk di kursi depan bersebelahan dengan Emir yang duduk di kursi kemudi. Emira mencium punggung tangan suaminya.
"Tumben mas jemput, memang nya tidak ada jadwal rumah sakit." tanya Emira memandang suaminya.
"Ada, baru saja dari rumah sakit, mau pulang sekalian jemput kamu." jawab Emir.
__ADS_1
" Ya sudah ayo jalan mas, nanti mampir ke toko bunga ya mas, aku mau beli bunga Lily kesukaan nenek." Pinta Emira dengan tersenyum.
Emir masih belum juga menyalakan mobilnya.
"Emira..." panggil Emir dengan lembut. tidak biasanya Emir seperti ini.
Emira mencoba menepis pikiran buruk yang tiba tiba datang, dia menunggu kata kata selanjutnya dari suaminya.
"Kita pulang sekarang, tapi kita tidak akan ke rumah sakit lagi, Nenek...." Emir menjeda ucapannya.
Emira menggeleng, dia melepaskan genggaman tangan Emir. Menunduk dan meremas roknya.
"Nenek baik baik saja kan Mas ?." tanya Emira, air matanya sudah mengalir dipipinya.
Emira memeluk tubuh sang istri, mengusap kepala dan mengelus punggung Emira, tangis Emira pecah, jiwanya terguncang akan kenyataan ini.
"Pada Akhirnya semua akan kembali pada sang Pencipta, Emira. Menangislah disini, tapi tersenyum lah nanti saat menemui jenazah nenek, Nenek sudah bahagia." Emir menenangkan Emira, dia tidak ingin Emira berlarut larut dalam kesedihan.
Dan Emira benar benar menangis dalam pelukan Emir.
Proses pemakaman nenek sudah selesai di lakukan. Malam harinya di lakukan pengajian untuk mendoakan nenek, berlangsung selama 7 hari.
**
Emira masih tidak banyak berbicara, sesekali dia pergi ke kamar sang nenek hanya untuk sekedar melepas rindu.
Emira meraih figura yang menampakkan foto keluarganya lengkap, Foto dirinya saat masih dalam gendongan sang Ayah.
"Emira merindukan kalian." Emira mengelus kaca pada bingkai foto tersebut.
ceklek
Pintu kamar terbuka, dan muncul lah Emir.
Emir baru saja keluar dari ruang kerjanya, saat memasuki kamar, dirinya tidak melihat ada istrinya di dalam, dia yakin pasti Emira sedang berada di kamar nenek, karena hampir setiap malam Emira menyempatkan untuk datang ke kamar ini.
"Sayang....kenapa belum tidur hem?." Tanya Emir mendekat ke ranjang yang di duduki Emira.
"Aku belum mengantuk mas." jawab Emira
"Tapi ini sudah malam, ingat sekarang kamu sudah kelas 12, jangan sampai kamu tidak fokus pelajaran gara gara mengantuk."
Emira cemberut, omelan suaminya sama cerewetnya seperti neneknya. Sejak kapan suaminya ini berubah menjadi cerewet seperti ini, kenapa bisa dia melewatkan tumbuh kembang suaminya.
__ADS_1
"Iya iya, ayo ke kamar." Ajak Emira pada akhirnya. Emira berdiri melangkah meninggalkan kamar nenek dan di ikuti Emir.
Saat di tengah tangga, Â tubuh Emira melayang, Emir menggendong nya secara tiba tiba, karena takut terjauh, Emira mengaitkan kedua tangannya di leher sang suami.
"Astaghfirullah mas, kamu bikin kaget aja si." gerutu Emira tidak di indahkan oleh Emir, Emir terus berjalan dengan santainya sambil menggendong istrinya ala bridal style.
"Turunkan aku mas." Pinta Emira saat sudah samapai di kamarnya.
"Aku merindukan mu Emira." ucap Emir mendamba.
deg deg deg
Lagi lagi jantung Emira masih saja bergetar saat berdekatan dengan Emir.
Emir menurunkan istrinya di ranjang dengan perlahan, masih di posisi yang sama tanpa berniat melepaskan pelukan nya.
Emir mencium kening Emira lama, perlahan ciuman itu turun ke pipi dan terakhir bersemayam di bibir sang istri
Ciuman yang sangat Emir rindukan itu perlahan semakin menuntut, meminta balasan sang istri untuk mencapai kenikmatan bersama.
Emira yang awalnya kesulitan akan permainan suaminya, kini sudah mulai bisa mengimbanginya.
"Euuhh.." Desah Emira.
Emir yang mendengar itu semakin gencar melancarkan aksinya, sudah cukup lama dia berpuasa untuk tidak menyentuh anak tanggung yang sudah halal di hadapannya ini.
Emir semakin rakus, tidak hanya bibirnya, namun kini tangannya pun sudah mulai merambat ke punggung Emira, melepaskan pengait di belakang sana.
Ciuman mereka terlepas untuk mengambil pasokan oksigen, hanya beberapa detik karena Emir kembali menyesap bibir ranum istrinya, tangannya perlahan membuka kancing piyama Emira, dan melemparnya ke sembarang arah beserta dengan kain yang menutupi sesuatu yang sangat Emir sukai.
Dingin nya malam karena hujan yang langit malam berikan tidak membuat mereka menghentikan aktivitasnya.
Seolah masa bodoh akan hal itu, mereka terus memadu kasih, melepas kerinduan yang sudah membuat Emir sesak beberapa minggu ini.
Bahkan Emir benar benar tidak membiarkan Emira istirahat dengan tenang malam itu, dia seperti merapel dan mengulanginya lagi dan lagi.
Sampai waktu menunjukan pukul 01.45 dini hari Emir melepaskan kenikmatannya untuk yang kesekian kalinya.
Emira sudah memasrahkan dirinya, Dia langsung tertidur tanpa membersihkan tubuhnya terlebih dahulu, sungguh lelah namun dia juga menikmatinya.
Emir menyelimuti tubuh Emira yang sudah terlelap menghadap ke arahnya, mengecup bibir Emira sekilas, kemudian ikut terlelap di bawah selimut yang sama.
**Bersambung**
__ADS_1