
__Selamat membaca__ šš
"Mas.... baru pulang ?" Suaminya baru saja memasuki kamarnya, saat ini jam sudah menunjukan pukul 20.45, sudah terlalu malam untuk jadwal suaminya pulang, yang seharusnya pulang sekitar jam 16.00 tadi sore, atau jika memang paling telat, seharusnya tidak sampai jam 8 malam.
"Iya, maaf tadi mas ngga kasih kabar karena ponsel mas mati." Emir menaruh tas kerjanya di sofa, saat akan membuka dasi yang melilit lehernya, tangannya di cegah oleh sang istri. Meski terlihat marah karena suaminya pulang telat tanpa memberikan kabar, namun dia tetap saja membatu Emir untuk membuka dasi dan pakaiannya.
"Lain kali jangan seperti itu mas, masa aku harus tanya bunda dulu buat tau dimana keberadaan suami aku sendiri." Gerutu Emira dengan masih berusaha membuka kancing kemeja suaminya satu persatu, terlihat jelas wajah sebal sang istri, di tambahan gerakan membuka kancing nya yang sedikit kasar.
"Iya... lain kali mas kabari." Emir melirik istrinya, dia lupa jika kehamilan di tri semester ke dua ini, mood istrinya sering naik turun, terutama soal emosinya.
"Ada apa tadi pagi ke Sekolah?" Tanya Emira sambil berlalu ke kamar mandi menyiapkan air untuk suaminya mandi.
"Bertemu kepala sekolah." Emir menjawab saat istrinya keluar dari kamar mandi dan berlalu keĀ wardrobe.
Hatinya sedang was-was karena dirinya juga lupa tidak memberi kabar terlebih dulu pada Emira, Emir tengah duduk di tepi ranjang tempat tidur, hanya mengenakan handuk kimononya, memperhatikan istrinya yang menggerutu sambil tetap menyiapkan keperluan dirinya.
"Iya ngapain ?" Emira menaruh baju ganti suaminya di tepi ranjang, tepat di sebelah sang suami.
Emir yang masih dalam posisi duduk menarik tubuh istrinya untuk duduk di pangkuannya.
"Iiih.. apaan sih mas, awas jauh jauh." Gerutu Emira, mulut nya berucap demikian tapi tangannya justru mengalungkan ke leher sang suami.
Emir tersenyum pada tingkah lucu istrinya itu.
Cup, dia mengecup bibir sang istri sekilas, benar-benar hanya mengecupnya karena tau istrinya sedang mode siaga, kemudian membenarkan anak rambut sang istri yang terlihat berantakan menutupi mata.
__ADS_1
"Mas sudah memberi tahu kepala sekolah soal pernikahan kita, mas hanya ingin kamu aman di sekolah, karena itu kepala sekolah harus mengetahui kondisi mu." Ujar Emir sambil mengelus pipi Emira.
"Kenapa tiba-tiba mas ?" Krena seingat Emira, dirinya sudah membuat kesepakatan dengan suaminya, perihal pernikahannya akan di umumkan setelah Emira lulus, dan itu hanya tinggal 2 bulan lagi.
"Mas hanya tidak ingin kamu dan baby kita kenapa-napa." Emir mengelus perut istrinya yang sudah mulai membuncit.
"Terus apa tanggapan kepala sekolah?"
"Awalnya kepala sekolah menyayangkan hal itu, karena kamu adalah siswi yang sangat berprestasi, sangat disayangkan jika harus menikah muda dan meninggalkan segala sesuatu yang mungkin sudah kamu rencanakanĀ sebelumnya. Tapi mas sudah menjelaskan tidak akan ada yang berubah nantinya, masa depanmu akan tetap cerah, dan mas pastikan, tidak akan ada yang menghalangi cita-cita mu."Ā Emira terharu mendengar penuturan suaminya. Dia bersyukur karena Allah memberinya suami yang begitu perhatian dan pengertian padanya.
Emira menghambur ke pelukan suaminya. "Terimakasih mas." ucapnya masih dalam pelukan Emir.
"Kamu tidak perlu berterimakasih, karena seharusnya mas yang berterimakasih, kamu sudah mau mengandung di usia mu yang masih sangat muda." Emir mengecup pucuk kepala Emira, dan Emira semakin mengeratkan pelukannya pada sang suami. Dia sangat menyukai aroma tubuh Emir. Wangi maskulin suaminya sudah membuatnya candu.
Emira teringat jika tadi pagi suaminya masuk kedalam ruang kepala sekolah bersama dengan Arkana, perlahan diaĀ melepaskan pelukannya dan memberi jarak.
"Tidak ada apa apa, hanya mengambil formulir pendaftaran untuk memasuki Harvard University." Emira begitu terkejut saat mendengar itu.
"Sejak kapan Arka ingini pindah ke Amerika ?" Tanya Emira begitu penasaran.
"Entahlah, anak itu mendatangi mas 3 minggu yang lalu, dan tiba-tiba ingin melanjutkan sekolahnya diĀ Harvard University untuk mengambil program studi bisnis dan management. Mas juga awalnya ragu, tapi sepertinya Arkana serius akan ucapan nya."
"Apa mas menyetujui Arka melanjutkan kuliahnya di luar negeri ?"
"Tentu saja. Arkana ingin membangun bisnisnya sendiri, sebagai seorang kakak, mas tentu akan mendukung nya, selagi itu hal yang positif." Emira hanya manggut - manggut, seketika dia memikirkan perubahan sikap adik iparnya itu beberapa minggu ini.
__ADS_1
"Apa kamu juga sudah menentukan universitas mana yang akan kamu pilih nanti?" tanya Emir karena melihat istrinya seperti melamun.
Emira memandang perutnya, dan mengelusnya dengan sayang sambil tersenyum. Dalam hatinya bertanya - tanya, apakah dia mampu dan bisa menjadi istri dan ibu yang baik untuk keluarga kecilnya, apakah dia akan tega menitipkan anaknya pada bunda atau baby sister nya saat dirinya sedang menempuh pendidikan nanti, dan apakah dia juga bisa membagi waktunya untuk sang suami, membayangkan saja Emira seperti tidak sanggup, tapi dia juga memiliki cita-cita dalam hidupnya yang ingin dia gapai.
"Itu bisa di pikirkan nanti saat baby sudah lahir mas, sekarang aku hanya ingin fokus pada kehamilan ku saja." ucapnya dengan yakin sambil tersenyum pada suaminya.
Emir sungguh beruntung memiliki istri yang sangat dewasa pemikirannya, mesti dia masih di bangku SMK, Emir juga setuju dengan keputusan istrinya, apapun untuk kebaikan sang istri pasti akan dia lakukan.
"Baiklah jika itu mau mu, Mas akan selalu mendukung apapun yang ingin kamu lakukan asal itu positif dan membuat mu maju." Ujar Emir
"Terimakasih mas."
Emira ingin beranjak dari pangkuan suaminya untuk menyiapkan kembali air hangat yang dia yakini sudah dingin karena terlalu lama mengobrol, namun tubuhnya di tahan oleh sang suami.
"Permisi mas, mau siapin air dulu." Ucap Emira karena Emir justru semakin menahan tubuhnya.
"Apa kamu sudah mandi?" Tanya Emir sambil tersenyum.
"Jangan ngada-ngada ya, ini sudah malam, pastinya aku sudah mandi." Karena sering di mesumi oleh suaminya, kini otak Emira begitu cepat menangkap sinyal - sinyal tersirat dari pertanyaan suaminya itu.
Emir terkekeh melihat istrinya melotot, dia sangat gemas, ingin rasanya memakan istri kecilnya yang saat ini terlihat sangat sexy, tubuh berisi sang istri membuatnya terlihat sangat cantik dan menggoda. Beruntung saat di luarĀ kamar, Emira selalu mengenakan pakaian tertutup serta hijab nya, sehingga tubuh sang istri tidak terekspos kemana - mana, dan hanya dia sendiri yang mampu menikmatinya.
Membayangkan saja sudah membuat sesuatu yang ada di bawah sana mengeras, Emira yang masih duduk di pangkuan Emir dapat merasakan benda pusaka suaminya sudah mode on. Dia meronta di dalam pangkuan Emir agar cepat di lepaskan, tapi Emira tidak menyadari saat dirinya bergerak justru membuat benda itu semakin mode on.
"Mas ih." Emira melotot dan mencubit perut suaminya dengan gemas, bisa - bisa dia akan mandi lagi malam ini, bukan tidak ingin melayani suaminya, tapi tubuhnya sangat letih karena tenaganya sudah habis untuk menahan emosi sepanjang sore sampai malam untuk menunggu kabar dari mas suami dokter mesum nya itu.
__ADS_1
**Bersambung**