Istri Kecil Dr. Emir

Istri Kecil Dr. Emir
Eps 40


__ADS_3

__Selamat Membaca__ 💖💖


"Silahkan nona, ini ruangan dokter Azam. Saya permisi " setelah pamit, David berlalu dari hadapan gadis yang masih terus menatap punggung nya.


"Hufftt..Coba yang terjebak di dalam hotel waktu itu David, sudah pasti aku minta bunda untuk langsung dinikahkan saja." Della tertawa sendiri membayangkan itu. Dia berbalik dan menatap pintu yang masih tertutup rapat itu dengan raut wajah yang sudah berubah.


"Tapi sayang seribu sayang, aku harus terjebak dengan spesies kadal berkaki dua." Della membuka hendel pintu tanpa berniat mengetuknya, dia tidak suka basa basi dengan orang yang tidak di anggap penting.


Della mengedarkan pandangannya saat tubuhnya sudah masuk sempurna ke ruangan yang di nilainya cukup besar itu.


"Kosong, kemana manusia kadal itu, masa bodo ah, aku taruh saja di sini" Dia menuju meja kerja Azam, dan meletakkan paper bag yang entah berisi apa karena dia tidak berminat untuk mengeceknya.


"Tunggu, aku foto dulu."


"Pesanan anda sudah sampai dengan selamat nyonya"


"Oke beres" Pesan itu terlihat langsung di baca oleh si penerima. Tanpa menunggu balasan dari bundanya, Della menaruh kembali ponselnya dalam saku yang ada di baju seragam SMA nya.


"Aduh aku ingin buang air kecil. Sekalian numpang tidak masalah kali ya, mumpung orangnya sedang tidak ada."


Karena sudah tidak tahan, Della memutuskan untuk masuk ke kamar mandi yang ada didalam ruangan Azzam.


Saat sudah menuntaskan hajatnya. Della langsung bersiap untuk keluar.


Dirinya sudah berhasil membuka pintu kamar mandi tersebut, namun baru beberapa senti terbuka, sayup - sayup Della memdengar percakapan dari luar. Della mengurungkan niatnya untuk keluar dan memilih untuk tetap diam lebih lama di dalam kamar mandi.


"Aiisshh kenapa harus bersembunyi sih" Della mengutuk kebodohannya sendiri namun tetap tidak beranjak dari sana.


"Dia dengan siapa" Della mengintip dari celah pintu yang sedikit terbuka. Dari sana dapat melihat dengan jelas Azzam tengah berada dengan seorang wanita yang terlihat seumur dengan Azzam. Dengan tinggi sekitar 165 Cm, Wajahnya sangat cantik, dia juga memiliki tubuh yang sangat sempurna di lihat dari sudut manapun. Wanita itu mengenakan dress yang tingginya mungkin 10 cm di atas lutut dengan kerah baju berbetuk belahan V yang cukup rendah, membuat dada montok nya terlihat menyembul dari balik penutup kain tersebut.

__ADS_1


"Sayang..."


"Ck.. sudah aku katakan jangan pergi ke rumah sakit. Pergilah ke Apartemen mu."


"Tapi aku sungguh merindukan mu, memangnya kamu tidak rindu? sudah 3 bulan loh kita tidak bertemu."


"Itu salahmu sendiri yang memilih untuk mengambil tawaran pekerjaan itu."


"Tapi aku sudah terlanjur tanda tangan kontrak."


"Apa dia seorang model?" Della masih terus menajamkan mata dan telinganya dari balik pintu kamar mandir. Terlihat Azzam berjalan ke arah sofa yang menghadap langsung ke arah kamar mandi, dia mengendurkan ikatan dasinya dan duduk dengan menengadahkan kepalanya pada punggung sofa.


Tiba tiba mata Della melotot sempurna dan reflek menutup mulutnya dengan kedua tangan karena hampir saja dia menjerit.


Wanita itu tanpa malunya, duduk di atas pangkuan Azzam. Dengan baju yang kurang bahan itu, siapa yang tidak bernafsu melihatnya. Apalagi di hadapannya ada seekor kadal yang sebentar lagi akan menjelma menjadi buaya.


Wanita itu merauk bibir Azzam dengan rakus. Awalnya memang Azzam terlihat menolaknya, tapi itu tidak berlangsung lama. Karena sepenglihatan Della lelaki itu sudah menarik tengkuk wanita yang berada tepat di pangkuannya. Tubuh mereka sudah menempel sempurn meski masih mengenakan pakaian lengkap di antara keduanya.


Azzam memang bukan lelaki taat agama seperti sahabatnya Emir. Namun dia melakukan nya juga bukan dengan banyak wanita. Melainkan hanya dengan wanitanya.


Della terpaku melihatnya. Rasanya dia ingin sekali keluar dari sana, tapi tidak bisa, meskipun dia juga belum menerima perjodohannya dengan Azzam, bohong jika hatinya tidak terluka melihat pemandangan diluar sana.


Azzam dan wanita itu masih terus menikmati permainan nya. Bahkan kini wanita itu sudah terlihat setengah telanjang. Tubuh bagian atasnya sudah terpampang tanpa mengenakan apapun. Kain penutup asetnya sudah teronggok di lantai. Dan Azzam terlihat sedang menikmati buah dada wanita.


"Sayang.. apa tidak bisa jika kamu membatalkan pertunangan itu?" wanita itu bertanya pada Azzam yang masih menikmati permainan nya.


Terdengar tidak ada jawaban. Hanya suara sesapan yang keluar dari mulut rakus lelaki brengsek itu.


"Kita sudah berpacaran hampir 3 tahun, aku tidak rela jika kamu harus dimiliki wanita lain."

__ADS_1


Azzam menghentikan permainannya, kemudian memandang wanita itu.


"Tidak akan ada yang berubah sekalipun aku sudah menikah dengan wanita lain. Kau tetap yang utama bagiku. Wanita yang akan selalu berada di hatiku. Jadi berhenti mengkhawatirkan hal tidak penting."


Entah apa yang ada di pikiran Della, dari awal dirinya jelas melihat semuanya tanpa ingin berpaling.


Dan entah karena apa, tiba tiba air mata Della menetes begitu saja. Apakah karena perbuatan lelaki sialan dan wanita murahan itu, atau karena ucapan yang baru saja keluar dari mulut Azzam.


Della tersenyum dan menghapus jejak air matanya dengan cepat.


Azzam kembali menarik tengkuk wanita itu dan melahap bibirnya dengan kasar dan rakus. Tangannya benar benar sudah tidak bisa di kondisikan, dan terlihat wanita itu juga tengah membuka kancing kemeja Azzam.


Della membalikan tubuhnya karena sudah malas untuk melihat pemandangan 2 setan yang tengah memadu kasih di siang bolong.


Dia ingin pergi tapi tidak mungkin, entah sampai kapan dia akan terjebak di dalam sana.


Dan sepertinya Allah tengah mendengar doanya. Tiba - Tiba dia mendengar ponsel berbunyi dari luar sana. Della kembali mengintip keluar.


Tangan Azzam terlihat sedang berusaha menggapai ponsel yang tergeletak di bangku sofa sebelahnya tanpa berniat untuk melepas pagutannya.


Namun saat melihat layar ponselnya itu dengan cepat dia menjauhkan bibirnya dari wanita itu. Dan kini bahkan Azzam terlihat mencoba untuk berdiri, dan membuat wanita itu juga harus berdiri. Terlihat jelas raut wajah kesal dari wanita itu. Dia merapihkan pakaian atas nya dan menunggu Azzam yang tengah mengangkat telepon yang ternyata dari bunda Mala.


"Masih dirumah sakit bun" Ucap Azzam sambil melihat ke arah wanitanya.


"Paper bag?" Azzam mengedarkan pandangannya mencari benda yang di maksud, dan pandangannya berhenti di meja kerjanya.


"Emmm." Panggilan telpon itu sudah terputus. Masih terlihat jika Azzam terus memandang ke arah meja kerjanya.


"Ayo aku antar ke bawah." Azzam mengajak wanita yang enggan beranjak dari tempatnya itu untuk keluar. Dan sebelum keluar Azzam sempat melirik ke arah pintu kamar mandi yang tidak tertutup sempurna.

__ADS_1


**Bersambung**


__ADS_2