Istri Kecil Dr. Emir

Istri Kecil Dr. Emir
Eps 07


__ADS_3

"Selamat ujian kakak ipar." bisik Arkana pada Emira dengan mencondongkan tubuhnya mendekati Emira.


Sontak hal itu membuat mata Emira melotot dan gugup. Sungguh dia sangat canggung menghadapi Arkana kedepannya.


"Hah! lo ngomong apa barusan?" tanya Andi seperti mendengar bisik bisik kurang jelas


"Lanjut bro" Arkana membenarkan kertas ujian Andi yang bergeser ke mejanya.


6 jam 30 menit berlalu dengan hikmat, ke tiga ujian untuk hari ini telah mereka lalui dengan tenang, para siswa dan siswi satu persatu meninggalkan kelas, tersisa Kiran, Emira, Della, Andi dan Juga Arkana yang masih di dalam.


"Ngapain lo masih ada di sini, cabut sana?" ucap Kiran pada kedua orang yang tidak di harapkan kehadirannya saat ini, karena dia akan mulai menginterogasi Emira, alamat gagal jika harus ada 2 cecunguk itu.


"Males keluar, lagi tunggu Anggasta, males keluar gue." Jawab Andi sekenanya.


"cehh.. Kita ke kafe depan aja yu Mir, gue pengirn nongkrong bentar." Ajak Della


"Emm boleh deh," Mereka bertiga berlalu meninggalkan kelas, dengan posisi Emira paling belakang. Karena sedikit melamun dia tidak sengaja menaprak tubuh Anggasta yang tengah buru buru saat hendak memasuki kelas.


"Eh sorry Mir, lo ngga papa?" Tanya Anggasta pada Emira.


"Aman ngga." Jawab Emira kemudian berlalu.


Anggasta terus memperhatikan Emira, tidak dipungkiri, gosip tentang dia dekat dengan Emira sebelumnya memang membuat dirinya senang, karena dia memang menaruh hati pada Emira sejak di bangku kelas 10. Namun karena sudah terlanjut berpacaran dengan Sisil, Anggasta terpaksa menjaga jarak dengan Emira.


Dia tau Sisil saat itu tidak bisa dikendalikan. Dan karena hal itu juga yang akhirnya membuat hubungan dirinya dengan Sisil putus, dia tidak mau banyak anak anak yang menjadi korban kecemburuan Sisil.


"Kenapa ngga ?" tanya Arkana saat sudah di belakang Anggasta.


"Eh, engga yuk mulai, anak anak udah pada kumpul." Anggasta mencoba mengalihkan, dia tidak ingin siapapun tau jika dirinya menaruh hati pada Emira.


Namun Arkana sudah bisa merasakan jika Anggasta pasti menaruh hati pada Emira, bahkan dirinya juga kagum saat pertama kali bertemu. Jika bukan karena sang Bunda yang mewanti wanti untuk menjaga calon kakak iparnya dia tidak ada sampai pindah sekolah seperti ini.


**

__ADS_1


Rumah sakit Al Ghazi


"Calon pengantin mukanya kusut banget." Seorang pria memasukin ruangan Emir tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, sudah di pastikan hanya Azam orangnya.


"Harusnya lo bahagia tinggal 153 Jam 24 menit lagi lo bakal nikah." sambung Azam sambil merebahkan tubuhnya pada sofa panjang di ruangan Emir.


"Kalo ngga ada kerjaan mending cabut aja lo, gue sibuk" Saut Emir dengan dingin dan tetap fokus pada kertas yang ada di tangannya.


"Kata Mommy masih pucuk ya? lo metik dimana ? " tanya Azam ambigu


"Ngga jelas." Jawab Emir singkat.


"Gue jadi penasaran gimana calon kakak ipar gue, kayanya besok gue harus datengi sekolahnya!" Azam mencoba menggoyahkan pertahanan Emir. Benar saja tatapan tajam, Emir layangkan untuk Azam.


"hahaha... kenapa lo? takut dia berpaling ke gue ?" bukanya takut Azam palah semakin menggoda sahabatnya itu.


"coba aja kalo bisa." jawab Emir acuh.


Fera sangat ambis, segala cara bisa di dapat untuk mewujudkan tujuannya, meski memakai cara yang halus, permainannya sungguh rapih, tidak akan ada yang menyangka jika seorang Fera bisa melakukan hal keji.


Namun semua itu sudah di ketahui oleh Azam dan Emir, Emir memberikan kesempatan Fera bekerja di rumah sakitnya karena dia dokter yang kompeten, Emir akui itu, karena selamat bekerja kurang lebih 3 tahun dia cukup membantu dan meningkatnya kemajuan Rs. Al Ghazi. Namun jika dia melihat dan mencium sesuatu yang akan mencoreng nama baik rumah sakit, maka sudah di pastikan siapapun itu akan angkat kaki saat itu juga.


**


17.00 Cafe senja Kopi


"Oke kita maafin, tapi ini terakhir kalinya lo ngerahasian sesuatu dari kita." Karin  memeluk sahabatnya dengan erat, dia tidak menyangka sebentar lagi sahabatnya akan melepas masa lajangnya. Emira pun mengangguk, membalas pelukan Kiran tak kalah erat.


"Nanti ceritain malam pertama lo ya Mir." Blusss rona merah timbul tiba tiba di pipi Emira,


"Apaan sih ngga ada ya cerita cerita." Emira menunduk karena malu.


"HAHAHAHA... muka lo lucu banget, hahaha... aduh perut gue sakit huh huh huh." Della memegangi perutnya karena sakit akibat terus tertawa, menggoda Emira ternyata sangat menyenangkan.

__ADS_1


**


Hari ini adalah hari Jumat, hari terakhir ujian semester dua, semua ujian telah Emira lalui dengan lancar dan tenang, berucap syukur karena begitu mudah dilancarkan segala nya dalam menyelesaikan soal ujian, Emira masih memegang juara umum untuk kelas 11 ini, setelahnya adalah Anggasta sang ketua Osis.


Kedua sahabatnya sudah menyuruh Emira untuk langsung pulang, sebelumnya mereka bertiga menyempatkan untuk melakukan perawatan ke salon langganan Kiran, padalah yang akan menikah Emira, tapi Kiran dan Della lah yang terlihat lebih semangat.


Mereka bertiga banyak mengabiskan waktu bersama hari ini, bercanda dan bertukar cerita, hari hari biasa mereka juga selalu menghabiskan waktu persama, namun hari ini terasa begitu berbeda. Seolah ingin memberikan yang terbaik sebelum salah satu diantara mereka harus melepas masa lajangnya,


**


"Saya terima nikah dan kawin nya Emira Najda binti Bani Najda (almarhum) dengan mas kawin seperangkat alat sholat, uang tunai senilai seratu delapan puluh juta dan perhiasan berlian dengan berat 60 karat di bayar tunai."


"Bagaimana saksi sah?" tanya pengulu pada para saksi.


SAH... SAH.. SAH..


"Alhamdulillah hirobbil'alamin" saut semua orang yang ada di acara pernikahan ini.


Tidak lama setelah itu Emira datang dengan di apit oleh kedua sahabatnya menuju ke tempat Emir berapa, Emir sungguh terpukau akan kecantikan dan keanggunan istrinya, bahkan dia tidak memutus pandang barang sedetik pun, dia tersenyum samar, saat Emira sudah ada di hadapannya, dia membuka kain penutup kepala sang istri, di letakannya tangan Emir pada pucuk kepala sang istri dan mulai memanjatkan doanya.


Allahumma Inni As’aluka Min Khairiha Wa Khairi Ma Jabaltaha ‘Alaihi. Wa A’udzubika Min Syarriha Wa Syarri Ma Jabaltaha ‘Alaihi


“Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepadaMu kebaikan dirinya dan kebaikan yang Engkau tentukan atas dirinya. Dan Aku berlindung kepadaMu dari kejelekannya dan kejelekan yang Engkau tetapkan atas dirinya”.


"aamiin" Emira mengaminkan doa suaminya, di raihnya tangan sang suami kemudia dia cium punggung tangan suaminya dengan takzim.


Emira memeluk sang nenek dengan derai air mata, memohon ampun dan berterimakasih karena sudah merawat dirinya sampai saat ini. Kemudian bergantian dengan Emir yang memeluk sang nenek.


"Tolong jaga cucu nenek Emir, dia sudah tidak punya siapa siapa di Dunia ini selain nenek, dan jika nenek sudah pergi dia hanya punya kamu. Sayangi, dan cintai dia meskipun sulit, bertahanlah jika masih bisa di pertahankan, sekarang nenek serahkan tanggung jawab untuk menjaga Emira pada mu, didik dia untuk tetap berjalan di jalan Allah, tegur saat dia lalai, namun jangan biarkan tangan ini mendarat di tubuhnya, karena nenek pasti akan sangat sedih." ungkapan sang nenek untuk cucu menantunya.


"Emir akan menjaganya mulai sekarang, nenek tidak perlu khawatir." balas Emir meyakinkan.


**bersambung**

__ADS_1


__ADS_2