
**
"Kalo tau, gue ngga akan ngikuti Emira sampe kek gini! gue mencium bau bau mencurigakan dari tu bocah, turun buru! kita liat apa yang mau dia lakuin." Kiran dan Della langsung turun saat Emira sudah memasukin butik tersebut.
Mereka mengendap endap masuk ke butik agar tidak terlihat oleh Emira, Didalam mereka berpura pura untuk memilih gaun dengan posisi yang cukup jauh dari Emira, Mereka terus mengamati sahabatnya yang sepertinya sedang berdiskusi dengan entah lah siapa itu.
"Sayang kenalin ini tante Mala sahabat bunda sekaligus pemilik butik ini."
"Ya Ampun manis sekali kamu, beruntung sekali si Emir dapat daun muda seperti ini." sepertinya tante Mala ini orang yang sumpel dan mudah berbaur dengan orang baru.
Jelas itu membuat Emira malu, dia hanya tersenyum menanggapi gurauan tante Mala, kemudian tante Mala menyuruh karyawan nya untuk menunjukan beberapa gaun pengantin yang sudah di siapkan untuk calon menantu sahabatnya ini.
Sudah ada lima pasang gaun pengantin mewah berjejer disana, semua terlihat mewah namun tetap tertutup
sepertinya tante Daniah memang menyiapkan yang terbaik untuk calon menantunya ini.
Dan sudah dua baju yang Emira coba, ini adalah baju ke tiga, gaun pengantin syar"i ini memiliki ciri khas warna putih tulang, dengan sentuhan glamor dari penggunaan ornamen modern berupa mutiara, dan kristal swarovski namun tetap terlihat simpel dan elegan, itulah kesan yang hendak disampaikan oleh desainer tante Mala.
"Bunda.." Sapa seseorang yang baru datang. Dia adalah Emir, bersamaan dengan itu Emira keluar dari ruang ganti.
Pandangan nya langsung tertuju pada Emir. Emira pun cepat cepat menundukan kepalanya karena merasa canggung, tatapan calon suaminya itu sunggu tidak bisa di artikan, sedang Emir menatap lekat perempuan yang sebentar lagi akan menjadi calon istrinya, mematung dengan ekspresi dingin namun dalam sorot mata yang menandakan kekaguman.
"Cantik kan istri kamu?" tanya bunda Daniah pada anaknya yang masih belum melepaskan tatapan nya pada Emira.
"Iya.." jawab Emir tanpa sadar.
"Benar apa kata bunda, kamu pasti akan langsung jatuh cinta pada pandangan pertama." Ejek bunda Daniah menggoda di ikuti gelak tawa tante Mala.
"Ekhemm.." Emir berlalu untuk duduk ke sofa yang ada di ruang tunggu tersebut, dia melonggarkan dasi yang melilit lehernya, dan menggulung lengan bajunya sampai siku. Tatapannya tetap tertuju pada calon istrinya.
"Emir ini jas kamu, coba pakai dulu sayang," perintah bunda Daniah
"Tidak perlu bun, terserah bunda saja pilih yang mana." Jawab Emir,
Mendengar itu Emira sedikit merasa kecewa, dia merasa Emir tidak suka akan perjodohan ini,
"Apakah dia terpaksa?" batin Emira.
"Sayang, kalo kamu suka yang mana?" Tanya tante Daniah membuyarkan lamunan Emira.
"Emm.. Mira suka semua tante, terserah tante saja mau pilih yang mana."
"Aduh pasangan ini, yang satu dinginnya minta ampun yang satu pemalu, bener bener bikin gemes." ucap tante Mala merasa gemas sendiri.
Baju pengantin sudah di putuskan, akan ada dua baju yang nantinya di gunakan, satu untuk akad dan satu untuk
resepsi, meskipun hanya di hadiri keluarga dan orang terdekat namun pernikahan ini tetap sah dimata hukum dan agama, karena itu tante Daniah akan menyiapkan sebaik mungkin untuk putra dan calon menantu tercintanya.
__ADS_1
**
"Kamu antar Emira pulang ya, sayang." Tante Daniah memerintahkan sang anak untuk mengantar Emira.
"Tidak perlu tante, Emira kan bawa motor." cegah Emira cepat.
"Tidak apa apa nanti motor kamu biar di bawa sopir bunda." jawab tante Daniah
"Tapi tante, Emira tidak bisa hanya berduaan saja, karena kami belum menjadi mahram."
"ceehh... pandai sekali dia, bukan kah tadi dia juga ke kafe hanya berdua dengan seorang pria, walaupun di sana banyak orang, tetap saja dia sudah menjadi calon istri orang lain, bisa bisa nya mengumbar senyum dengan gampangnya." batin Emir dia menatap Emira dengan memicingkan matanya.
"Aduh bunda lupa, kalo kalian belum menikah, ya sudah, kalo begitu kamu hati - hati ya sayang, jaga diri baik baik di jalan." Jawab tente Danih
"Iya tante, kalo begitu Mira pamit pulang dulu, assalamualaikum." Emira berpamitan sambil menyalami punggung tangan tante Daniah.
"Waalaikumsalam, pamit sama calon suami kamu juga sayang." seru tante Daniah
"Aku pulang dulu mas, Assalamualaikum." Emira tidak memandang calon suaminya, dia hanya menghadap namun kepalanya tetap menunduk, kemudia dia berlalu saat mendengar gumaman Emir sebagai jawaban.
"ssshhhtt... Astaga bunda sakit, apa apaan sih bun." Emir mengelus tangannya yang terasa ngilu luar biasa akibat cubitan maut sang bunda. Saat ini hanya tinggal Emir dan Bunda Daniah yang ada di parkiran kafe.
"Kamu tuh sama calon istri mbok jangan dingin dingin Emir, nanti dia kabur di malam pernikahan kamu bagaimana? Bunda ngga mau kehilangan dia." Bunda memandang Emir dengan mata melotot.
"Ya biarin aja kalo gitu."
"Astaga ni anak, mau bunda jewer telinga kamu hah? biar malu sekalian ?"
Emir berlari menuju mobilnya, sebelum mendengar bundanya kembali protes.
**
"huh.. huh.. huh.. jantung gue... jantung gue.."
Kiran memegangi dadanya yang terus berdenyut, sedangkan Della menjambak rambutnya sendiri dengan kedua tangan seketika merasa pusing, penat, dan nyut nyutan bersamaan di kepalanya, saat ini mereka sudah berapa di dalam mobil.
"Gue ngga salah liat kan Dell?" tanya Kiran.
"Itu bener Emira nya kita bukan sih Ran ?" Della balik bertanya.
"Sumpah, jantung gue." Kiran masih terlihat syok
"Benerkan apa yang gue curigai, ni anak nyembunyiin sesuatu dari kita, tapi kenapa Emira ngga mau cerita hal sepenting ini ?"
"Apa dia udah ngga anggep kita sahabat ya Ran ?"
"Jangan asal ngomong tu mulut." Kiran mengeplak lengan Della.
__ADS_1
"Dia bener bener mau nikah? EMIRA MAU NIKAH KIRAAANNNN!!!! Astagaaaaa..!!!." Teriak Della dengan kencangnya.
"Berisik Dell." Kiran membekap mulut Della.
"Besok kita interogasi tu bocah, awas aja kalo masih mau nutupin ini semua."
**
SMA Tunas Harapan (06.45)
Bel tanda masuk sekolah akan berbunyi 15 menit lagi, namun masih belum ada tanda tanda Emira datang. Hari ini adalah hari pertama ujian akhir semester dua.
"Kemana sih Emira, kok masih belum dateng ya?" tanya Della dengan gelisah. Dia sudah tidak sabar ingin mencecar banyak pertanyaan untuk Emira.
"Paling bentar lagi, nah tuh dia." jawab Kiran saat melihat Emira memasuki kelasnya.
Emira mengampiri kedua sahabatnya dengan was was, pasalnya tatapan keduanya sangat menakutkan, saat sudah duduk, perlahan Emira melirik ke arah kanan, benar saja, tatapan Kiran sudah seperti ingin membunuh.
"Lo pada kenapa ya?" tanya Emira gugup sambil membenarkan tasnya.
Hening, tidak ada jawaban baik dari Della maupun dari Kiran, mereka masih membisu dengan tatapan yang semakin intens.
"Apaan sih, nakutin ih, kesurupan ya lo pada? mau ujian ini, banyak - banyak berdoa." Emira mencoba mengalihkan suasana.
"Kapan lo mau nikah ?" Tanya Della lirih tepat di depan muka Emira.
"uhkuk uhkuk uhkuk..." Emira tersedak ludahnya sendiri, dia lalu memandang kedua sabahatnya. Ya!. Tanpa ditanya dia yakin sahabatnya saat ini sudah tau apa yang terjadi, Emira merasa bersalah karena mereka tau bukan dari dirinya sendiri, tapi cepat atau lambat mereka memang harus tau.
"Maaf..." hanya kata itu yang keluar dari mulut Emira.
"Lo berhutang penjelasan sama kita." Jawab Kiran mode ngambek.
"Eh kok bagi bagi pada cemberut." sapa Andi yang ditujukan untuk ketiga cewe most wanted saat melewati mejanya. Dia baru saja masuk ke dalam kelas.
"Apaan sih ngga usah bikin heboh, masih pagi." ketus Kiran.
"Galak banget sih neng, abang jadi suka!" Goda Andi, dia lupa bahwa pacarnya saat ini sudah menunjukan gigi taringnya.
"Astaga salah ngomong beneran gue. hehe becanda sayang."
"hueekkk..." Kiran memperagakan gaya mualnya mendengan bualan Andi.
Bertepatan dengan bel tanda masuk, saat itu Arkana juga baru masuk ke Kelas, dia duduk satu meja dengan Andi dan tepat bersebrangan dengan Emira.
Guru pengawas masuk kedalam kelas membawa map berisi soal ujian yang masih tersegel, dibuka dan di bagikan langsung ke pada para muridnya. Ujian akan berlangsung selama 2 jam.
"Selamat ujian kakak ipar." bisik Arkana pada Emira dengan mencondongkan tubuhnya mendekati Emira.
__ADS_1
sontak hal itu membuat mata Emira melotot dan gugup. Sungguh dia sangat canggung menghadapi Arkana kedepannya.
** bersambung **