Istri Kecil Dr. Emir

Istri Kecil Dr. Emir
Eps. 31


__ADS_3

__Selamat Membaca__ đź’–đź’–


Perlahan tangan Arkana turun dari punggung Kiran, dia mundur beberapa langkah ke belakang dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Tante, kenapa ada disini?" Pertanyaan konyol itu terlontar begitu saja dari mulut Arkana untuk bundanya Kiran.


Bunda Daniah menepuk punggung anaknya karena gemas, dia jadi malu sendiri melihat


Arkana yang selalu saja membuatnya pusing dengan segala tingkahnya.


"Haha.. kamu itu lucu sekali." Ucap Bunda Sela melihat tingkah lucu anak kedua dari sahabatnya itu.


Tangis Kiran perlahan mulai mereda.


"Maaf." ucap Della memeluk tubuh Kiran yang masih sesekali sesegukan. Kiran hanya menganggukan kepalanya dengan wajah cemberut. Dia sebenarnya senang karena Della sebentar lagi akan ada yang menjaga.


Tapi di sisi lainnya dia juga merasa sedih, apakah dia benar-benar akan di tinggalkan sendiri ?, membayangkan itu air mata Kiran kembali keluar, namun dengan cepat gadis itu menghapusnya tanpa meninggalkan jejak.


Kiran tidak ingin karena dirinya, Della jadi membatalkan pertunangan tersebut.Terlebih dia juga sudah mengenal ka Azam. Walaupun sedikit banyak yang dia tau jika sahabat suaminya Emira itu sering gonta ganti pasangan. Tapi dia yakin, sebenarnya kak Azam orang yang baik dan dapat di percaya. Dan itu juga yang menjadi harapan Kiran dan Emira.


Ruangan ini terlihat seperti kumpulan ibu-ibu yang sedang menunggu anaknya bermain di sekolah TK. Bagaimana tidak, ke tiga wanita paruh baya itu tengah duduk di sofa yang berada di sudut ruangan, mereka tengah asik mengomentari gosip para artis yang ketahuan selingkuh, benar-benar gosip kesukaan para ibu-ibu jaman sekarang. Dan para anaknya sedang menonton drakor di 1 ranjang yang sama.


"Assalamualaikum." Sapa Emir memasuki ruang rawat istrinya.


"Waalaikumsalam." Jawab semuanya serempak.


"Mas.." Emira tersenyum bahagia saat suaminya sudah kembali entah dari mana, karena setelah dirinya terbangun  dari pingsannya tadi siang hingga sore belum juga melihat suaminya ada di sana.


Emir menyapa tante Mala dan Tante Sela, setelahnya menuju ke ranjang sang istri.


"Della, Kiran kembali ke ranjang kalian." Usir Emira.


"Aiisss si bumil." gerutu Della namun dia tetap mematuhi perintah sahabatnya itu dan di ikuti oleh Kiran.


"Minggir...!!!" Kiran mendorong tubuh Arkana yang sendang berbaring sambil bermain game di ranjang Kiran.

__ADS_1


"Ya Allah..bisa romantis dikit ngga sih ?" Gerutu Arkana sambil mengusap pantatnya yang terjatuh ke lantai, kemudian mencari ponselnya yang entah terpental kemana.


"Lagian lo udah ada ranjang sendiri, ngapain di ranjang gue." Kiran berbaring tanpa memperdulikan Arkana yang masih sibuk mengambil ponsel yang terpental ke kolong ranjang miliknya


"Kiran...tidak baik seperti itu nak." Ujar bunda Sela dari ujung sofa sana, dia melihat anaknya dengan sengaja mendorong Arkana sampai terjatuh dari atas ranjang.


"Eh, ngga papa kok tante." Ucap Arkana yang saat ini sudah duduk di bangku antara ranjang miliknya dan ranjang milik Kiran, dia melanjutkan game yang tadi sempat terjeda.


Kiran tidak menjawab ucapan bundanya, dia sudah memejamkan matanya sambil memunggungi tubuh Arkana.


Bunda Sela membuang nafasnya dengan kasar. Dia sangat heran, kenapa Kiran tidak pernah berbicara baik-baik pada Arkana, padahal anak itu terlihat baik dan sangat menyayangi Kiran.


"Sudah biarkan saja." Ucap Bunda Daniah mengusap tangan bunda Sela, karena melihat wajah sahabatnya itu sedikit kesal.


"Kasian saya tuh liat Arkana."


"Namanya juga anak muda, biarkan saja."


"Waktu itu juga saya lihat Arkana sampai hujan - hujanan di depan rumah saya, saya mau suruh masuk, tapi tidak di bolehin sama Kiran, kata Kiran  Arkana nya yang tidak mau masuk." Jelas bunda Sela merasa bersalah.


"Sayang sekali ya, padahal Arkana ganteng, kurang apa lagi dia." Bunda Sela terlihat pasrah dengan hubungan Kiran dan Arkana, biarkan saja lah, toh mereka masih sama-sama muda.


Sementara itu di ranjang yang berbeda namun masih di ruangan yang sama.


Emir membelai rambut istrinya dengan sayang dan mencium kening Emira. Emir tersenyum mengusap perut istrinya.


Sebelum ke ruangan istrinya, Emir menyempatkan untuk ke ruangan dokter Ririn, menanyakan terkait kondisi calon anaknya, beruntung kandungan Emira sangat kuat, sehingga tidak mempengaruhi janin yang ada di dalam perut istrinya. Dan Emir sangat bersyukur akan itu.


"Mas dari mana ?" Tanya Emira yang kini sudah berbaring di ranjang, dan Emir yang tengah mengupas buah jeruk untuk sang istri.


"Mas dari kantor Polisi." Jawab Emir.


"Apa mas sudah tau siapa orang yang menyuruh para penjahat itu untuk menculik ku ?"


"Hemmm.." Emir menjawab dengan berdehem.

__ADS_1


Emira menunggu kata selanjutnya dari suaminya itu, namun sudah cukup lama, Emir tetap diam dan hanya fokus untuk mengupas jeruk.


"Mas.." Panggil Emira.


Emir menyuapi Emira buah jeruk yang sudah dia kupas tadi.


"Kamu tidak perlu pikirkan hal itu, dan kamu tidak perlu khawatir, hal ini tidak akan terjadi untuk yang kedua kalinya." Terang Emir mengusap wajah Emira.


Emira mengerucutkan bibirnya, terlihat sangat imut bagi Emir, padahal sang istri sedang merajuk. Jika tidak ada orang di ruangan ini, sudah dia pastikan bibir sang istri akan habis olehnya. Dia akan memarahi David yang sudah membuat istrinya ditempatkan satu ruangan dengan teman-teman yang lainnya.


"Kenapa hatiku sangat berdebar ya." Batin David yang berada di ruangan nya, memegangi dadanya yang tiba - tiba berdebar.


"Kamu butuh sesuatu sayang ?" Tanya bunda Mala menghampiri calon menantunya yang terlihat sedang kesulitan untuk turun dari ranjang.


"Eh..  tidak Bun." Jawab Della dengan tersenyum.


"Mau ke kamar mandi ? Bunda bantu ya ?"


"Tidak perlu bun, Della bisa sendiri."  Belum sempat Bunda menjawab, pintu ruangan sudah kembali di buka. Azam masuk dengan membawa 2 kantong belanjaan penuh di kedua sisi tangannya.


"Azam." Della yang mendengar bunda Mala memanggil anaknya itu langsung menoleh ke arah pintu. Azam baru saja menaruh beberapa makanan dan buah buahan di atas meja.


"Kenapa bun? Azam mau keluar sebentar lagi kunjungan." Jawab Azam sambil menghampiri bundanya yang tengah memegang lengan gadis kecil yang sudah menjadi tunangannya.


"Kamu itu..!! sudah tau Della sakit, apa tidak bisa perhatian sedikit ?" Bunda Mala menepuk punggung Azam dengan keras.


"Bantu Della ke kamar mandi." sambung bunda Mala.


"Tidak perlu bun, kaki Della sudah tidak sakit." Ucap Della dengan cepat dan ingin berlalu dari hadapan bunda Sela.


"Ahhh..." Teriak Della karena tiba-tiba tubuhnya melayang. Della di bopong seperti karung beras oleh Azzam dengan tangan kanan nya, sedangkan tangan kirinya menyeret tiang inpus yang tinggal beberapa mili lagi akan habis.


"Ya allah Azam." Bunda Mala juga ikut terkaget saat melihat anaknya tiba-tiba membopong tubuh Della dengan seenaknya.


**Bersambung**

__ADS_1


__ADS_2