
--Selamat membaca-- 💖💖
"Mau lo ?" tanya Kiran yang menyadari sahabat nya terus menatap makanan nya, bahkan Emira belum menyentuh makanan yang ada di mejanya sama sekali.
Emira mengangguk antusias.
"Nih, jangan di abisin, gue belum kenyang." Kiran menyerahkan makanan gado-gado yang di pesan, bahkan baru di makannya dua suap ke hadapan Emira, dan Emira menerimanya dengan wajah berbinar teramat senang.
"Pelan-pelan Mir, abisin aja deh kalo gitu." Ucap Kiran yang melihat Emira seperti belum makan satu minggu.
Benar saja, gado-gado itu kini ludes hanya hitungan kurang dari dua menit, seperti belum puas, dia juga memakan habis makanan yang tadi di pesankan oleh Arkana.
Arkana dan Kiran yang melihat itu hanya melongo dan tidak bisa berkata apapun, mereka saling pandang.
'hamil nih pasti'
'iya kayanya hamil'
Begitulah batin mereka seolah saling mengetahui pertanyaan masing - masing.
"Aaahhh kenyang nya." ucap Emira sambil mengelap mulutnya setelah menghabiskan 2 porsi makan siang dan 2 jus mangga sekaligus.
'Jika tidak kenyang itu yang menjadi pertanyaan.' batin Arkana dan Kiran juga
"Mau tambah ?." Tanya Arkana menyodorkan Jus Sirsak pada Emira, dan Emira menyengir sambil mengangguk.
Bel pulang sekolah sudah berbunyi, sebelum pelajaran usai, tadi Emira sudah mengirim pesan pada Emir, bahwa dirinya ingin sekali berkunjung ke rumah sakit. Dan Emir tidak menolak itu, Emir memerintahkan sopir nya untuk menjemput Emira.
15 menit perjalanan Emira sudah sampai di depan rumah sakit Al Ghazi, bukan yang pertama kalinya Emira datang ke rumah sakit ini, namun pada saat itu, Emira tidak memperhatikan sekitar, karena fokus nya pada kesehatan nenek.
Bahkan Emira juga tidak mengetahui ruang kerja Emir. Emira merogoh handphone yang ada di dalam tasnya ingin menghubungi Emir, namun urung karena tiba-tiba Emira ingin memberikan kejutan pada Suaminya.
Emira berjalan ke tempat Resepsionis dan menanyakan ruangan Dokter Emir.
Suster jaga yang ada di sana sedikit melirik penampilan Emira, seperti mengenali namun lupa pernah melihatnya dimana ? dan ada apa anak remaja yang masih mengenakan seragam SMA nya ini mencari dokter Emir.
"Emm maaf nona, apakah sebelumnya sudah ada janji temu dengan Dokter Emir ?" tanya salah satu suster disana.
__ADS_1
"Sudah, tadi aku di suruh untuk langsung ke ruangannya, tapi aku lupa di lantai berapa karena tadi hanya lewat sambungan telepon." jawab Emira sedikit berbohong dengan senyum manisnya.
Suster jaga tersebut sedikit ragu, dan Emira menyadari hal tersebut.
Seperti ada angin baik, tiba-tiba hp Emira berbunyi dan menampilkan panggilan masuk dari Bunda Dania.
"Hallo bun"
"Kamu belum pulang sayang ?" tanya bunda
"Aku lagi di rumah sakit Bun"
"Ada apa, kenapa di rumah sakit? apa kamu sakit sayang ?"
"Tidak bunda, Aku baik - baik saja, Mas Emir menyuruh ku ke rumah sakit dan langsung memintaku untuk ke ruangannya, tapi aku lupa lantai berapa." Jawab Emira sedikit keras agar perawat yang ada di sana mendengarnya.
"Lantai 5, minta salah satu perawat mengantarmu." pinta bunda
"Baik bunda." jawab Emira, kemudian sambungan telepon yang sengaja di loudspeaker itu berakhir.
"Tidak perlu sus, cukup beritahu saja ruangan mana yang di gunakan Dokter Emir."
Setelah di jelaskan, Emira menuju Lift lantai 5 dan menuju ruangan Emir.
Emira mengetuk pintu yang di yakini itu adalah ruangan Emir, namun tidak ada balasan.
"Maaf nona, Dokter Emir sedang ada kunjungan pasien, sebentar lagi akan kembali, nona bisa menunggu di dalam".
David membuka pintu ruangan Emir dan mempersilahkan istri bos nya itu untuk masuk, setelahnya dia menutup kembali.
Sesampainya di ruangan Emir, Emira di buat kagum, karena di benaknya ruangan seorang dokter akan menyeramkan, di penuhi dengan alat alat medis, dan berbagai patung tengkorak yang menampakkan organ dalamnya.
Namun ruangan Emir justru terlihat seperti ruangan kerja biasa, luas, ada sofa panjang, ruang TV bahkan ada kamar di balik sofa sana.
Emira merasa lelah, dia menidurkan dirinya di sofa sambil memainkan hp nya, bertukar balas dengan Della dan Kiran di grup chat mereka bertiga, sampai akhirnya kantuk itu menyerang dan membawanya ke alam mimpi.
Emir yang mendapatkan kabar dari David bahwa istrinya sudah ada di ruangannya bergegas untuk menyelesaikan tugasnya, dan kembali kesana.
__ADS_1
Pintu ruangan itu terbuka, Emir masuk kedalamnya, namun dia tidak mendengar ada suara apapun di sana. Pandangan Emir langsung tertuju pada sofa yang di atasnya ada wanita seksi yang tengah tertidur, mesti pakaian Emira tertutup, tetap saja, bagi Emir istri kecilnya ini sangat seksi.
Emir mendekat, mengusap puncak kepala Emira, dan mengecup bibir Emira.
"Manis." ucap Emir.
Emira menggeliat, membuka matanya dan melihat Emir yang menatapnya intens hanya berjarak beberapa inci.
"Apa aku membangunkan mu ?" tanya Emir.
Emira menggeleng, dia meraih tengkuk Emir dan mengecup sekilas bibir Emir, kemudian tersenyum. Hal yang tidak pernah Emira lalukan sebelumnya, karena selalu Emir yang memulai dulu. namun saat ini istri kecilnya justru memulainya duluan.
Saat Emira akan terbangun, Emir mencegahnya, dia mendorong kembali tubuh Emira untuk tetap dalam posisi tiduran, bibir nya sudah di serobot Emir dengan rakus. Tangan kiri Emir berpegangan pada kepala sofa, sedang tangan kanan nya sudah menjalar ketubuh Emira.
Emir menyesaap bibir Emira, memainkan lidah nya di dalam sana, Emira terbuai, dia membalas lebih rakus dari biasanya.
Emir sedikit kaget akan perubahan istri kecilnya yang makin pintar dalam bercinta, bahkan kini Emir yang kesulitan mengimbangi Emira.
Emir menjeda ciumannya, menatap intens wajah Emira yang sudah merah madam karena malu, Emira membenamkan wajahnya pada dada bidang suaminya, dia juga tidak habis pikir, kenapa dia sangat ingin di sentuh oleh Emir.
Emir terkekeh melihat tingkah lucu istrinya, dia yakin saat ini istrinya itu sedang sangat malu, dan untuk membuang rasa malu istrinya, Emir kembali menyatukan pagutan bibir mereka, melumatt bibir bawah Emira yang membuatnya candu.
Saat pergulatan itu masih berlangsung, pintu ruangan Emir tiba-tiba terbuka.
"Astaga, mata suci gue." Azam mematung di depan sofa, menutup matanya dengan tangan yang tidak tertutup rapat, tentu saja dia masih bisa melihat dua orang yang sedang bermesraan di atas sofa sana.
Emira kaget bukan main saat melihat Dokter Azam, wajahnya kembali memerah seperti kepiting rebus, dia bersembunyi di punggung suaminya yang saat ini sudah berdiri di depan Dokter Azam.
"Cheehkk, ngga bisa ya ketok pintu dulu."Â Ucap Emir dengan sebal, benar-benar pengganggu.
"Ngga bisa ya kalo mau mesra-mesra an di rumah aja? atau paling tidak, pintu di kunci dulu." Bukannya merasa bersalah, Dokter Azam justru menjawab ucapan Emir dengan meledeknya.
Dokter Azam memiringkan kepalanya untuk melongok Emira yang ada di belakang tubuh Emir. Dia menyengir saat bertemu tatap dengan istri dari sahabat nya itu.
"Hai Emira." ucap Dokter Azam sambil berlalu ke sofa, duduk disana tanpa di persilahkan, dan Emir juga kembali mendudukan dirinya di sofa yang bersebrangan dengan Azam di ikuti oleh Emira.
**Bersambung**
__ADS_1