
--Selamat membaca--💖💖
Keesokan harinya tepat pukul 04.25 pagi, Emira terbangun, tubuhnya terasa sangat remuk dan jujur dia masih merasa sangat mengantuk, karena hanya tidur beberapa jam saja.
Cup
Cup
Cup
Ternyata Emir sudah bangun lebih dulu, mengecup punggung polos Emira yang tidak tertutup selimut.. Masih di bawah selimut yang sama, dan masih sama sama polos, tangan Emir mulai menjalar kemana mana.
Hal itu membuat mata Emira melotot, Emira membalikkan tubuhnya untuk menghadap sang suami.
Emir tersenyum, meski saat ini istri kecilnya sedang melotot ke arah nya, namun semakin membuat Emir gemas,
Emir mengikis jarak, mencium bibir istrinya tanpa aba aba.
"Sepertinya pagi adalah waktu yang baik untuk menebar benih, para petani saja jika kesawah selalu berangkat nya pagi. Ayo kita juga lakukan hal yang sama."
Emira melongo, bisa bisanya sang suami menyamakan hal tersebut dengan para petani yang sedang bercocok tanam di sawah.
Karena gemas pada Emira yang tidak merespon apapun, tangan Emir merremas dada Emira dengan sensual, bibirnya sudah melancarkan aksinya, bahkan permainan lidahnya sungguh memabukan keduanya.
"eeemmm maass." desah Emira,
Emira mendorong tubuh Emir karena kehabisan nafas,
"Bernafaslah dengan baik." ucap Emir setelah melepas ciumannya,
Padahal ini bukan ciuman pertama, namun permainan kasar nan memabukan Emir selalu tidak bisa Emira imbangi.
"Ayo kita bersih bersih dan sholat subuh dulu." Ajak Emir.
Saat Emira sudah berdiri, dan baru akan melangkahkan kakinya, tubuhnya langsung di gendong oleh Emir.
"Mas lepasin, aku mau jalan sendiri." Kesal Emira.
"Kita mandi bersama biar cepat selesai."
"Tidak!! aku duluan saja, Mas setelahnya." Debat Emira, karena tidak mau mandi bersama, yang ada dia akan kehilangan waktu subuhnya.
"Jangan berfikir negatif pada suamimu." ucap Emir.
__ADS_1
Emira mencibir dan melirik suaminya dengan tajam.
'Mana bisa tidak berfikir negatif, masih pagi saja sudah meresahkan' ucap Emira dalam hati.
Sampai di kamar mandi, mereka langsung melakukan rutinitas mandinya, dan benar saja, mandi bersama yang Emir maksud tentu saja ada bonusnya.
**
Tidak terasa waktu begitu cepat berlalu, Pernikahan Emira dan Emir sudah berjalan selama tujuh bulan, Dan kini di semester ke dua Emira lebih fokus belajar dan mengikuti berbagai les untuk Ujiannya nanti.
Walaupun dirinya merupakan siswi yang berprestasi, tapi soal ujian tidak di anggap remeh olehnya, Arkana juga kerap mengikuti les bersama dengan Emira, meskipun sering mangkir.
"Makasih mas, dan tidak ada bonus lagi !!."
Cegah Emira saat tau apa yang akan di lakukan suaminya. Emira akan membalas dendam karena membuat tubuhnya menggigil pagi pagi, dan melewatkan waktu subuhnya, sehingga harus melakukan sholat subuh sedikit terlambat.
Kegiatan pagi yang sekarang menjadi rutinitas mereka setelah bangun tidur. Emir merasa Istrinya saat ini bertambah seksi berkali kali lipat dari awal mereka bertemu.
Meskipun belum ada tanda tanda kehamilan dari Emira, karena mereka memang melakukan penundaan secara Alami mengingat istrinya saat ini masih duduk di bangku SMA.
Namun Emir kerap mencuri curi kesempatan, jika tau istrinya tidak berada di masa suburnya, dia akan menumpahkan benihnya di rahim sang istri. Selama ini Emira juga tidak melakukan KB, biarkan semua mengalir dan datang di waktu yang tepat. Pikir mereka berdua.
"Pelit sekali." Gerutu Emir.
"wah wah wah...."
Seseorang di belakang Emira bertepuk tangan. Jelas, Emira tau siapa suara itu. Dia baru saja melewati tempat parkir, untuk sampai ke kelasnya, masih perlu melewati beberapa ruangan lagi.
"Begini kelakuan siswi berprestasi di sekolah ini, ternyata selain pandai mengambil perhatian guru, dia juga pandai mengambil perhatian sugar daddy".
"Cehkk.. wajah dan pakaian nya saja yang alim, tapi di dalamnya sudah di obral kesana kemari. Menjijikan!!." Ucap Wanita itu lagi.
Emira menghentikan langkah kakinya tepat di sudut ruang kelasnya. Dia membalikan tubuhnya, menatap tajam Sisil dan kedua temannya bergantian. Tidak ada rasa takut pada diri Emira.
Menghadapi Sisil hanya butuh menggunakan Otaknya, bukan Ototnya.
"Kalian ngomongin gue ?" tanya Emira langsung.
"Memang siapa lagi di sini yang berperilaku seperti Jaalang?." Jawab Sisil
Emira tersenyum mendengarnya, dia mendekati ketiga wanita itu, dan berhenti tepat satu langkah di depan mereka.
"Gue cantik, tubuh gue juga bagus, dan yang paling penting gue pintar.!! Pintar membuat hati guru luluh dan pintar menjerat sugar daddy." Bisik Emira di depan ketiga wanita itu, dan kemudian berlalu tanpa menunggu respon mereka.
__ADS_1
Sisil, Siska dan Ayu berdecak sambil mengepalkan tangannya, mereka selalu sulit untuk menjatuhkan Emira. Bagaimana bisa gadis biasa seperti Emira tidak punya rasa takut.
"Dia ngga cuma kecentilan sama Anggasta, tapi gue liat tu anak juga deket sama Arkana." Ucap Siska
"Menjijikan."Ayu menimpali
"Kalo gue ngga bisa balikan sama Anggasta, gue bakal dapetin Arkana. Gue denger bokapnya pemilik Rumah sakit Al Ghazi, kalian tau kan rumah sakit itu adalah rumah sakit terbesar di kota ini.
Kini Sisil sudah punya misi baru dalam hidupnya.
Bughh
Sesampainya di kelas, Emira membanting tasnya tepat di atas meja, hal itu membuat sedikit perhatian teman teman kelasnya berfokus pada dirinya.
"Astagfirullah, ni anak dateng - dateng bikin gaduh aja."Â Handphone Arkana sampai terjatuh.
Arkana yang sedang bermain game dengan andi terlonjak kaget karena kelakuan Emira.
Emira mendelik, dan Arkana hanya meresponnya dengan menyengir. Dia tau, akhir akhir ini Emira sering baper tidak jelas di rumah.
'Kan kan mulai lagi nih pasti, yakin sih gue ni akan hamil.'Â batin Arkana.
"Kenapa sih lo, baru juga dateng udah marah - marah." Kiran bertanya pada sahabatnya yang saat ini sudah meletakkan kepalanya di meja.
"Berantem, sama suami lo?." bisik Kiran lagi.
"Chehhk. sumpah demi apapun, gue benci banget sama Sisil dan kedua cecurutnya itu." Gerutu Emira, mungkin tadi Emira bisa menahan emosinya karena tidak ingin terpancing oleh bualan Sisil, namun saat ini, dia merasa emosinya sudah di ubun - ubun.
Hufftt.. Emira mengatur nafasnya yang memburu. Selalu pagi - pagi seperti ini Sisil mengganggu dirinya, membuat moodnya jadi jelek saja.
Sedang kan di Rumah sakit, Emir yang baru akan sampai di ruangannya berhenti sejenak, saat dia melihat sang sahabat sedang menenangkan gadis remaja yang menangis histeris.
Emir mendekat untuk melihat apa yang di lakukan Azam di ujung lorong sana, bersama dengan gadis remaja yang menggunakan pakai seragam.
'tunggu, itu kan seragam sekolah Emira.' dahi Emir berkerut, jangan - jangan sahabatnya ini telah melecehkan anak remaja itu, dan yang membuat Emir kaget sekaligus takut, karena remaja tersebut adalah sahabat istrinya.
Saat sudah sampai di depan mereka, Emir masih belum bertanya apa yang sebenarnya terjadi.
"Pokoknya kakak harus tanggung jawab, aku ngga mau tau."Â Teriak gadis itu histeris.
Emir melotot pada Azam, dan Azam yang baru mengetahui jika Emir sudah berada di dekat nya bertambah pusing, pasti sahabat nya itu tengah berfikir yang tidak tidak. Azam meraup wajahnya frustasi.
Azam menggeleng, tidak membenarkan isi kepala Emir.
__ADS_1
**Bersambung**